logo alinea.id logo alinea.id

Arab Saudi klaim dua tanker minyaknya disabotase

Serangan terhadap dua tanker itu terjadi di lepas pantai kota pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, pada Minggu pukul 06.00 waktu setempat.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 13 Mei 2019 13:21 WIB
Arab Saudi klaim dua tanker minyaknya disabotase

Arab Saudi pada Senin (13/5) mengklaim dua tanker minyaknya disabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab. Serangan itu telah menyebabkan kerusakan signifikan pada kapal-kapal tersebut.

Pernyataan Menteri Energi, Industri, dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan, salah satu kapal tersebut sedang dalam perjalanan untuk mengangkut minyak dari Arab Saudi ke Amerika Serikat.

Terdapat empat kapal di lepas pantai kota pelabuhan Fujairah yang dilaporkan disabotase pada Minggu (12/5). Pejabat Uni Emirat Arab menolak untuk menjelaskan sifat sabotase atau mengatakan siapa yang mungkin bertanggung jawab.

Ketegangan telah meningkat sejak Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir 2015 yang diteken Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China dan Rusia ditambah Jerman atau disebut pula kelompok P5+1.

Tidak sampai di situ, AS juga mengembalikan sanksi yang sebelumnya telah dicabut, mendorong ekonomi Iran ke dalam krisis.

Pekan lalu, Iran memperingatkan akan mulai memperkaya uranium pada tingkat yang lebih tinggi dalam 60 hari jika pihak-pihak terkait gagal menegosiasikan persyaratan baru bagi kesepakatan tersebut.

Dalam pernyataannya, al-Falih mengatakan serangan terhadap dua tanker itu terjadi di lepas pantai kota pelabuhan Fujairah pada Minggu pukul 06.00 waktu setempat.

"Salah satu dari dua kapal sedang dalam perjalanan untuk dimuat dengan minyak mentah Arab Saudi dari Pelabuhan Ras Tanura, untuk dikirim ke pelanggan Saudi Aramco di AS," kata al-Falih. "Untungnya, serangan itu tidak menyebabkan korban atau tumpahan minyak. Namun, itu menyebabkan kerusakan signifikan pada struktur kedua kapal."

Sponsored

Arab Saudi tidak mengidentifikasi kapal yang terlibat sabotase, juga tidak mengatakan siapa yang dicurigai melakukannya.

Menggarisbawahi risiko regional, Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk menggambarkan dugaan sabotase sebagai eskalasi serius.

"Tindakan tidak bertanggung jawab seperti itu akan meningkatkan ketegangan dan konflik di wilayah itu dan membuat rakyat menghadapi bahaya besar," sebut Abdullatif bin Rashid al-Zayani.

Pemerintah Bahrain, Mesir dan Yaman juga mengecam dugaan sabotase itu.

Pernyataan yang dirilis pada Minggu oleh Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab menyebutkan bahwa penyelidikan tengah dilakukan lewat kerja sama dengan badan-badan lokal dan internasional. Disampaikan pula tidak ada cedera atau kematian di kapal serta tidak ada tumpahan bahan kimia atau bahan bakar berbahaya.

Fujairah berjarak sekitar 140 km di selatan Selat Hormuz, mulut sempit dari Teluk Persia di mana sepertiga dari seluruh minyak yang diperdagangkan melalui laut melintas. Pelabuhan Fujairah dilihat sebagai lokasi yang strategis, melayani rute pengiriman di Teluk Persia, anak benua India dan Afrika.

Insiden pada Minggu terjadi setelah Administrasi Maritim AS, sebuah divisi dari Kementerian Transportasi AS, pada Kamis memperingatkan bahwa Iran dapat menargetkan lalu lintas laut komersial.

"Sejak awal Mei, ada kemungkinan peningkatan bahwa Iran dan atau proksi regionalnya dapat mengambil tindakan terhadap kepentingan AS dan mitra, termasuk infrastruktur produksi minyak, setelah baru-baru ini mengancam akan menutup Selat Hormuz," demikian bunyi peringatan tersebut. "Iran atau proksinya dapat merespons dengan menargetkan kapal komersial, termasuk kapal tanker minyak, atau kapal militer AS di Laut Merah, Selat Bab-el-Mandeb atau Teluk Persia."

Minggu pagi, badan itu mengeluarkan peringatan baru kepada para pelaut tentang dugaan sabotase, sambil menekankan "insiden itu belum dikonfirmasi." Mereka mengimbau agarĀ kapal-kapal yang melintasi daerah itu minggu depanĀ berhati-hati.

Masih belum jelas apakah peringatan dari Administrasi Maritim AS adalah ancaman yang sama yang mendorong Gedung Putih untuk memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan gugus bom B-52 ke wilayah tersebut pada 4 Mei. (AP)