logo alinea.id logo alinea.id

Trump dibanjiri kritik atas 2 penembakan massal di AS

Penembakan terjadi di dua lokasi berbeda di AS, menyebabkan 29 orang tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 05 Agst 2019 10:49 WIB
Trump dibanjiri kritik atas 2 penembakan massal di AS

Donald Trump menghadapi rentetan kritik pada Minggu (4/8), setelah Amerika Serikat menghadapi dua penembakan massal yang menewaskan total 29 orang dan menyebabkan sedikitnya 53 lainnya terluka.

Penembakan di kota perbatasan El Paso, Texas, pada Sabtu (3/8), diduga berkaitan dengan ideologi supremasi kulit putih dan retorika anti-imigran.

Sebanyak 20 orang tewas di kota yang mayoritas dihuni oleh warga Amerika Latin itu. Setelah penyelidikan otoritas federal, jaksa setempat mendakwa pria kulit putih berusia 21 tahun, Patrick Crusius, atas tindakan pembunuhan. Pelaku akan dijatuhi hukuman mati.

Tersangka berasal dari kota Allen, yang berjarak 1,046 kilometer dari lokasi penembakan yang terjadi di toko swalayan Walmart.

Kurang dari 13 jam kemudian, penembakan massal lainnya terjadi di Dayton, Ohio, menewaskan sembilan orang. Pihak berwenang di Dayton menyatakan pelaku merupakan Connor Betts yang berusia 24 tahun. Salah satu korban tewas merupakan adik perempuannya sendiri, Megan Betts.

Donald Trump berbicara kepada wartawan lebih dari sehari setelah penembakan di El Paso.

"Saya ingin menyampaikan belasungkawa bagi warga di El Paso, Texas, dan Dayton, Ohio. Mereka adalah orang-orang luar biasa, mereka telah melalui banyak kesulitan," tutur Trump.

Namun, Trump tidak membahas dugaan ideologi supremasi kulit putih di balik penembakan di El Paso serta tidak berbicara mengenai pengendalian senjata api di AS.

"Kebencian tidak memiliki tempat di negara kita. Kami akan mengatasi hal ini," ujarnya.

Trump juga menyarankan, kedua penembakan itu perlu dilihat dari konteks kesehatan mental para pelakunya.

"Ini juga merupakan masalah penyakit mental. Jika Anda melihat kedua kasus itu ... kedua penembak itu sangat sakit," kata Trump.

Baik otoritas di El Paso maupun Dayton tidak membuat pernyataan definitif tentang kesehatan mental kedua tersangka.

Sebelumnya, melalui sebuah twit, Trump mengecam penembakan di El Paso dan menyebutnya sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengecut.

Dalam sebuah twit pada Minggu, putri Trump dan penasihat Gedung Putih, Ivanka Trump, sebelumnya menyatakan bahwa supremasi kulit putih, sama seperti bentuk terorisme lainnya, merupakan kejahatan yang harus dihancurkan.

Sejumlah Demokrat menghubungkan retorika anti-imigran yang mewarnai kampanye pilpres dan masa jabatan Trump sebagai salah satu potensi munculnya kejahatan kebencian.

Salah satu calon kandidat Partai Demokrat untuk Pilpres 2020, Beto O'Rourke, menyebut Trump sebagai nasionalis kulit putih dan menuduhnya mendorong terjadinya serangan seperti penembakan massal di El Paso.

"Kita harus mengakui adanya kebencian dan rasialisme di AS," tutur O'Rourke.

Sementara itu, calon kandidat Partai Demokrat lainnya, Cory Booker, mengatakan bahwa Trump bertanggung jawab atas penyerangan yang terjadi.

"Trump bertanggung jawab atas apa yang sedang terjadi dan dia tidak melakukan apa pun untuk menghentikan kekacauan ini," ungkap Booker.

Senada dengan O'Rourke dan Booker, calon kandidat Demokrat lainnya, Julian Castro, juga berpendapat bahwa retorika perpecahan Trump telah menumbuhkan kebencian dan kefanatikan.

"Presiden menyebarkan retorika perpecahan serta mengipasi api kefanatikan dan kebencian," ujar mantan Wali Kota San Antonio, Texas, itu.

