sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Turki, Rusia dan Iran sepakat redakan ketegangan di Idlib

Ketiga negara berkomitmen untuk mencapai gencatan senjata abadi di Suriah.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 17 Sep 2019 11:33 WIB
Turki, Rusia dan Iran sepakat redakan ketegangan di Idlib
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Dalam KTT tiga negara di Ankara pada Senin (16/9), pemimpin Turki, Rusia dan Iran sepakat untuk meredakan ketegangan di Idlib, Suriah. Mereka berkomitmen mencapai gencatan senjata abadi di negara itu.

Serangan baru-baru ini oleh pasukan pemerintah Suriah dinilai dapat memperburuk keadaan dan mendorong gelombang migran baru ke Turki.

"Kami perlu mengambil lebih banyak tanggung jawab untuk meraih perdamaian di Suriah dan memikul beban lebih," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Dia menyatakan, ketiga pihak sepakat perlunya solusi politik untuk mengakhiri krisis di Suriah.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad melawan pemberontak. Sementara itu, Erdogan, bersama dengan Amerika Serikat dan sekutu Eropa serta Arab Saudi, mendukung oposisi.

Dalam pernyataan bersama, ketiga pemimpin menyatakan kekhawatiran mereka tentang risiko semakin memburuknya situasi kemanusiaan baik di dalam maupun sekitar Idlib.

Meskipun mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan, ketiga pihak berbeda pendapat mengenai ancaman ISIS di Suriah.

"Tentu saja kami khawatir dengan situasi di wilayah timur laut Suriah, tempat sel-sel tidur ISIS berpotensi muncul," kata Putin dalam konferensi pers bersama.

Sponsored

Sementara itu, Erdogan tidak sependapat dengan Putin dan menyatakan bahwa satu-satunya ancaman di Suriah adalah dari kelompok militan Kurdi.

Erdogan menyatakan bahwa ketiga pihak berencana untuk mendirikan zona aman di Suriah utara, yang nantinya dapat menampung hingga tiga juta pengungsi Suriah yang saat ini berada di Turki. Baik Putin maupun Rouhani tidak mengomentari rencana itu.

Sebelum KTT dimulai, Presiden Rouhani menekankan bahwa diplomasi adalah satu-satunya solusi untuk krisis ini. Dia meminta AS untuk segera menarik pasukannya dari Suriah.

"Diplomasi, bukan konfrontasi militer, yang dapat melahirkan perdamaian di Suriah," kata Rouhani.

Menentang saran dari para penasihat utamanya, pada 2018 Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa dia akan menarik pasukan AS dari Suriah. Langkah itu disambut baik oleh Turki dan Iran, tetapi hingga kini belum sepenuhnya dilaksanakan.

Fokus bahas Idlib

Menurut pernyataan bersama, perundingan ketiga pemimpin negara fokus membahas Idlib, wilayah terakhir yang tersisa yang diduduki oleh pemberontak yang berusaha menggulingkan Presiden Assad.

Pada Minggu (15/9), pasukan pemerintah Suriah menghujani bagian selatan Idlib dengan tembakan.

Turki, yang berbatasan dengan Suriah, memiliki 12 pos militer di sepanjang kawasan Idlib yang didirikan berdasarkan kesepakatan dengan Rusia dan Iran pada 2017. Dalam wawancara pada Jumat (13/9), Erdogan memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan menahan diri jika pemerintah Suriah menyerang pos-pos milik Turki.

Erdogan dan Putin menegaskan perlunya membasmi kelompok-kelompok militan di Idlib.

"Rusia berencana untuk mendukung tentara Suriah yang melakukan operasi untuk menghilangkan ancaman teroris di mana pun," kata Putin.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya