logo alinea.id logo alinea.id

Kerusuhan anti-muslim di Sri Lanka, satu orang tewas

Serangan terhadap kaum muslim ini disebut sebagai balasan atas teror bom Minggu Paskah.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 14 Mei 2019 18:21 WIB
Kerusuhan anti-muslim di Sri Lanka, satu orang tewas

Jam malam di sebuah provinsi di utara Kolombo, Sri Lanka, masih akan diberlakukan tanpa batas waktu menyusul kerusuhan anti-muslim yang berlanjut.

Pihak kepolisian mengumumkan bahwa jam malam dilonggarkan di seluruh wilayah kecuali Provinsi North Western (NW), di mana seorang pria muslim bernama Fauzul Amir tewas oleh sekelompok orang pada Senin (13/5). 

Pria 45 tahun itu meninggal setelah kerumunan orang menyerbu bengkel kayunya di distrik Puttalam, NWP, dan menggoroknya. Serangan itu disebut sebagai balas dendam atas teror bom Minggu Paskah.

Polisi mencap kelompok militan muslim lokal National Thowheeth Jamath (NTJ) dan Jamathei Millathu Ibrahim (JMI) sebagai dalang serangan bom Minggu Paskah yang menewaskan 257 orang.

Kepala Kepolisian Sri Lanka Chandana Wickramaratne memperingatkan bahwa para perusuh akan direspons dengan tindakan keras. Dia menambahkan dirinya telah mengeluarkan perintah penggunaan kekuatan maksimum.

Di tempat lain di provinsi itu, massa membakar puluhan toko milik warga muslim, merusak rumah dan masjid.

"Jam malam di NWP akan dilanjutkan sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekera.

Polisi memberlakukan jam malam di seluruh negeri pada Senin. Sebelumnya, pemberlakuan jam malam dibatasi pada daerah-daerah tertentu di mana serangan terjadi, termasuk distrik Puttalam, Kurunegala, dan Gamphala di dekat Colombo. 

Sponsored

Dalam pidatonya pada Senin malam, PM Ranil Wickremesinghe mengatakan bahwa jam malam di seluruh negeri diterapkan untuk mencegah kelompok-kelompok tidak dikenal menyusun rencana aksi kekerasan komunal.

Wickremesinghe menuturkan bahwa kerusuhan lanjutan akan menghambat penyelidikan atas serangan bom Minggu Paskah yang menargetkan sejumlah gereja dan hotel mewah.

Sri Lanka untuk sementara waktu juga melarang jaringan media sosial dan aplikasi pengiriman pesan, termasuk Facebook dan WhatsApp, setelah sebuah unggahan memicu kerusuhan anti-muslim di beberapa kota.

Warga di NWP menuturkan bahwa sekelompok orang menyerang masjid dan merusak tempat usaha kaum muslim untuk kali keduanya pada Senin.

"Ada ratusan perusuh, polisi dan tentara hanya menonton. Mereka telah membakar masjid dan menghancurkan banyak toko milik warga muslim," ungkap seorang warga yang menolak menyebutkan namanya kepada Reuters. "Ketika kami mencoba keluar dari rumah, polisi meminta kami untuk tetap tinggal di dalam."

Reruntuhan kaca berserakan di Masjid Abrar di Kota Kiniyama yang diserang kemarin malam. Seluruh jendela dan pintu bangunan itu hancur.

Muslim membentuk sekitar 10% dari 21 juta populasi mayoritas Buddha di Sri Lanka. Sementara Kristen sekitar 7,6%.

Tren yang mengkhawatirkan

Amnesty International mengatakan ada tren serangan yang mengkhawatirkan terhadap komunitas muslim yang datang dari Sri Lanka pasca-bom Minggu Paskah.

Badan ulama utama Sri Lanka, All Ceylon Jamiyyathul Ulama (ACJU), mengatakan ada peningkatan kecurigaan terhadap kaum muslim.

"Kami menyerukan kepada anggota komunitas muslim untuk lebih sabar dan menjaga tindakan Anda serta menghindari untuk mengunggah yang tidak perlu di media sosial," kata ACJU.

Di Twitter, operator telepon seluler terkemuka Sri Lanka, Dialog, mengatakan mereka juga telah menerima instruksi untuk memblokir Viber, IMO, Snapchat, Instagram dan Youtube hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Sri Lanka telah berada dalam keadaan darurat sejak serangan itu. Pasukan keamanan dan polisi telah diberikan kekuatan besar untuk menangkap dan menahan tersangka untuk waktu yang lama.

Sumber : Al Jazeera

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB