sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gesekan baru dalam hubungan Jepang-Korea Selatan

Jepang dan Korea Selatan dinilai memiliki ikatan yang rapuh menyusul sejarah pendudukan 1910-1945.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 25 Nov 2019 15:01 WIB
Gesekan baru dalam hubungan Jepang-Korea Selatan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 271339
Dirawat 61628
Meninggal 10308
Sembuh 199403

Jepang dan Korea Selatan kembali tegang pada Senin (25/11), setelah setuju untuk melanjutkan pakta berbagi intelijen (GSOMIA). Itu menyoroti ikatan rapuh antara mantan musuh sekaligus sekutu utama Amerika Serikat di Asia.

Para pejabat Gedung Biru pada Minggu (24/11) mengatakan, mereka memprotes dan telah menerima permintaan maaf atas pernyataan Kementerian Perdagangan Jepang yang menyebut bahwa Tokyo akan terus meningkatkan penyaringan pada ekspor tiga material inti yang digunakan dalam semikonduktor. Menurut Seoul itu sangat berbeda dengan apa yang telah mereka sepakati.

Pada Senin, Gedung Biru dengan merujuk pada laporan surat kabar Yomiuri mempersoalkan pernyataan seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang yang menyebutkan adalah tidak benar bahwa mereka meminta maaf.

"Kami klarifikasi sekali lagi, kami telah mengeluh dan Jepang minta maaf," kata sekretaris pers senior Yoon Do-han. 

Kurang dari dua jam kemudian, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menentang pernyataan Yoon. Dia mengatakan bahwa pembatasan ekspor sama sekali tidak terkait dengan GSOMIA.

"Tidak produktif mengomentari setiap pernyataan Korea Selatan, tetapi tidak benar bahwa pemerintah Jepang telah meminta maaf," kata Yoshihide.

Korea Selatan pada menit-menit terakhir memutuskan untuk mempertahankan GSOMIA sebelum pakta tersebut kedaluwarsa pada Sabtu (23/11). Keputusan Seoul dinilai dramatis di tengah perselisihan yang dipicu persoalan sejarah.

GSOMIA merupakan simbol utama kerja sama keamanan antara Seoul-Tokyo dan kemitraan trilateral dengan AS.

Sponsored

Jepang mengatakan, Korea Selatan telah membuat keputusan strategis dengan mempertahankan GSOMIA. Tokyo berharap dapat mengadakan pembicaraan perdagangan, meski mereka mengakui tidak akan segera mengembalikan Seoul dalam daftar mitra dagang tepercaya mereka.

Perselisihan Tokyo-Seoul berakar pada ketidaksepakatan mengenai kompensasi bagi warga Korea Selatan yang menjadi pekerja paksa semasa pendudukan Jepang 1910-1945. Setelah Mahkamah Agung Korea Selatan memerintahkan pemberian kompensasi pada tahun lalu, sejumlah mantan pekerja paksa berusaha untuk merebut aset lokal perusahaan Jepang, dan Tokyo pun memberlakukan kontrol ekspor.

Otoritas perdagangan Korea Selatan dan Jepang diperkirakan akan bertemu pada awal pekan ini. Ada pun menteri luar negeri kedua negara pada Sabtu, sepakat untuk mengatur KTT antara Presiden Moon Jae-in dan Perdana Menteri Shinzo Abe di sela-sela pertemuan trilateral dengan China bulan depan.

Moon dan Abe belum pernah berbicara secara formal selama lebih dari setahun. Keduanya hanya mengobrol singkat selama 11 menit di sela-sela KTT ASEAN di Thailand pada awal bulan ini.

Seorang pejabat senior Gedung Biru pada Minggu menyatakan sangat kecewa dengan laporan surat kabar Asahi, yang mengutip pernyataan PM Abe bahwa tidak mengalami kebobolan apa pun dan Korea Selatan hanya menyerah pada tekanan AS yang sangat kuat.

"Saya ingin tahu apakah pemimpin Jepang menggunakan hati nuraninya ketika melontarkan pernyataan seperti itu," ujar pejabat yang berbicara dengan syarat anonim tersebut.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya
×
img