Terorisme domestik

Pihak berwenang AS, yang sedang menyelidiki penembakan di El Paso, menghubungkan penyerangan itu dengan aksi terorisme domestik.

Gubernur Texas Greg Abbott menilai penembakan pada Sabtu sebagai bentuk kejahatan rasial, dan polisi mengutip sebuah manifesto yang mereka kaitkan dengan tersangka sebagai bukti bahwa pertumpahan darah itu memiliki motif rasisme.

Jaksa AS untuk distrik barat Texas, John Bash, mengatakan pemerintah federal memperlakukan pembantaian itu sebagai kasus terorisme domestik.

"Kami akan melakukan apa yang kami lakukan untuk menangani teroris di negara ini, yaitu memberikan keadilan yang cepat," kata Bash dalam konferensi pers pada Minggu.

Sebuah manifesto empat halaman yang diunggah di situs 8chan diduga telah ditulis oleh tersangka penembakan di El Paso. Penulis manifesto itu menyatakan bahwa serangan di Walmart merupakan respons terhadap invasi warga Amerika Latin di Texas.

Dia juga menyatakan dukungan bagi pria bersenjata yang membunuh 51 orang di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret.

Pemerintah Meksiko mengatakan tujuh warganya termasuk di antara 20 orang yang tewas dalam penembakan itu dan setidaknya enam lainnya luka-luka. Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard menegaskan bahwa negaranya mempertimbangkan proses pengadilan yang dapat mengarah pada ekstradisi tersangka.

"Bagi Meksiko, orang ini adalah seorang teroris," kata dia.

Pada Juli, Direktur FBI Christopher Wray mengatakan kepada kongres bahwa mayoritas penangkapan terkait teror domestik sejak Oktober 2018 telah dikaitkan dengan kekerasan berbasis ideologi supremasi kulit putih.

Di sisi lain, Southern Poverty Law Center, sebuah organisasi nirlaba yang melacak kelompok penyebar kebencian di AS, melaporkan adanya lonjakan kelompok nasionalis kulit putih pada 2018.

Pembantaian di El Paso terjadi pada Sabtu pagi waktu setempat di Cielo Vista Mall, sebuah pusat perbelanjaan yang dekat dengan Bandara Internasional El Paso.

Pelaku memasuki Walmart di pusat mal tersebut dan melepaskan tembakan dengan senapa serbu gaya militer. Pihak berwenang meyakini sekitar 3.000 pengunjung berada di mal tersebut saat penyerangan terjadi.

Seorang juru bicara kepolisian El Paso mengatakan tersangka berhasil ditangkap setelah menuruti perintah polisi.

Dalam konferensi pers pada Minggu pagi waktu setempat di Rumah Sakit Del Sol, El Paso, pejabat rumah sakit, Stephen Flaherty menyatakan fasilitas itu tengah merawat 11 dari 26 orang yang terluka dalam serangan tersebut. Pasien berkisar antara 35 hingga 82 tahun, dengan delapan dalam kondisi stabil dan tiga kritis.

Di luar bangunan rumah sakit, sejumlah warga telah memasang papan yang bertuliskan, "No hate can ruin our great city" dan "Our city is pure love".

Pada Minggu pagi waktu setempat, pihak berwenang di Dayton, Ohio, memberikan rincian penembakan massal yang terjadi di depan sebuah bar tersebut. Menurut keterangan pihak berwenang, pelaku mengenakan pelindung tubuh dan melepaskan tembakan menggunakan senapan serbu.

Pria bersenjata itu ditembak mati oleh polisi selang satu menit setelah serangan terjadi. Penembakan itu juga menyebabkan 27 terluka dan hingga kini motif penyerangan belum diketahui.

Pihak berwenang mengatakan bahwa seandainya polisi tidak bereaksi dengan cepat, maka korban jiwa bisa jauh lebih banyak. Pasalnya pelaku dipersenjatai dengan senapan bertenaga tinggi dan magasin 100 putaran (100-round drum magazines) yang dibeli secara legal.

Penembakan di Dayton menandai penembakan massal mematikan ke-31 di AS pada 2019. Penembakan massal didefinisikan sebagai kejadian di mana setidaknya tiga orang terbunuh oleh kekerasan senjata dalam satu peristiwa. (The Guardian dan Reuters)