logo alinea.id logo alinea.id

Venezuela memanas selama akhir pekan, 4 orang tewas

Sejak Jumat (22/2), bentrokan meletus di sejumlah titik di sepanjang perbatasan Venezuela-Kolombia dan Venezuela-Brasil.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 25 Feb 2019 11:47 WIB
Venezuela memanas selama akhir pekan, 4 orang tewas

Krisis yang tengah berlangsung di Venezuela mengalami perkembangan negatif selama akhir pekan, ketika militer yang mendukung Presiden Nicolas Maduro membantu memblokir masuknya bantuan ke negara itu. 

Sejak Jumat (22/2), bentrokan meletus di sejumlah titik di sepanjang perbatasan Venezuela dengan Kolombia ketika pasukan bersenjata pendukung pemerintah berusaha menghalangi pengiriman bantuan. Pada pengujung Sabtu, setidaknya empat orang dilaporkan terbunuh di sepanjang perbatasan Venezuela-Kolombia dan Venezuela-Brasil. Adapun ratusan lainnya terluka.

Maduro bersikeras bahwa bantuan kemanusiaan tidak diperlukan. 

Cuplikan tayangan televisi menunjukkan Maduro tengah menari bersama istrinya di tengah para pendukungnya saat bentrokan meletus.

Gejolak politik dan kejatuhan ekonomi mendorong Venezuela ke jurang krisis kemanusiaan. Itu tercermin ketika lebih dari tiga juta rakyat Venezuela meninggalkan negara mereka sejak 2015, makanan dan obat-obatan terlalu mahal untuk dibeli, inflasi yang berada di atas 1 juta persen dan bahkan diramalkan mencapai 10 juta persen tahun ini.

Diperkirakan pada 2019 saja terdapat 2 juta lagi warga Venezuela yang akan mengungsi.

Dalam kondisi demikian, Maduro bersumpah akan memblokir bantuan kemanusian. Dia bahkan menyangkal terjadinya krisis kemanusiaan, menyebut pengiriman bantuan sebagai "kuda troya" yang akan mengarah pada intervensi militer. 

Sponsored

Pemerintah Venezuela menutup perbatasan utama untuk memblokir pengiriman bantuan yang disediakan oleh Amerika Serikat dan negara-negara tetangga. Juan Guaido, pemimpin oposisi yang mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara, menyeberang ke Kolombia untuk membantu menggiring konvoi bantuan melintasi perbatasan meski dia sendiri telah dilarang bepergian.

Itu hanya satu dari gesekan yang terjadi sepanjang akhir pekan kemarin.

Menteri Luar Negeri Kolombia menuturkan 285 orang terlukan dan 37 orang diopname di sisi perbatasan mereka.

Sementara itu, Gubernur Puerto Rico Ricardo Rosselló pada Sabtu (23/2) menyatakan bahwa sebuah kapal Angkatan Laut Venezuela telah mengancam akan menembaki kapal yang mengangkut bantuan. 

Guaido, sebelumnya telah meminta komunitas internasional agar menjaga semua opsi terbuka. Twitnya pada Sabtu (23/2) malam menyiratkan kemungkinan bahwa dia ingin mengambil pendekatan yang lebih agresif untuk secara paksa menyingkirkan Maduro.

Sebanyak 60 tentara dilaporkan membelot ke oposisi di tengah situasi panas di perbatasan. Mayor Hugo Parra Martinez, tercatat sebagai petinggi militer kelima yang meninggalkan Maduro dan menyeberang ke kubu Guaido.

Menurut The New York Times,  sejauh ini hanya dua truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan yang berhasil melintasi perbatasan Brasil dan Venezuela. Beberapa lainnya mendekat mencoba mendekat, namun dihadang oleh pasukan pemerintah.

Presiden Kolombia Ivan Duque pada Minggu melakukan (24/2) menyambangi perbatasan dan memerintahkan pengetatan keamanan juga penutupan dua jembatan internasional dalam kurun 48 jam.

"Kemarin, kediktatoran menyegel kekalahan moral dan diplomatik mereka di hadapan dunia," tutur Duque.

Maduro, yang berkuasa pasca-meninggalnya Hugo Chávez, memenangkan kembali kursi kepresidenan dalam pemilu tahun lalu. Dia menolak seruan yang semakin meningkat untuk mundur atau mengadakan pemilihan baru. Sebagai gantinya, dia berjanji untuk mempercepat pemilu parlemen.

Merespons dukungan Kolombia terhadap oposisi, Maduro mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan negara itu. Dia memerintahkan semua diplomat Kolombia untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam.

Wapres AS akan temui pemimpin oposisi

AS, bersama dengan 50 negara lain, secara resmi mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela. Pemerintahan Trump sendiri telah mengeluarkan sanksi keras terhadap Venezuela serta secara terbuka menganjurkan transisi kekuasaan secara damai. 

Tekanan AS meningkat selama akhir pekan ketika bentrokan mematikan berlanjut.

Wakil Presiden Mike Pence dikabarkan berencana untuk bertemu Guaido secara langsung untuk pertama kalinya pada Senin (25/2). Keduanya dijadwalkan bertemu di Bogota, di sela-sela pertemuan Lima Group.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Sabtu mengkritik "gerombolan bersenjata" Maduro, dan menyerukan pasukan keamanan untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan untuk menjangkau rakyat Venezuela. 

"Sekarang adalah waktunya untuk bertindak mendukung demokrasi, dan menanggapi kebutuhan rakyat Venezuela yang putus asa," kata Pompeo.

Pada hari berikutnya, dia mengatakan bahwa "hari-hari Maduro sudah dihitung."

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menyebut pasukan Maduro "preman bertopeng," dan mengisyaratkan bahwa sanksi lebih lanjut mungkin akan segera tiba.

Meski Trump menginginkan transisi kekuasaan secara damai, namun dia tidak menghilangkan opsi intervensi militer dari atas meja.

Sumber : CNN