sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Hukum makan sahur setelah imsak

Imsak adalah istilah dalam Islam yang artinya berpantang dan menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa.

Armidis
Armidis Jumat, 24 Mei 2019 02:24 WIB
Hukum makan sahur setelah imsak

Dalam rangka menjaga kualitas ibadah puasa, pemahaman seputar puasa mesti diperdalam. Sebab, banyak istilah-istilah baru muncul tetapi malah membuat kualitas puasa berkurang bahkan cenderung menyesatkan.

Kali ini, Alinea.id ingin berbagi pengetahuan soal satu istilah yang kerap dipakai pada bulan Ramadan tiba. Istilah itu adalah imsak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Imsak yang telah diserap sebagai kata baku, merupakan istilah dalam Islam yang artinya berpantang dan menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sadik sampai datang waktu berbuka.

Imsak dalam literatur ilmu fiqih, memiliki pengertian berbeda dari pemahaman yang berkembang di Indonesia. Ada semacam istilah yang dipopulerkan kemudian menjadi acuan bersama, padahal istilah tersebut tidak tepat.

Di Indonesia, imsak diartikan sebagai batas untuk menahan diri dari menyantap makanan. Pengertian ini tidak sepenuhnya salah. 

Akan tetapi, saat imsak dijadikan patokan dimulainya waktu berpuasa itulah yang menjadi masalah. Jika dijadikan patokan berpuasa, seolah-olah ada jeda waktu antara imsak hingga azan subuh.

Di dalam kita Al-Fiqh Al-Manhaji fil Fiqh As-Syafi'i juz 2 halaman 73, Musthafa al-Khin membuat definisi ketat tentang batasan waktu puasa.

والصيام شرعا الامساك عن المفطرات من طلوع الفجر غروب الشمش مع النية

Sponsored

Puasa dalam makna epistemologi atau istilah adalah menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari.

Ustaz Faris BQ mengatakan, meski siaran televisi, radio, jadwal imsakiyah sering mengumumkan waktu imsak, bukan berarti kegiatan makan dan minum dilarang. Sebab, yang menjadi waktu dimulainya melakukan puasa adalah saat terbitnya fajar.

"Imsak yang kita kenal di Indonesia, justru di sana lah waktu yang paling baik untuk makan dan minum. Karena sunnah melaksanan sahur di akhir-akhir waktu," kata lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, itu saat dimintai pendapatnya oleh Alinea.id, Jakarta, Rabu (22/5).

Ia menukil sebuah cerita di zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi, sebagai pendanda waktu puasa hanya azan dan tidak mengenal istilah imsak.

Saat itu, ada dua yang bertugas mengumandangkan azan pada waktu subuh. Ibn Ummi Maktum menjadi petugas azan pertama, dan selang beberapa waktu Bilal bin Rabah bertugas melakukan azan kedua.

"Kata Nabi, makan minumlah kamu saat mendengar azan Ibn Ummi Maktum adzan. Berhentilah saat Bilal azan," kata Faris.

Di Indonesia, imsak sebenarnya dibuat sebagai sikap kehati-hatian agar tidak melewati batas kapan dimulainya puasa. Bukan dalam pengertian melarang makan dan minum.