logo alinea.id logo alinea.id

Pesawat militer Rusia kembali mendarat di Venezuela

Empat juta warga Venezuela atau hampir 15% dari populasinya telah meninggalkan negara itu untuk menghindari krisis ekonomi dan politik.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 25 Jun 2019 11:34 WIB
Pesawat militer Rusia kembali mendarat di Venezuela

Sebuah pesawat Angkatan Udara Rusia dilaporkan mendarat di Venezuela. Menurut seorang saksi mata, burung besi jenis Ilyushin dengan nomor ekor RA-86496 parkir di Bandara Internasional Maiquetia pada Senin (24/6).

Menurut situs Flightradar24, nomor ekor itu terdaftar atas nama Angkatan Udara Rusia dan cocok dengan nomor ekor pesawat yang tiba di Venezuela pada Maret.

Kementerian Informasi Venezuela dan Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan konfirmasi atas kabar ini.

Pada Maret, dua pesawat Angkatan Udara Rusia mendarat di Venezuela dengan membawa pejabat pertahanan Rusia dan 100 tentara. Hal tersebut membuat Amerika Serikat menuduh Rusia secara gegabah memicu eskalasi di Venezuela.

Donald Trump mendesak Rusia untuk memindahkan seluruh pasukannya dari Venezuela. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa kedua pesawat itu hanya membawa spesialis yang melayani kontrak penjualan senjata.

Rusia merupakan pendukung utama rezim Presiden Nicolas Maduro, sementara AS dan sejumlah negara lainnya menyokong pemimpin oposisi Juan Guaido, yang telah mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara pada Januari.

Guaido mengklaim bahwa pemilu tahun lalu yang dimenangkan Maduro tidak sah.

Pada awal Juni, Presiden Vladimir Putin menekankan, pihaknya tidak memiliki rencana untuk mengirim pasukan ke Venezuela demi menopang kepemimpinan Maduro. Di lain sisi dia mengingatkan bahwa intervensi militer AS di Venezuela akan menjadi malapetaka.

Sponsored

"Kami tidak membangun pangkalan militer di sana, kami tidak mengirim pasukan ke sana, kami belum pernah melakukan itu," kata Putin ketika dimintai respons tentang desakan Trump agar Rusia memindahkan personel militernya.

Putin menggemakan pernyataan Kemlu Rusia bahwa ahli Rusia akan tetap berada di Venezuela untuk menangani perangkat keras militer Rusia, sesuatu yang menurutnya wajib dilakukan sesuai kontrak.

Orang nomor satu di Negeri Beruang Merah itu menyatakan bahwa sanksi AS atas Venezuela telah melukai rakyat Venezuela.

"Jika kita mempertimbangkan kondisi di mana jutaan orang tinggal di Venezuela, timbul pertanyaan apakah mereka memerangi Maduro atau rakyat Venezuela? Kami tidak menerima, melainkan mengutuk tindakan semacam itu ... Krisis di Venezuela harus diselesaikan oleh rakyat Venezuela," tutur Putin.

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyebutkan bahwa sekitar empat juta warga Venezuela atau hampir 15% dari populasinya telah meninggalkan negara itu untuk menghindari krisis ekonomi dan politik. (Reuters dan Al Jazeera)