close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi seorang anak yang terserang influenza./Foto soumen82hazra/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi seorang anak yang terserang influenza./Foto soumen82hazra/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Kamis, 30 November 2023 19:01

Ancaman wabah pneumonia pada anak

Pneumonia pada anak merebak di China. Membuat kekhawatiran banyak pihak.
swipe

Meningkatnya kasus pneumonia misterius di China menimbulkan kekhawatiran. Beberapa waktu lalu, rumah sakit anak-anak di Beijing dan Liaoning dipenuhi anak-anak dengan penyakit tersebut. Pihak berwenang China mengaitkan peningkatan kasus pneumonia ini dengan dicabutnya pembatasan sosial pandemi Covid-19. Belanda jadi negara kedua yang melaporkan wabah serupa.

Terkait dengan situasi itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lewat Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menerbitkan surat edaran kewaspadaan dalam SE Nomor: PM.03.01/C/4632/2023 tentang Kewaspadaan terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia.

Dalam surat itu, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu meminta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan pemantauan perkembangan kasus dan negara terjangkit di tingkat global.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Imran Pambudi, dalam konferensi pers daring, Rabu (29/11) mengatakan, World Health Organization (WHO) masih memantau tren kasus di China dan beberapa negara lainnya. Indonesia diminta tidak menutup pintu masuk bagi pelaku perjalanan luar negeri dari negara-negara yang melaporkan kasus pneumonia itu.

Penyebab dan pencegahan

Menurut epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, pneumonia yang terjadi di China bukan disebabkan virus atau bakteri baru. “Namun merupakan outbreak yang sudah diketahui patogennya atau penyebabnya,” ujar Dicky kepada Alinea.id, Kamis (30/11).

“Ternyata (penyebabnya) campuran, baik virus ataupun bakteri, virus seperti SARS-CoV-2, influenza, atau RSV virus, Adenovirus, Larynovirus, termasuk bakteri seperti Mycoplasma.”

Dijelaskan Dicky, yang terjadi di China adalah konsekuensi logis dari sebuah penyakit yang mewabah—awal mulanya sebagai pandemi, kemudian menjadi endemi. “Berarti pneumonia yang terjadi di China sudah bukan misterius lagi, sudah jelas penyebabnya,” kata dia.

Terkait Covid-19, Dicky menerangkan, penyakit Covid-19 menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Membuat daya tahan tubuh menjadi buruk. Di waktu bersamaan dengan pola musiman Covid-19, infeksi saluran napas lain juga muncul.

“Ini karena anak yang terinfeksi Covid-19 sebelumnya, membuat mereka lebih mudah terserang, terinfeksi penyakit saluran napas lain,” ujar Dicky.

Ia menyebut, sebenarnya pneumonia secara umum tak ada yang fatal dan bisa sembuh sendiri. Akan tetapi, dalam konteks wabah yang terjadi di China, ada beberapa jenis pneumonia yang punya perubahan dalam respons atau karakter.

“Sebagai contoh, Mycoplasma pneumonia, yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma. Sebelumnya untuk kasus ini banyak yang cepat pulih ketika diberi antibiotik,” ujarnya.

“Kasusnya sekarang, banyak dari kasus yang diobati ini tidak memberikan respons efektif terhadap antibiotik karena ditemukan resistensi. Jadi, bakterinya sudah kebal, ini yang berbahaya.”

Walau sejauh ini tak ada yang fatal, tetapi menurut Dicky, membuat anak-anak harus menjalani perawatan di rumah sakit. “Tentu orang tua menjadi khawatir, sehingga banyak yang langsung membawa anaknya ke rumah sakit,” kata dia.

“Dan banyak dari kasus ini juga disertai keluhan gastroenteritis, yang membuat anak-anak banyak yang dehidrasi, akhirnya juga memerlukan bantuan untuk dirawat di rumah sakit.”

Di sisi lain, menurut pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono, setelah dipelajari, penularan pneumonia pada anak di China tidak cepat. Meski sama seperti Covid-19, menular melalui batuk atau udara yang terkontaminasi.

