sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Wisata virtual demi selamatkan pariwisata yang tersengal-sengal

Tren wisata virtual masih terhambat koneksi internet.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Jumat, 09 Jul 2021 13:11 WIB
Wisata virtual demi selamatkan pariwisata yang tersengal-sengal

Sektor pariwisata sudah terpukul sejak pandemi melanda di awal Maret 2020. Kebijakan pembatasan sosial dan kampanye #dirumahsaja membuat hampir semua lokasi wisata dan fasilitas pendukungnya nyaris gulung tikar. 

Setelah lebih dari setahun, pagebluk tak kunjung menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Sebaliknya, belakangan kasus positif Covid-19 di Tanah Air justru semakin menggila.

Menteri Pariwisata Sandiaga Salahuddin Uno pun kembali menutup tempat-tempat wisata, yang sebelumnya sudah diperbolehkan buka meski dibatasi. Langkah ini membuat nafas industri pariwisata kian tersengal-sengal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Mei 2021 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia hanya sebanyak 155,6 ribu kunjungan. Selain wisman, penurunan terjadi pula pada kunjungan wisatawan domestik.

Seperti di Manado, sebelum pandemi, tepatnya di tahun 2019 jumlah kunjungan pelancong dari dalam negeri bisa mencapai 1,33 juta orang. Sedangkan pada tahun lalu, jumlah pengunjung lokal tergerus hanya tinggal 447 ribu orang.

"Sekarang pengunjung hanya tinggal yang dari dekat saja. Kunjungan dari luar daerah turun karena ada PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat," kata Kepala Dinas Kota Manado, kepada Alinea.id, Rabu (7/7).

Wisata dengan teknologi

Terpukulnya sektor pariwisata ternyata memantik ide kalangan milenial untuk tetap memajukan pariwisata lokal. Tanpa perlu keluar rumah, masyarakat bisa menghilangkan kejenuhan akibat pandemi dengan wisata virtual. Salah satunya adalah Jakarta Good Guide (JGG) yang menyediakan pengalaman wisata dengan mode VR (Virtual Reality) sejak pandemi merebak di ibu kota. 

Sponsored

Awalnya, JGG merupakan salah satu pramuwisata yang cukup dikenal dengan tur jalan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat wisata hingga lokasi bersejarah di Jakarta. Sayangnya, mulai pertengahan Maret, banyak pelanggan yang membatalkan agenda tur tersebut karena kasus positif Covid-19 yang kian melonjak.

Maraknya pembatalan tur membuat founder JGG Farid Mardhiyanto, putar otak dan banting setir menawarkan tur keliling Jakarta dengan mode VR.

“Peminatnya Alhamdulillah banyak. Karena kan ini (virtual tour) gampang diakses. Jadi yang dari luar Jakarta bahkan luar negeri bisa ikut tur," ujarnya, kepada Alinea.id, Senin (5/7).

Meski lebih mudah diakses untuk konsumen, bagi agen pariwisata layanan wisata virtual nyatanya jauh lebih menantang ketimbang wisata konvensional. Karena, tidak semua pramuwisata mampu dan memiliki keinginan untuk memandu tur dalam dunia maya.

Selain itu, Farid mengakui, rutinitas pramuwisata yang sebelumnya hanya memandu tur secara langsung, membuat kebanyakan dari mereka gaptek atau gagap teknologi.

"Banyak tour guide kita yang kagok, ya karena gaptek, karena sebelumnya pegang laptop atau komputer cuma buat ngetik," kata dia sambil berkelakar.

Sementara itu, menurut Farid, tur virtual sebenarnya tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan tur jalan kaki. Sebab, dengan wisata virtual akan lebih banyak rute yang bisa dipilih oleh peserta tur.

Dalam tur konvensional peserta hanya bisa melakukan penjelajahan pada tempat bersejarah yang berada dalam satu lokasi. Namun dengan tur VR, peserta dapat 'melangkahkan' kakinya lebih jauh sampai ke pelosok-pelosok Jakarta. Bahkan JGG sudah memulai tur virtual hingga luar negeri.

“Kita sempat juga bikin tour virtual ke Paris, Roma, terus ternyata rame yang ikut. Jadi kita berencana akan mengadakan lagi tur yang ke luar negeri ini,” tuturnya.

Menariknya lagi, agen wisata yang telah berdiri sejak 2014 ini sama sekali tidak mematok harga untuk tur yang mereka adakan. Peserta yang mengikuti tur dapat membayar berapa pun sesuai dengan kepuasan masing-masing. Hal ini berlaku baik tur virtual maupun konvensional. 

“Sistem kita itu pay as you wish. Kita tidak menetapkan harga,” kata Farid.

Agen wisata lain yang menyediakan virtual tour adalah Atourin. Berbeda dengan JGG yang berfokus pada eksplorasi wisata di sekitar Jakarta, Atourin menawarkan perjalanan lebih jauh lagi, yakni ke 34 provinsi di seluruh Indonesia. 

CEO Atourin Benarivo Triadi Putra bercerita, tur virtual yang dijalankan Atourin hingga saat ini berawal dari keresahannya setelah industri pariwisata mati suri akibat Coronavirus. 

"Mereka enggak ada pekerjaan. Kami berpikir bagaimana ya untuk membantu mereka?" kata Benarivo kepada Alinea.id, Selasa (29/6).

Dari keresahan itu, Atourin yang dijalankan Rivo, sapaan Benarivo, bersama empat anggota timnya berinsiatif untuk membuat tur virtual. Namun sebelumnya, mereka terlebih dulu membuka pelatihan secara virtual bagi para pemandu wisata. 

"Kami membantu mereka untuk membuat tur dengan memanfaatkan google map, street view, dan lainnya. Kami juga melayani pendampingan saat mereka menggunakan aplikasi Zoom," ujar alumni Teknik Informatika Universitas Padjadjaran pada tahun 2017 itu.

Tidak hanya itu, Atourin juga memfasilitasi pemandu wisata yang ingin melakukan promosi untuk wisata virtual. Kerja sama di tahap ini dibuat dengan bagi hasil yang berujung pada simbiosis mutualisme.

"Kita dapat hasil dari kerja sama sama pemandu wisata dan mitra. Terus peserta wisata virtual juga senang bisa dapat pemandu dari daerah asal," jelas laki-laki 26 tahun itu.

Dihubungi terpisah, Event Manager dan Virtual Tour Operator Atourin Ida Bagus Oka Agestia menjelaskan, untuk mengembangkan bisnis virtual tour di Indonesia, Atourin tidak bekerja sendiri, melainkan kerja sama dengan agen penyedia wisata lain dan juga pemerintah. 

Oka bilang, tahun lalu pihaknya bekerja sama dengan platform perjalanan Traveloka dan juga Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk memberikan pelatihan pada para pramuwisata yang ingin menjalankan wisata virtualnya sendiri.

Baru-baru ini, Atourin digandeng oleh Kementerian Desa, Pengembangan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) untuk mengajarkan bagaimana cara membuat tur virtual pada desa-desa wisata di seluruh wilayah Indonesia. 

"Mereka bisa menawarkan tur kepada orang-orang yang mungkin sudah bosan di rumah terus dan enggak bisa wisata," ujar dia, kepada Alinea.id, Kamis (8/7).

Tidak sebanding

Di sisi lain, Oka mengakui wisata virtual tidak akan bisa dibandingkan dengan wisata yang sesungguhnya. Karena saat wisata sesungguhnya, wisatawan akan dapat merasakan secara langsung suasana, udara, hingga makanan khas yang ada di lokasi wisata. 

Beda halnya dengan wisata virtual. Peserta tur hanya akan disuguhi dengan gambar atau video dari lokasi wisata. Meski begitu, setidaknya wisata virtual dapat mengobati sedikit keinginan masyarakat untuk melancong selama pandemi.

"Biasanya tuh nanti kalau mereka bisa wisata beneran, mereka akan pakai jasa pramuwisata yang memandu dia waktu ikut virtual tour," ujarnya.

Pernyataan Oka itu, lantas diamini oleh salah seorang peserta virtual tour yang diadakan oleh Jakarta Good Guide, Desi. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai bank BRI di Semarang itu bilang, dirinya sebelumnya telah merencanakan untuk berlibur ke Jakarta pada akhir tahun lalu. 

Namun, niat itu batal karena tingginya kasus positif Covid-19 di ibu kota. Ia pun mencari alternatif lain yakni dengan wisata virtual. 

"Lumayan lah bisa ngobatin dan nambah pengetahuan, karena berbagai informasi baru yang dijelasin sama tour guide-nya," jelas dia, kepada Alinea.id, Rabu (30/6).

Di disi lain, biaya yang dikeluarkan untuk sekali virtual tour pun sangat terjangkau dan jauh lebih murah dibanding dia harus datang langsung ke Jakarta. "Waktu itu aku cuma bayar Rp50.000 untuk tur 2 jam keliling jakarta," katanya, saat dihubungi melalui pesan singkat.

Membantu pramuwisata

Pada kesempatan lain, pendiri Wisata Kreatif Jakarta Ira Lathief menjelaskan, saat pandemi, tak hanya pemasukan agen-agen dan juga objek wisata saja yang tergerus, melainkan juga para pemandu wisata. Karenanya, tur virtual diharapkan keikutsertaan para peserta tur dengan mode VR ini bisa sedikit mengisi kantong para pekerja informal di sektor wisata itu.

Dia merinci, ada tiga kategori wisata virtual yang ia garap, yakni lingkup Jabodetabek, lingkup Indonesia, dan wisata mancanegara. Untuk wisata virtual lingkup Jabodetabek, ia mematok harga tiket sebesar Rp25.000, untuk Indonesia Rp35.000, dan untuk wisata luar negeri Rp50.000

“Wisata virtual ini bersifat alternatif, khususnya bagi para tour guide yang sepi job sejak pandemi," katanya saat dihubungi Alinea.id, melalui saluran telepon, Selasa (6/7). 

Di saat yang sama, inisiatif yang dilakukan komunitas pemandu wisata, seperti Wisata Kreatif Jakarta hingga pengelola agen perjalanan wisata terkait tur virtual juga berpotensi menghasilkan pemasukan bagi berbagai destinasi di Indonesia. Sebab, saat menggelar tur virtual, tidak menutup kemungkinan para agen wisata atau pramuwisata melakukan kerja sama dengan pengelola destinasi wisata.

Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.

Hal ini diamini juga oleh Pengamat Pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman Chusmeru. Dia menjelaskan pengelola wisata virtual ataupun travel agent yang mengadakan tur online bisa bekerja sama dengan pengelola destinasi wisata.

“Karena para agen perjalanan tersebut juga menjual paket wisata itu, maka seharusnya mereka juga memberi kontribusi kepada destinasi wisata,” jelasnya, kepada Alinea.id, Minggu (4/7).

Bahkan, jika pandemi telah berakhir nanti, wisata virtual bisa dijadikan objek untuk mendapat penghasilan tambahan industri pariwisata. Ia meyakini bukan tidak mungkin wisata virtual ini tetap berlangsung sekalipun tidak menjadi pilihan utama.

Namun, terlepas dari itu, nyatanya virtual tour masih mempunyai beberapa tantangan, salah satunya sinyal internet. Menurut Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Ashari, wisata virtual akan sulit berkembang jika infrastruktur jaringan internet tak juga diperbaiki dan diratakan. 

Ilustrasi Pexels.com

Sebab, sampai saat ini sinyal bagus hanya bagus saat di perkotaan saja, sedangkan di pelosok desa, cenderung tidak ada atau sulit sinyal internet.

Padahal, tidak sedikit destinasi wisata yang terletak di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal). Dan sudah menjadi tugas agen-agen wisata untuk mengeksplor wisata di daerah 3T, sekalipun dengan virtual tour. 

"Nanti ketika dia sedang ikut virtual tour dan sinyalnya jelek kan jadi enggak menikmati," jelasnya kepada Alinea.id, Sabtu (3/7).

Tantangan selanjutnya adalah tidak adanya regulasi yang mengatur wisata virtual. Seperti regulasi yang mengatur pajak yang harus dikeluarkan oleh penyedia jasa wisata virtual dan aturan lainnya. 

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif RI Agustini Rahayu menjelaskan, saat ini wisata virtual memang menjadi satu-satunya cara bagi para pelaku industri pariwisata untuk bertahan dari tekanan pandemi. 

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah juga tengah berupaya mempercepat pencairan Dana Hibah Pariwisata yang tahun ini jumlahnya ditingkatkan dan cakupan penerimanya diperluas. 

"Kami sudah bekerja sama dengan biro-biro perjalanan dan pariwisata. Saat ini kira-kira sudah ada sekitar 30 agen wisata yang juga menyediakan wisata virtual," katanya kepada Alinea.id, Kamis (8/7).

Berita Lainnya