sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Venezuela masih gelap gulita, oposisi serukan deklarasi keadaan darurat

Pemadaman listrik besar-besaran di Venezuela dimulai pada Kamis (7/3).

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 11 Mar 2019 16:08 WIB
Venezuela masih gelap gulita, oposisi serukan deklarasi keadaan darurat

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido (35) pada Senin (11/3) meminta anggota parlemen untuk mendeklarasikan keadaan darurat terkait pemadaman listrik besar-besaran yang dimulai Kamis (7/3). Pemadaman tersebut dikabarkan untuk menghambat pengiriman bantuan internasional.

"Kita harus segera menangani bencana ini. Kita tidak bisa mengabaikannya," kata Guaido, pemimpin Majelis Nasional yang pada Januari 2019 mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara.

Pada Minggu (10/3) Guaido mengatakan kepada wartawan bahwa dia akan menggelar sidang darurat Majelis Nasional yang dikuasai oposisi untuk menyatakan 'state of alarm'.  

Bulan lalu, Presiden Nicolas Maduro menggunakan kekuatan militer untuk memblokir upaya oposisi untuk membawa lebih dari 250 ton pasokan dari Kolombia dan Brasil. Dan kemarin, Maduro bersumpah dia tidak akan mundur.

Listrik telah nyala di beberapa wilayah di ibu kota Cacaras pada Minggu malam. Namun, sudah dua kali kembali padam.

Adapun bisnis dan sekolah dilaporkan tetap tutup pada Senin. Berkurangnya transportasi umum membuat perjalanan kian sulit, bahkan di Caracas.

Guaido sendiri telah menyerukan untuk digelarnya lebih banyak protes pada Senin untuk mendesak Maduro mundur, menindaklanjuti unjuk rasa yang dilakukan pada Sabtu (9/3).

"Anda punya hak untuk turun ke jalan, untuk memprotes, untuk menuntut, karena rezim ini membiarkan rakyat Venezuela mati," ujar Guaido pada Minggu, seraya menyerukan kepada angkatan bersenjata untuk berhenti melindungi diktator.

Sponsored

Guaido diakui oleh lebih dari 50 negara sebagai presiden sementara Venezuela. Mereka mendukung seruannya untuk menggelar pemilu baru, tetapi komando tinggi militer sejauh ini masih setia di sisi Maduro.

Di Washington, Amerika Serikat, Penasihat Keamanan Nasional John Bolton menyarankan agar anggota militer mempertimbangkan kembali dukungan mereka bagi Maduro.

"Ada banyak percakapan yang terjadi antara anggota Majelis Nasional dan anggota militer di Venezuela tentang apa yang mungkin terjadi, bagaimana mereka kemungkinan bergerak untuk mendukung oposisi," papar Bolton dalam wawancaranya dalam program This Week di ABC.

Menurut Bolton, salah satu alasan pasukan keamanan menahan diri untuk tidak menangkap Guaido adalah ketakutan bahwa jika Maduro memberikan perintah itu, dia tidak akan dipatuhi.

Serangan elektromagnetik

Maduro menyalahkan kekuatan imperialisme atas akumulasi kesengsaraan di Venezuela. Dia mengklaim pemadaman listrik disebabkan oleh serangan elektromagnetik di kompleks pembangkit listrik tenaga air Guri, yang memasok 80% listrik Venezuela.

Para kritikus menyalahkan pemerintah karena gagal mempertahankan pasokan listrik.

Bagi rakyat Venezuela, pemadaman listrik semakin memperparah kesengsaraan pada perjuangan sehari-hari mereka untuk bertahan hidup di sebuah negara yang tengah berada dalam kejatuhan ekonomi. 

"Setiap hari memburuk," kata Edward Cazano (20) yang tinggal bersama ibu dan tiga saudara laki-lakinya di lingkungan miskin di Caracas bernama Pinto Salinas. "Kami memiliki layanan terburuk di dunia: tidak ada cahaya, tidak ada air, bahkan kadang-kadang tidak ada gas."

Rumah sakit terpaksa menggunakan generator cadangan untuk layanan darurat. 

Tidak ada data nasional yang tersedia tentang dampak pemadaman listrik, tetapi kelompok pemantau hak kesehatan Codevida melaporkan kematian 15 pasien dialisis ginjal. Namun, pemerintah menolak laporan tersebut.

Francisco Valencia, direktur Codevida, mengatakan sekitar 10.200 orang berisiko karena unit dialisis telah dimatikan.

"Ini penderitaan. Mereka memberlakukan jam malam pada kami dari pukul 17.00 sore. Kami pergi lebih awal untuk membeli apa yang kami bisa dan kami bergegas pulang," kata Yadira Delgado (49) yang tinggal bersama ibunya dan anaknya yang remaja. (AFP)