“Tingkat kematian juga rendah sekali,” ujarnya, Kamis (3011).

Pandu membeberkan, sesungguhnya di Indonesia juga ada masalah peningkatan kasus infeksi atau gangguan pernapasan pada anak. Biasanya terjadi musiman, terkadang saat musim hujan hingga musim kemarau.

Pandu menyebut, pneumonia ini adalah penyakit lama dengan penyebab yang sudah lama juga. Di Indonesia pun sudah banyak terjadi sebelum Covid-19. Penyakit radang paru karena Mycoplasma juga sudah banyak kasusnya, dan bisa diobati dengan antibiotik.

“Jadi, kalau ada penyakit seperti ini, segera berobat. Jadi bisa diatasi dengan cepat, itu penting,” ucap Pandu.

“Memang untuk terinfeksinya tidak begitu parah, tapi kan kalau anak sakit bagaimana pun juga membuat orang tua gelisah. Itu yang menyebabkan jadi ada kekhawatiran.”

Namun, Dicky mewanti-wanti, lonjakan kasus pneumonia bisa menjadi ancaman di masa depan. Sebab, penyakit itu menjadi siklus dan berpotensi meningkat secara musiman.

“Bisa satu tahun sekali, dua, atau tiga tahun sekali, seperti itu,” ucapnya.

Pangkalnya, kata dia, dalam setiap wabah saat penyakit menjadi endemi, maka bakal menyerang populasi yang belum memiliki imunitas. Populasi yang paling rawan dengan imunitas lemah adalah anak-anak.

“Karena anak-anak ini banyak yang baru lahir, atau beranjak dari bayi jadi balita, yang tentunya lebih berisiko,” tutur dia.

Menurut Dicky, Indonesia berpotensi punya risiko yang hampir sama, mengalami kejadian wabah pneumonia ini. Namun, bisa jadi berbeda periodenya, tak dalam waktu bersamaan. Sebab, hal ini terkait faktor interaksi dan imunitas masyarakat, dengan faktor epidemiologi penyakit itu.

“Dari interaksi faktor tadi, intinya bicara seberapa besar populasi daerah-daerah di Indonesia yang masuk kategori kelompok rawan,” ujar dia.

“Artinya, ketika populasi di masyarakat sudah masuk kategori overshoot population yang emmadai untuk terjadi outbreak, itulah yang akan menimbulkan kasus serupa seperti di China.”

Karenanya, hal itu mesti diantisipasi dengan cara perubahan perilaku, mematuhi protokol kesehatan. Kemudian, ujar Dicky, pemerintah pun harus meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Termasuk melakukan pengawasan penyakit influenza, sebagai sebuah sistem peringatan dini yang dibangun untuk mendeteksi kasus-kasus penyakit pneumonia.

Lalu, untuk menghindari jumlah penduduk yang berisiko, diperlukan juga vaksinasi. “Vaksinasi pneumonia, vaksinasi Covid-19, vaksinasi saluran pernapasan lain, seperti DTP,” kata dia.

“Ini menjadi penting buat anak, atau bahkan kelompok dewasa yang rawan, seperti lansia atau komorbid.”

Sementara Pandu mengatakan, tak perlu ada pengawasan di pintu-pintu masuk. Karena penyakitnya sudah ada di Indonesia. “Kan ini penyakit lama,” tutur Pandu.

“Tapi kan, fenomenanya karena banyak terjadi bukan hanya di China, sekarang sudah dilaporkan di Belanda.”

Penyebabnya, ujar Pandu, di Belanda tengah musim dingin. Akibatnya, banyak anak yang terkena pneumonia. Meski begitu, ia mengingatkan, agar orang tua dan layanan kesehatan tak menganggap remeh.

“Kalau ada anak demam, batuk, segera berobat saja. Kalau sakit jangan sekolah, jangan bermain, supaya tidak menularkan kepada teman-temannya,” kata dia.

“Di China kan penularannya di sekolah, jadi banyak anak yang kena.”

img
Rizky Fadilah
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan