logo alinea.id logo alinea.id

Gabon alami kudeta militer gagal

Beberapa jam pasca-kudeta, juru bicara pemerintah Gabon Guy-Bertrand Mapangou mengatakan situasinya kini terkendali.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 07 Jan 2019 19:08 WIB
Gabon alami kudeta militer gagal

Sekelompok tentara berusaha untuk mengambil alih kekuasaan di Gabon pada Senin (7/1), ketika presiden negara itu tengah sakit di luar negeri. Namun, pemerintah mengklaim bahwa kudeta gagal dan pemberontak telah ditangkap.

Sejumlah tentara dilaporkan menyerbu radio negara pada saat fajar dan menyerukan publik untuk "bangkit" setelah Presiden Ali Bongo (59) menderita strok tahun lalu ketika tengah berada di luar negeri.

Tembakan disebut terdengar di sekitar kantor pusat penyiaran negara di Libreville, ibu kota negara Afrika Barat yang kaya minyak, pada waktu nyaris bersamaan dengan pesan yang dibacakan para pemberontak pada pukul 06.30 waktu setempat.

Namun, dalam beberapa jam, juru bicara pemerintah Guy-Bertrand Mapangou mengatakan, "Ketenangan telah kembali, situasinya terkendali."

Menurut Mapangou, dari lima yang memasuki stasiun radio, empat telah ditangkap dan satu dalam pelarian.

"Pasukan keamanan telah dikerahkan di ibu kota dan akan tetap berada di sana selama beberapa hari mendatang untuk menjaga ketertiban," papar Mapangou lebih lanjut.

Mapangou menambahkan bahwa tembakan yang terdengar adalah untuk mengendalikan kerumunan.

Perkembangan dramatis ini terjadi ketika Presiden Bongo memilih tinggal di kediaman pribadinya di ibu kota Maroko, Rabat, setelah menderita strok. Dia tampil berpidato di televisi pada Malam Tahun Baru, namun belum menginjakkan kaki kembali di negaranya sejak Oktober lalu.

Presiden Bongo jatuh sakit pada 24 Oktober saat tengah berada di Arab Saudi.

Atas keabsenan Bongo, Mahkamah Konstitusi mengalihkan sebagian kekuasaan presiden kepada perdana menteri dan wakil presiden.

Transisi demokrasi

Sebuah pesan dibacakan di radio pemerintah oleh seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai Letnan Ondo Obiang Kelly, wakil komandan Pengawal Republik dan ketua the Patriotic Youth Movement of the Gabonese Defence and Security Forces (MPJFDS).

Dia mengumumkan akan membentuk dewan restorasi nasional untuk menjamin transisi demokratis bagi rakyat Gabon.

Gerakan itu menyerukan agar seluruh generasi muda berlatar instansi pertahanan dan keamanan serta masyarakat awam untuk bergabung dengan mereka.

"Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba ketika tentara memutuskan untuk menempatkan dirinya di pihak rakyat demi menyelamatkan Gabon dari kekacauan," ungkap seorang pemberontak.

Para pemberontak meminta rakyat Gabon untuk menduduki bangunan-bangunan publik dan bandara di seluruh negeri.

Pada 31 Desember, Bongo pertama kalinya berbicara kepada publik Gabon sejak dirinya jatuh sakit. Dia mengatakan dalam pidatonya yang direkam dari Maroko bahwa dirinya telah melalui masa yang sulit.

"Pidato itu memalukan untuk negara (yang) telah kehilangan martabatnya," kata perwira pemberontak itu.

Keluarga Bongo telah memerintah negara Afrika khatulistiwa selama lima dekade. Bongo mengambil alih dari ayahnya Omar, yang menjabat sejak 1967 dan mendapatkan reputasi seorang kleptokrat, salah satu pria terkaya di dunia dengan pendapatan yang berasal dari kekayaan minyak Gabon.

Bongo terpilih sebagai kepala negara setelah kematian ayahnya pada 2009. Dia terpilih kembali pada 2016 setelah pemilihan presiden yang dirusak oleh kekerasan mematikan dan tuduhan penipuan.

Uni Afrika mengatakan pihaknya sangat mengecam upaya kudeta dan menegaskan kembali penolakan total terhadap semua perubahan kekuasaan yang tidak konstitusional. (AFP)