close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pixabay
Dunia
Rabu, 06 Oktober 2021 17:27

Pendeta Prancis terungkap melecehkan lebih dari 200.000 anak

Menurut laporan, puncak pelecehan adalah 1950-1970, dengan kemunculan kembali kasus-kasus di awal 1990-an.
swipe

Sebuah penyelidikan besar mengungkapkan bahwa pendeta Prancis telah melecehkan lebih dari 200.000 anak selama 70 tahun. Menurut laporan, puncak pelecehan adalah 1950-1970, dengan kemunculan kembali kasus-kasus di awal 1990-an.

Jean-Marc Sauve, kepala komisi yang menyusun laporan tersebut mengatakan gereja telah menunjukkan ketidakpedulian terhadap pelanggaran selama bertahun-tahun. Gereja juga lebih memilih untuk melindungi dirinya sendiri daripada para korban, banyak dari mereka berusia antara 10 dan 13 tahun.

"Menghadapi momok ini, untuk waktu yang sangat lama, reaksi langsung Gereja Katolik adalah melindungi dirinya sendiri sebagai sebuah institusi dan telah menunjukkan ketidakpedulian yang lengkap, bahkan kejam, kepada mereka yang menderita pelecehan," kata laporan itu.

Ketua Konferensi Wali Gereja Prancis, Eric de Moulins-Beaufort, mengatakan gereja itu malu dan menyebut laporan itu sebagai bom, ia meminta maaf dan berjanji untuk bertindak.

Gereja harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi, kata komisi itu, dan memastikan laporan pelecehan diteruskan ke otoritas kehakiman.

Sauve mengatakan komisi itu sendiri telah mengidentifikasi sekitar 2.700 korban melalui panggilan untuk kesaksian, dan ribuan lainnya telah ditemukan di arsip.

Sebuah studi luas oleh kelompok penelitian dan jajak pendapat memperkirakan ada sekitar 216.000 korban, dan jumlahnya bisa meningkat menjadi 330.000 jika termasuk pelecehan oleh anggota awam.

Sauve mengatakan skalanya belum pernah terjadi sebelumnya. Ada sekitar 2.900-3.200 tersangka pedofil di gereja Prancis selama 70 tahun terakhir, tambahnya.

Pengadilan Vatikan diperkirakan pada Rabu (6/10) akan menjatuhkan hukuman kepada seorang pria yang sekarang menjadi imam karena dugaan pelecehan seksual yang dilakukan di sebuah seminari pemuda di Vatikan sebelum dia ditahbiskan.

Paus Fransiskus mengatakan pada Rabu, bahwa dia sedih dan malu dengan ketidakmampuan Gereja Katolik untuk menangani pelecehan seksual terhadap anak-anak di Prancis dan seharusnya gereja menjadikan dirinya rumah yang aman bagi semua orang.

"Saya ingin mengungkapkan kepada para korban kesedihan saya, kesedihan atas trauma yang mereka derita dan juga rasa malu saya, rasa malu kami, atas ketidakmampuan gereja, terlalu lama, untuk menempatkan mereka di pusat perhatiannya," kata Paus Fransiskus di audiens umum mingguannya.

Paus Fransiskus juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para korban karena memiliki keberanian untuk maju.

img
Sita Aisha Ananda
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan