close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pixabay
Sosial dan Gaya Hidup
Selasa, 23 November 2021 22:56

Ini faktor masyarakat Indonesia sulit menjangkau makanan sehat

Kasus malnutrisi yang beragam berdampak berat bagi Indonesia, terutama pembangunan manusia dalam jangka panjang.
swipe

Kasus stunting dan obesitas menjadi dua masalah kesehatan utama yang menjangkit anak-anak dan remaja di Indonesia. Mahalnya harga pangan menjadi salah satu faktor malnutrisi bagi generasi muda. 

Berdasarkan data World Food Programme, separuh masyarakat Indonesia timur kesulitan mengakses makanan sehat. Kecenderungan mengonsumsi makanan instan juga dipicu harga makanan sehat yang mahal. Jauh lebih mahal dibanding negara tetangga, seperti Vietnam dan Myanmar.

Chief of Analysis for Nutrition WFP, Saskia De Pee, menyebutkan, diperlukan sejumlah tahapan penting untuk mendapatkan makanan yang sehat dan kaya nutrisi. Sistem pangan bergantung pada pendapatan individu dan alokasi uang untuk kebutuhan pangan. 
Pendapatan inilah yang akan mempengaruhi konsumsi dalam rumah tangga. Tingkat ekonomi juga akan berdampak pada rantai pasokan makanan, di mana lingkungan pangan, akses terhadap bahan pangan, kebiasaan mengonsumsi panganan juga memberi andil sangat besar.

Sayangnya, kebiasaan ini tidak ditopang pengetahuan tentang prioritas pembelian makanan dan ilmu pengetahuan. WFP pun mencoba memetakan program-program yang linier untuk menjangkau makanan sehat. 

“Kami mencoba membuat karakteristik sistem pangan dan mengidentifikasi intervensi yang mungkin bisa dilakukan serta memperkirakan harga minimal yang bisa diakses kemampuan ekonomi kita untuk mendapatkan makanan sehat,” ujar Saskia dalam webinar, Selasa (23/11).

Skenario model yang bisa dilakukan adalah mengintervensi sektor yang berbeda dengan penanganan pangan dengan tujuan menigkatkan gizi masyarakat. Pertama, meningkatkan pendapatan rumah tangga dan total uang yang dihabiskan individu atau pemerintah untuk membeli bahan pangan. Intervensi ini sudah dilakukan dengan pemberian bantuan sosial (bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), dan bantuan sosial tunai (BST).

Kedua, meningkatkan jumlah nutrisi dalam makanan dengan perlindungan terhadap beras, sayuran, dan bahan pokok lainnya. Ketiga, intervensi tertarget pada kelompok rentan seperti pemberian suplement pada kelompok remaja perempuan, ibu hamil, dan menyusui, serta memberikan asupan makanan sehat khusus untuk ibu menyusui. Terakhir, meningkatkan ketersediaan dan menurunkan harga makanan sehat.

Stunting dan obesitas
Tren di Indonesia menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam memerangi stunting. Namun, obesitas dan penyakit yang tidak terlaporkan menjadi masalah lain yang justru semakin meningkat.

Di samping minimnya data, fakta yang terkonfirmasi bahwa nutrisi yang kurang menjadi faktor penyebab hal tersebut menyebar luas. Kualitas diet orang-orang miskin yang tak dapat menjangkau makanan sehat menjadi faktor umum yang tidak bisa berubah menyoal malnutrisi ini.

Meskipun stunting lambat laun menurun, malnutrisi tetap tinggi secara merata di semua daerah. Kendati data nasional sangat minim, ada fakta-fakta malnutrisi mikronutrien yang sangat tinggi karena kualitas makanan yang sangat buruk.

Kasus malnutrisi yang beragam berdampak berat bagi Indonesia, terutama pembangunan manusia dalam jangka panjang. Biaya kesehatan diperkirakan membengkak hingga US$118 juta akibat pemberian makan yang tidak benar, kehilangan 5-10 poin IQ untuk anak-anak dengan kasus stunting, serta 10% angka harapan hidup dan produktivitas yang lebih rendah.

Sayangnya, pengaturan makanan yang sehat berbasis nutrisi membutuhkan biaya antara Rp6.500-Rp14.000 per kapita setiap hari berdasarkan tempat tinggalnya atau rata-rata Rp8.500 per hari. Harga ini 2,5 kali lebih mahal ketimbang sekadar memenuhi kebutuhan energi.

Di Indonesia timur, seperti Maluku yang angka malnutrisi sangat tinggi, justru menjual makanan dengan harga yang lebih mahal. Dengan harga itu, ada sedikitnya 48% penduduk Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan makanan sehat seharga Rp14.000-Rp16.000 per kapita setiap harinya.

WFP Representative, Christra Rader, menambahkan, pekerjaan rumah paling besar di Indonesia adalah memperkecil gap pemerolehan makanan bernutrisi. Pemerintah melalui kebijakan juga harus membuat harga makanan terjangkau, terutama bagi kelas menengah ke bawah.

Sementara itu, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menerangkan, peningkatan SDM menjadi salah satu fokus rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN). Pemerintah diakuinya punya andil besar dalam memperbaiki kualitas pangan.

img
Nadia Lutfiana Mawarni
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan