sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

India larang ekspor hidroksiklorokuin, Trump beri peringatan

Dengan lebih dari 367.000, AS mencatat kasus positif Covid-19 terbanyak di dunia, posisi yang semula ditempati Italia dan China.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 07 Apr 2020 13:47 WIB
India larang ekspor hidroksiklorokuin, Trump beri peringatan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (6/4) memperingatkan India tentang pembalasan menyusul keputusan negara itu untuk melarang ekspor hidroksiklorokuin, obat antimalaria yang tengah diuji sebagai pengobatan yang mungkin bagi pasien Covid-19.

"Saya berbicara dengannya (PM India Narendra Modi) pada Minggu pagi dan mengatakan, 'Kami akan sangat menghargai jika Anda mengizinkan pasokan (hidroksiklorokuin) keluar'. Jika dia tidak membolehkannya, tidak apa-apa, tapi tentu saja mungkin ada pembalasan," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Regulator perdagangan India pada Sabtu (4/4) mengumumkan larangan ekspor obat dan formulasinya di tengah lonjakan kasus Covid-19 di negara itu. Negeri Hindustan mencatat 4.778 kasus, di mana 136 orang meninggal dan 382 dinyatakan sembuh.

Pejabat India mengatakan bahwa New Delhi akan memikirkan kembali terkait hal ini dan kemungkinan membuat keputusan pada Selasa (7/4).

Hidroksiklorokuin merupakan obat murah yang digunakan untuk mengobati malaria, rheumatoid arthritis atau peradangan sendi, dan lupus. Obat yang sangat mirip dengan klorokuin ini dapat menjinakkan sistem kekebalan yang terlalu aktif dan telah terbukti memiliki sejumlah efek positif terhadap penyakit Covid-19 dalam studi awal di Prancis dan China.

Namun, para ilmuwan percaya bahwa bukti tidak cukup untuk merekomendasikan obat ini bagi penggunaan massal.

Bulan lalu, Trump mengumumkan di Twitter bahwa hidroksiklorokuin memiliki potensi menjadi salah satu "game changer" terbesar dalam sejarah kedokteran.

Sponsored
— Donald J. Trump (@realDonaldTrump) March 21, 2020

Sementara jumlah kematian di AS meningkat, Trump disebut terus mempromosikan obat yang belum terbukti untuk memberi harapan. 

"Apa ruginya," kata dia pada Minggu (5/4).

Para ahli medis memperingatkan agar tidak meremehkan risiko efek samping dari obat tersebut.

"Orang kehilangan kesehatannya," kata Patrice Harris, President of the American Medical Association. "Jantung Anda dapat berhenti."

Efek samping potensial dari obat ini termasuk kehilangan penglihatan dan masalah jantung.

Dengan lebih dari 367.000, AS merupakan pemilik kasus positif Covid-19 terbanyak di dunia, posisi yang semula ditempati Italia dan China. Dari jumlah itu, lebih dari 10.900 orang meninggal dan lebih dari 19.800 lainnya sembuh. (DW dan BBC)

Berita Lainnya