logo alinea.id logo alinea.id

Jepang disapu topan, WNI diminta waspada

Menurut data Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), jumlah WNI di Jepang mencapai 56.346 orang. 

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Sabtu, 12 Okt 2019 21:21 WIB
Jepang disapu topan, WNI diminta waspada

Topan Hagibis mendekati wilayah daratan Pulau Honshu, Jepang, sejak Sabtu (12/10) dini hari. 

Otoritas setempat telah memberikan peringatan kepada seluruh warga untuk waspada. Termasuk kemungkinan banjir dan longsor, akibat curah hujan tinggi dan meluapnya air sungai.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dan Konsulat jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka pun telah mengimbau, kepada WNI yang tinggal di Jepang untuk selalu mengikuti perkembangan informasi terkini, serta arahan otoritas setempat.

Menurut data Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), jumlah WNI di Jepang mencapai 56.346 orang. 

"Hingga saat ini belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban langsung dari Badai Hagibis," dalam keterangan resmi Kemenlu yang diterima Alinea.id, Sabtu (12/10).

Kemenlu mengingatkan, apabila ada WNI yang menghadapi situasi darurat. WNI dapat menekan "Tombol Darurat" pada aplikasi Safe Travel Kementerian Luar Negeri.

Atau menghubungi hotline KBRI Tokyo adalah +8180-4940-7419 dan +8180-3506-8612. Untuk hotline KJRI Osaka: +8180-3113-1003.

Laporan Reuteurs, Topan Hagibis telah menyebabkan dua orang tewas dan 60 orang terluka. Lebih dari enam juta orang telah disarankan untuk mengungsi, ketika topan yang kuat terjadi.

Sponsored

Pemerintah setempat menjadikan badai hagibis sebagai hujan dan angin terberat dalam 60 tahun terkahir. 

Topan juga berimbas pada perubahan dan pembatalan jadwal penerbangan. Media Jepang menyebut, Bandara Haneda Tokyo dan Bandara Narita di Chiba menghentikan lebih dari 1.000 penerbangan. Begitu juga dengan operasional kereta penghubung ditangguhkan. 

Angin kencang telah menyebabkan beberapa kerusakan, khususnya di Chiba timur Tokyo. Salah satu topan terkuat yang melanda Jepang dalam beberapa tahun terakhir menghancurkan atau merusak 30.000 rumah, pada bulan lalu.