sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kota-kota di Asia hadapi tantangan pangan yang semakin meningkat

Tanpa perencanaan yang inklusif, berkelanjutan, dan peka terhadap gizi maka isu kekurangan gizi tidak akan mencapai solusi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 02 Nov 2018 16:39 WIB
Kota-kota di Asia hadapi tantangan pangan yang semakin meningkat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Ratusan juta anak-anak dan orang dewasa di kota-kota di Asia yang berkembang pesat mengalami kekurangan gizi. Mereka akan tetap dalam kondisi demikian tanpa perencanaan yang inklusif, berkelanjutan, dan peka terhadap gizi. Hal tersebut disampaikan oleh pejabat PBB pada Jumat (2/11).

Wilayah Asia Pasifik memiliki tingkat urbanisasi tertinggi di dunia. Kawasan yang sama juga menjadi rumah bagi lebih dari separuh dari 821 juta orang yang kekurangan gizi di dunia. Demikian laporan empat badan PBB yang dirilis di Bangkok.

"Kemajuan dalam mengurangi kekurangan gizi telah sangat melambat," ungkap kepala regional Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Dana Anak-Anak (UNICEF), Program Pangan Dunia (WFP), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Ketika migrasi dari pedesaan ke perkotaan terus berlanjut, terutama yang melibatkan keluarga miskin, kekurangan gizi di perkotaan merupakan tantangan yang dihadapi banyak negara," kata mereka.

Garam, lemak, gula

Fenomena kelaparan di dunia meningkat pada 2017, selama tiga tahun berturut-turut, karena konflik dan perubahan iklim. Kondisi tersebut membahayakan tujuan global untuk mengakhiri bencana tersebut pada 2030, ungkap PBB dalam laporan sebelumnya. 

Pada saat yang sama, lebih dari satu dari delapan orang dewasa sekarang mengalami obesitas, dengan wilayah Asia-Pasifik mencatat prevalensi obesitas anak yang paling cepat berkembang. Itu karena orang-orang makan lebih banyak makanan olahan dengan tingkat garam, lemak dan gula yang tinggi.

China dan India, negara-negara paling padat di dunia, diperkirakan akan mencapai lebih dari seperempat dari proyeksi pertumbuhan populasi perkotaan global pada 2050, dengan sekitar 690 juta lebih orang pindah ke kota.

Sponsored

Secara historis, urbanisasi telah dilihat sebagai tanda transformasi sosial dan ekonomi, terkait dengan standar hidup yang lebih tinggi, termasuk kesehatan dan gizi yang lebih baik.

"Namun, jika tidak dikelola dengan baik, urbanisasi yang cepat juga dapat menyebabkan sistem makanan yang disfungsional, mengakibatkan kekurangan gizi dan kegemukan terjadi di dalam kota yang sama atau bahkan rumah tangga yang sama," kata laporan tersebut.

Pertumbuhan di daerah kumuh

Tantangan ini diperparah oleh kondisi hidup yang buruk. Sekitar sepertiga dari penduduk perkotaan tersebut tinggal di daerah kumuh dengan akses terbatas ke tunjangan kesejahteraan atau jaring pengaman, yang memengaruhi ketahanan pangan, nutrisi, dan mata pencaharian mereka.

Kebijakan pangan perkotaan di wilayah tersebut harus mempertimbangkan transportasi, infrastruktur, perumahan, pendidikan, dan air dan sanitasi untuk dampak yang lebih besar, sebut laporan PPB tersebut.

"Perencana kota harus menjadi mitra gizi baru," katanya. "Dunia tidak dapat memenuhi target 2030 nol kelaparan jika Asia dan Pasifik tidak memimpin. Rasa urgensi tidak bisa dilebih-lebihkan."
 

Berita Lainnya