sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Apakah mengonsumsi alkohol bisa menyebabkan kebutaan?

Dampak dari mengonsumsi alkohol berlebihan, bakal menimbulkan efek jangka panjang, seperti reaksi tertunda antara mata dan otak.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Rabu, 13 Mar 2024 19:12 WIB
Apakah mengonsumsi alkohol bisa menyebabkan kebutaan?

Dalam siniar di kanal YouTube aktor Denny Sumargo pada Minggu (10/3), Azhiera Adzka Fathir—mantan istri eks kiper Arema Malang dan tim nasional sepak bola Indonesia Kurnia Meiga—membongkar gaya hidup Meiga sewaktu masih aktif menjadi pemain sepak bola hingga mengalami gangguan penglihatan.

Azhiera mengatakan, kebutaan pada mata Meiga sejak 2017 disebabkan kebiasaan mengonsumsi alkohol sejak usia 18 tahun. Bahkan, setelah matanya mengalami kebutaan, Azhiera menyebut, kebiasaan buruk itu belum juga ditinggalkan.

Seperti diketahui, sejak 2017 Meiga menghilang dari dunia sepak bola nasional karena masalah kesehatannya. Kedua matanya mengalami kebutaan secara tiba-tiba. Sebelumnya, tak ada yang pasti terkait penyebab masalah penglihatan yang dialami Meiga. Meiga sendiri kerap menyebut diguna-guna atau mengidap penyakit langka. Ada pula yang menyebut, Meiga mengidap papilledema—sebuah kondisi saraf optik mata pada area cakram optik mengalami pembengkakan lantaran tekanan intrakranial.

Lantas, apakah kebiasaan mengonsumsi alkohol memang bisa menyebabkan kebutaan pada seseorang?

World Health Organization (WHO) melaporkan, konsumsi alkohol merupakan faktor penyebab lebih dari 200 penyakit, cedera, dan kondisi kesehatan lainnya. Mengonsumsi alkohol pun dikaitkan dengan risiko munculnya masalah kesehatan, seperti gangguan mental dan perilaku, penyakit kardiovaskular, beberapa jenis kanker, dan penyakit tak menular seperti sirosis atau kerusakan hati kronis.

Medical News Today menulis, mengonsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan masalah penglihatan, termasuk kebutaan.

“Efeknya mungkin bersifat jangka pendek, seperti penglihatan kabur atau ganda, atau bisa juga bersifat jangka panjang dan berpotensi permanen,” tulis Medical News Today.

Dampak dari minum minuman keras berlebihan, disebut Medical News Today, bakal menimbulkan efek jangka panjang, seperti reaksi tertunda antara mata dan otak—yang bisa menyebabkan penglihatan ganda atau terganggu, penurunan kemampuan pupil untuk melebar—yang memengaruhi reaksi seseorang terhadap cahaya dan melihat warna, mata merah karena pembuluh darah membesar, sakit kepala migrain, ambliopia toksik atau neuropati optik nutrisi—yang menyebabkan kehiangan penglihatan, degenerasi makula terkait usia dini—yang menyebabkan kehilangna penglihatan atau kebutaan, perubahan persepsi warna, dan mata kering.

Sponsored

“Bahkan konsumsi alkohol dalam jumlah sedang dapat menyebabkan perubahan pada penglihatan seseorang,” tulis Medical News Today. “Misalnya, banyak orang mengalami ketidakseimbangan otot mata, namun otak yang sadar dapat mempertahankan penglihatan tunggal yang tajam.”

Medical News Today menjelaskan, mengonsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan pada otak dan mata. Hal ini juga dapat merusak atau mempercepat penuaan berbagai struktur di dalam mata, seperti lensa, retina, dan saraf optik.

“Selain itu, mungkin memiliki efek toksik, yang dapat menyebabkan berkembangnya kondisi yang mengganggu penglihatan,” tulis Medical News Today.

“Minum alkohol dalam jumlah banyak dapat menyebabkan efek jangka panjang pada mata dengan tingkat keparahan bervariasi, mulai dari pergerakan mata yang cepat hingga kehilangan penglihatan dan kebutaan.”

Para peneliti dari Iran dalam Journal of Ophthalmic and Vision Research (April-Juni, 2021), meninjau hasil riset yang dipublikasi dari tahun 1952 hingga Maret 2022 untuk menemukan kaitan erat antara konsumsi berlebihan alkohol dengan gangguan pada mata.

Mereka menemukan, degenerasi makula kerap menjadi penyebab kebutaan di kalangan lansia di negara maju. Ternyata, konsumsi alkohol kurang-lebih 30 gram per hari berkorelasi dengan risiko degenerasi makula dini yang lebih tinggi sebesar 47%-67%.

Paparan alkohol saat remaja—yang tengah memasuki masa perkembangan neurologis yang penting—dapat menyebabkan beberapa cacat penglihatan, terutama cacat penglihatan warna.

“Kinerja visual skotopik juga memburuk karena konsumsi alkohol yang berlebihan. Peningkatan ukuran pupil dan gangguan lapisan air mata dianggap sebagai faktor etiologi penurunan kualitas optik,” tulis para peneliti.

Di samping itu, hasil penelitian The Framingham Eye Study, sebut para peneliti, menunjukkan konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi berhubungan dengan glaukoma. Menurut Mayo Clinic, glaukoma adalah kondisi mata yang saraf optiknya rusak karena tekanan yang tinggi. Lalu, dalam penelitian Long Island Glaucoma Case-Control Study ditemukan, konsumsi alkohol lebih sering terjadi pada pasien dengan tekanan intraokular lebih tinggi.

Lebih lanjut, para peneliti menerangkan, konsumsi alkohol dalam jumlah yang besar menghasilkan radikal bebas di hati. Transmisinya ke lensa dapat menyebabkan agregasi protein lensa, yang mengakibatkan pembentukan katarak.

“Paparan alkohol berlebih meningkatkan kadar kalsium lensa intraseluler melalui penghambatan pompa kalsium pada serta lensa. Gangguan homeostasis kalsium ini bsia menyebabkan pembentukan katarak,” tulis para peneliti.

Di sisi lain, para peneliti dari Hakodate Municipal Hospital dan Saitama Medical University Hospital di Jepang, dalam publikasi riset mereka di Acute Medicine & Surgery (2021) menemukan, pada kondisi ketoasidosis alkoholik—biasanya terjadi ketika seseorang yang mengonsumsi alkohol berlebihan, mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi—terjadi peningkatan badan keton yang didominasi asam hidroksibutirat, menyebabkan asidosis metabolik dengan kesenjangan anion yang tinggi.

“Gejala umumnya berupa mual, muntah, nyeri perut, gangguan kesadaran, dan syok,” tulis para peneliti.

Para peneliti menebut, ketoasidosis alkoholik dapat dikaitkan dengan defisit penglihatan berupa kebutaan total sementara. “Kami berspekulasi, kehilangan penglihatan yang berhubungan dengan AKA (ketoasidosis alkoholik) disebabkan kombinasi kompleks dari asidemia, malnutrisi, dan toksisitas etanol,” tulis para peneliti.

Berita Lainnya
×
tekid