logo alinea.id logo alinea.id

Kanada rilis travel advisory bagi warganya yang ingin ke China

Hubungan China-Kanada memanas pada awal Desember 2018 ketika otoritas Kanada menangkap Direktur Keuangan Global Huawei Sabrina Meng Wanzhou.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 15 Jan 2019 13:11 WIB
Kanada rilis travel advisory bagi warganya yang ingin ke China

Kanada merilis travel advisory bagi warganya yang berencana pergi ke China. Peringatan ini muncul setelah seorang pria Kanada dijatuhi hukuman mati atas kasus penyelundupan narkotika.

Pada Senin (14/1), pengadilan China menjatuhkan hukuman mati bagi Robert Lloyd Schellenberg setelah menolak banding yang dia ajukan pada Desember 2018. Awalnya Schellenberg dihukum 15 tahun penjara, namun setelah banding, pengadilan justru memperberat hukumannya menjadi vonis mati.

Persidangan ulang diperintahkan setelah jaksa penuntut mengklaim memiliki bukti baru yang menunjukkan peran penting Schellenberg dalam operasi perdagangan narkoba.

"Buktinya meyakinkan dan cukup, tuduhan kriminalnya pun cukup kuat," jelas pengadilan. Pernyataan pengadilan menjelaskan, Schellenberg dapat mengajukan banding ke pengadilan tinggi Liaoning dalam waktu 10 hari ke depan.

Segera setelah Schellenberg divonis, Kementerian Luar Negeri Kanada mengeluarkan travel advisory untuk mengunjungi China. Mereka memperingatkan warganya atas bahaya penegakan hukum setempat yang sewenang-wenang.

"Kami terus mengimbau semua warga Kanada yang melakukan perjalanan ke China untuk sangat berhati-hati," jelas pernyataan resmi tersebut.

Vonis itu diperkirakan akan meningkatkan ketegangan diplomatik antara China dan Kanada. Meski begitu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyatakan, Ottawa akan terus berhubungan dengan Beijing.

"Hal ini sangat mengkhawatirkan pemerintah, sebagaimana seharusnya bagi semua teman dan sekutu internasional kita, bahwa China memilih untuk menerapkan hukuman mati secara sewenang-wenang ... seperti dalam kasus ini," tutur Trudeau.

Sponsored

Dari pihak keluarga, bibi Schellenberg, Lauri Nelson-Jones, juga mengungkapkan kekecewaan atas keputusan otoritas China.

"Sedikit sulit membayangkan apa yang dirasakan dan dipikirkan Schellenberg saat ini," ungkapnya. "Ini adalah situasi yang mengerikan, malang, dan memilukan."

Sejumlah kritikus menilai, Beijing menggunakan kasus Schellenberg untuk menekan Ottawa.

Hubungan China-Kanada memanas pada awal Desember 2018 ketika otoritas Kanada menangkap Direktur Keuangan Global Huawei Sabrina Meng Wanzhou untuk diekstradisi ke Amerika Serikat atas tuduhan melanggar sanksi Iran.

Beberapa pekan setelah penangkapan Meng Wanzhou, otoritas China menahan seorang mantan diplomat asal Kanada, Michael Kovrig, dan seorang pengusaha, Michael Spavor. Selain mereka, sejumlah warga Kanada lainnya juga ditahan dan dideportasi.

Lewat editorialnya, surat kabar Global Times yang dikelola pemerintah China membantah keterkaitan antara vonis Schellenberg dengan penangkapan Meng Wanzhou.

"Beberapa media Kanada dan Barat telah mengaitkan kasus ini dengan kasus Meng Wanzhou, beralasan bahwa Beijing menekan Ottawa melalui kasus tersebut. Spekulasi yang tidak masuk akal ini merupakan penghinaan besar terhadap hukum China," jelas editorial tersebut. "Pendapat publik di Kanada baru-baru ini mengklaim bahwa China sedang politisasi kasus Schellenberg, tetapi justru apa yang Kanada lakukan sebenarnya adalah politisasi hukum."

Schellenberg yang merupakan mantan pekerja ladang minyak, telah ditahan sejak 2014 dalam kasus yang tadinya tidak menarik perhatian publik. 

Menurut pernyataan pengadilan, Schellenberg terlibat dalam upaya gagal untuk menyelundupkan 225 kilogram metamfetamina ke Australia dengan menyembunyikan jenis narkoba tersebut di dalam ban.

Pada Desember, pihak berwenang China memerintahkan persidangan ulang dan mengundang media asing untuk meliputnya. Langkah ini dinilai langka, karena biasanya pengadilan China berusaha keras untuk membatasi akses media.

Direktur Human Rights Watch (HRW) untuk China Sophie Richardson berpendapat, "Beijing harus menerangkan mengapa kasus terhadap warga negara dari suatu negara tertentu ini harus diadili kembali pada saat ini."

China memang pernah mengeksekusi warga negara asing atas kejahatan terkait narkoba, tetapi kasus Schellenberg menjadi tenar karena waktu dan besarnya publisitas yang pemerintah China berikan bagi persidangan ulangnya.

Peneliti Amnesty International asal China, Wiiliam Nee, mengungkapkan, "Ini semua mengejutkan mengingat sifat persidangan ulang yang tergesa-gesa, dan cara otoritas China yang sengaja menarik perhatian bagi kasus ini. Ketika mereka benar-benar mengundang media internasional, itu langkah yang tidak biasa dan merupakan pertanda bahwa China ingin media menyoroti kasus ini dengan tujuan mengirim pesan politik."

Pakar hukum pun menaruh curiga. Schellenberg ditahan selama lebih dari setahun sebelum persidangan pertamanya pada Maret 2016, dan dia tidak dijatuhkan hukuman selama 32 bulan setelahnya.

Namun, persidangan ulang langsung diperintahkan dalam waktu 16 hari sejak keputusan banding pengadilan.

"Mengingat bahwa penuntut tampaknya berencana untuk membuat tuduhan baru yang akan membenarkan pembebanan hukuman mati, waktu yang singkat seperti itu sama sekali tidak memadai untuk persiapan pembelaan yang berarti," kata Donald Clarke, seorang profesor hukum di George Washington University Law School dan pakar hukum China.

"Kasus ini tampaknya memperkuat pesan bahwa China memandang penahanan sandera manusia sebagai cara yang dapat diterima untuk berdiplomasi," imbuhnya.

Sumber : The Guardian