logo alinea.id logo alinea.id

WFP: Warga Yaman yang kami beri makan melebihi populasi Jakarta

Di Yaman terdapat 20 juta orang yang membutuhkan bantuan makanan, dan WFP menyediakan bagi 12 juta di antaranya.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 24 Jan 2019 16:59 WIB
WFP: Warga Yaman yang kami beri makan melebihi populasi Jakarta

Direktur Regional World Food Programme (WFP) untuk Timur Tengah Muhannad Hadi menuturkan bahwa perang di Yaman telah memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Yaman, jelas Hadi, adalah negara yang mengimpor 90% kebutuhan makanannya, mereka sangat bergantung kepada seluruh dunia untuk memberi mereka makan. Kini, ditambah dengan situasi perang yang terjadi, ketergantungan itu semakin meningkat.

"Di Yaman ada 20 juta orang yang membutuhkan bantuan makanan, kami menyediakan makanan untuk sekitar 12 juta orang di antara mereka," jelas Hadi dalam diskusi 'A Fight for Food Security: Navigating Humanitarian Responses in the Middle East' di Bengkel Diplomasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Mayapada, Jakarta, Rabu (23/1).

Jumlah tersebut lebih banyak dari populasi Jakarta. Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2017, populasi DKI Jakarta menyentuh angka 10.117.924 jiwa.

"Bayangkan, skala distribusi makanan WFP di Yaman itu sama dengan kami memberi makan seluruh populasi Jakarta," ungkapnya.

Untuk memberi bantuan pangan bagi warga Yaman, WFP membutuhkan sekitar US$150 juta setiap bulannya.

Tantangan di daerah konflik

Dilansir dari Reuters, Direktur UNICEF Timur Tengah Geert Cappelaere mengatakan, perang selama tiga setengah tahun telah mendorong Yaman ke ambang kelaparan. 

Sponsored

Kondisi perang tersebut, menurut Hadi, menimbulkan banyak tantangan bagi program kemanusiaan mereka. Terutama, ketika pemberontak Houthi menguasai dan menghadang jalur keluar-masuk bantuan pangan di pelabuhan Hodeidah.

"Hampir 70% hingga 80% impor Yaman berasal dari pelabuhan Hodeidah. Sekarang operasional pelabuhan sudah membaik, namun ada waktunya kami bahkan tidak bisa beroperasi di pelabuhan karena kegiatan militer. Padahal pelabuhan itu seperti garis hidup bagi warga Yaman," jelasnya.

Setelah berhasil melewati pelabuhan Hodeidah, proses panjang harus ditempuh agar bantuan pangan tiba di tangan warga Yaman.

Bantuan pangan tersebut diterima oleh tim logistik dan diantarkan ke gudang penyimpanan WFP di Yaman. Setelah itu, dengan bantuan dari LSM dan masyarakat setempat, WFP mendistribusikan makanan ke area yang membutuhkannya.

"Ini semua membutuhkan akses, dan akses tidak mudah. Kami harus mendapatkan izin, bernegosiasi, dan berdiskusi untuk akses kemanusiaan," katanya.

Hadi menuturkan bahwa banyak proses politik yang terlibat dalam proses pemberian bantuan pangan bagi Yaman. Salah satunya terasa dalam upaya mendapat akses bagi staf internasional untuk masuk ke Yaman.

"Otoritas di Sanaa, Houthi, mereka menolak permintaan visa dari staf internasional tanpa memberikan alasan jelas," jelasnya.

Selain itu, Hadi mengaku timnya di Yaman kerap dihadang militan dalam perjalanan menuju area untuk memberikan bantuan pangan.

"Sudah sering terjadi seperti ini, mobil kami dihadang dan ditodong senjata. Tidak diizinkan lewat padahal kami hanya ingin memberikan makanan, air bersih, dan obat-obatan bagi mereka yang membutuhkannya," tutur Hadi.

Salah satu perlindungan yang WFP miliki, menurut Hadi, adalah netralitas dan prinsip kemanusiaan mereka.

"Masalahnya, kami mendistribusikan makanan di zona perang, di mana ada pesawat yang melemparkan bom, orang-orang saling tembak, minim keamanan, dan kekacauan total. Jika gagal hari ini, kami coba esok lagi. Kami harus mendistribusikan makanan kepada mereka yang hanya bergantung pada kami," kata dia.