sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

12 MoU diteken dalam kunjungan Putra Mahkota UEA ke Indonesia

Dari 12 MoU itu, sembilan di antaranya kerja sama antar pemerintah dan tiga lainnya business to business.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 25 Jul 2019 10:24 WIB
12 MoU diteken dalam kunjungan Putra Mahkota UEA ke Indonesia

Sebanyak 12 kesepakatan kerja sama ditandatangani dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/7) siang.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan, kesembilan MoU yang dilakukan antar pemerintah adalah MoU Peningkatan Perlindungan Investasi, MoU Penghindaran Pajak Berganda, MoU Industri, MoU Kepabeanan, MoU Pariwisata, MoU Kelautan dan Perikanan, MoU Pertahanan, MoU Kekonsuleran dan MoU Kebudayaan.

Selain itu, lanjut Menlu Retno, ada tiga MoU business to business yang ditandatangani, yaitu antara Pertamina dan Adnoc untuk pengembangan RDMP Balikpapan, Integrated Supply Chain, LNG Storage. Kemudian yang kedua antara PT Chandra Asri dan Mubadala untuk proyek new napta cracker dan petrochemical complex.

"Yang ketiga adalah antara PT Maspion Indonesia dengan DP World Asia mengenai pengembangan terminal peti kemas dan kawasan di Jawa Timur," kata Menlu Retno kepada wartawan usai mendampingi Presiden Jokowi menerima Syekh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan seperti dikutip dari laman setkab.go.id, Kamis (25/7).

Menurut Menlu Retno, Presiden Jokowi bersama dengan Syekh Mohamed berdiskusi mengenai proyek-proyek yang dapat dilakukan bersama. "Jadi, yang tiga tadi kan yang sudah ditandatangani, saat ini ada beberapa yang sedang dibahas tetapi sudah bicara mengenai kerja sama yang ke depannya."

Menlu Retno mengingatkan, bahwa Uni Emirat Arab memiliki sovereign wealth fund atau dana investasi negara yang besar, sekitar US$1,3 triliun. Potensi-potensi seperti inilah, lanjut Menlu Retno, yang ingin kita kerja samakan dengan Uni Emirat Arab.

"Jadi, saya kira ini adalah selain kunjungan yang sangat bersejarah, ini juga kunjungan yang sangat straight forward, konkret, detail bicara mengenai masalah ekonomi bicara mengenai masalah keumatan," ungkap Menlu Retno.

Kunjungan bersejarah

Sponsored

Sebelumnya, Menlu Retno Marsudi mengemukakan, kunjungan Syekh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan ini adalah kunjungan yang sangat bersejarah karena merupakan kunjungan kenegaraan yang pertama setelah 29 tahun. Kunjungan yang terakhir ke Indonesia dilakukan oleh ayah Sheikh Mohamed.

"Jadi beliau sangat senang bisa kembali ke Indonesia, dan juga selain dari sisi kenegaraan, ini juga pertemuan antara dua sahabat dekat. Bapak presiden dengan Syekh Mohamed memiliki hubungan yang sangat dekat, istilahnya click very much, jadi sudah ngeklik begitu kalau kita bilang," kata Retno.

Menlu Retno juga menyebutkan, pertemuan dengan Syekh Mohamed adalah salah satu pertemuan yang terpanjang yang pernah dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan tamu dari negara lain. Perbincangan dalam perjalanan dari bandara sekitar kurang lebih 1,5 jam, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan di teras Istana Kepresidenan Bogor kurang lebih dari 1 jam. 

"Jadi total more than 2,5 jam," imbuhnya. 

Berita Lainnya