sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menekuri jalan kemanusiaan Mahatma Gandhi

“Saya menolak kekerasan karena saat terlihat menghasilkan kebaikan, kebaikan itu hanyalah sementara; keburukan yang dihasilkannya kekal."

Bima Yairiba
Bima Yairiba Minggu, 08 Apr 2018 23:07 WIB
Menekuri jalan kemanusiaan Mahatma Gandhi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Saat agama dikapitalisasi sebagai alat gebuk, telaah kembali ajaran Mahatma Gandhi jadi terasa sangat relevan dewasa ini. Sebab, bagi Gandhi kekerasan hanyalah ilusi yang alih-alih merampungkan persoalan, justru membuatnya kian keruh. Pemikiran Gandhi ini begitu apik dirangkum guru spiritual asal Kerala India Eknath Easwaran.

Dalam buku bertajuk “Gandhi the Man”, Eknath berihtiar mengantarkan gagasan perdamaian Gandhi, yang mulanya terasa di Menara gading. Namun lewat buku ini, gagasan tersebut didaratkan ke bumi dengan sangat rigid dan deskriptif.

Apalagi di tengah maraknya biografi yang ditulis dengan mengedepankan semangat patriotik yang dicapai melalui unsur kekerasan, biografi yang ditulis oleh profesor sastra Inggris ini, mengisahkan semangat nasionalisme yang dicapai dengan jalan damai.

Mohandas Karamchand Gandhi sendiri sudah mafhum dikenal khalayak sebagai guru spiritual dan aktivis politik asal India. Pria berperawakan mungil itu terlibat dalam upaya memerdekakan India dari cengkraman kolonial Inggris.

Easwaran memulai narasinya dengan lika-liku perjuangan hidup lelaki yang kelak dipanggil dengan sebutan “Mahatma” itu.

Fokus pembahasannya menitikberatkan pada kisah-kisah yang menjadi poin berharga dalam kehidupan Gandhi. Poin-poin tersebut tidak selalu membahagiakan, terkadang pada beberapa bagian juga memperlihatkan sikap putus asa dari bapak pendiri negara India ini.

Seperti pada suatu sidang, Gandhi yang kala itu menjadi pengacara muda minim pengalaman, terpaksa meninggalkan ruangan dan kliennya karena dilanda kegugupan. Bagian ini menjadi penanda jika penulis tak sekadar menyortir episode Gandhi yang penuh hingar bingar prestasi. Penulis ingin menunjukkan, Gandhi tetaplah manusia biasa yang punya kelemahan.

Ketika Gandhi sudah menemukan dirinya kembali, ia dihadapkan banyak persoalan semasa tinggal di Afrika. Ia ditendang keluar dari kereta karena menduduki gerbong kelas pertama, yang kala itu hanya disediakan untuk orang kulit putih.

Sponsored

Puncak kesadaran sekaligus penyesalan Gandhi lahir di akhir pertengkaran dengan istrinya, Kasturbai. Saat itu, Gandhi yang baru menyelesaikan studinya di London telah menyatakan dirinya sepenuhnya beradab dan menyadari hak-hak legalnya.

Namun, istrinya adalah orang pertama yang ingin dibuatnya terkesan. Kepadanya Gandhi mulai menuntut hak-haknya sebagai suami. Sayang, Kasturbai merupakan perempuan teguh yang memiliki keinginannya sendiri. Konflik antara mereka pun tak terhindarkan hingga puncaknya adalah pengusiran Kasturbai yang tak tahan menghadapi kisruh rumah tangga. Gandhi pun menyesal dan mengutarakan maafnya kepada sang istri.

Sejak saat itu, perlahan tapi pasti Gandhi mengubah cara berpikirnya. Daripada memaksakan hak-haknya, ia bisa memilih memenuhi kewajibannya. Pikiran itu merupakan lompatan besar di kehidupan Gandhi.

Prinsipnya bulat setelah itu, baginya, mengetahui adalah merasakan, merasakan adalah melakukan, melakukan adalah menjalani hidup. Dengan demikian, daripada memaksakan prinsipnya kepada istri, ia memilih untuk menunjukkan teladan dari dirinya sendiri. “Untuk mengubah orang lain, terlebih dahulu kamu harus mengubah dirimu,” tuturnya dalam buku setebal 256 halaman ini.

Suatu hari setelah lama meninggalkan Afrika Selatan, ia membalas sepucuk surat yang menyerukan para pemimpin dunia agar menyerukan hak asasi manusia. Ia berujar, “Berdasarkan pengalamanku, adalah lebih penting untuk memiliki piagam kewajiban asasi manusia.”

Pernyataan itu diikuti dengan pencarian panjang untuk menemukan jalan perdamaian. Pencarian terbesar itu menuntunnya untuk mengambil sikap yang lebih radikal, yakni melepaskan semua unsur negatif dalam diri yang terwujud dalam sikapnya yang antikekerasan (nirkekerasan).

Dengan gerakan itu, ia berhasil menyebarkan pesan perdamaian hampir di seluruh India. Menjaga kewarasan publik dan tetap teguh tanpa ampun membela hak-haknya sebagai manusia.

Nirkekerasan baginya adalah cara terbaik yang dapat mengubah tatanan sosial yang antagonis. Karena ia percaya, melakukan kebaikan dengan kekerasan adalah sia-sia, sebab kebaikan itu adalah semu, sedangkan kerusakan yang akan terjadi bersifat permanen.

Salah satu prinsip itu direproduksi lewat gerakan turun ke bawah (turba) langsung. Ia melakukan kampanye garam di India seraya menyebarkan gagasan ini. Pria itu melangkah cepat dalam tiap aksinya menyusuri jalan-jalan perkampungan India, hingga ke pantai untuk memproduksi garam bagi rakyat.

Lewat debut buku ketiganya, Eknath berupaya menghidupkan Gandhi kembali dalam realitas masyarakat. Minimal menularkan kegelisahan imam besar India dan menjadikannya pengingat bersama, saat dunia terlampau gaduh dijejali aksi kekerasan berkedok agama dan pledoi harga diri.

Berita Lainnya
×
img