close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi seseorang yang berjalan sendirian di sebuah lahan parkir./Foto harutmovsisyan/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi seseorang yang berjalan sendirian di sebuah lahan parkir./Foto harutmovsisyan/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 22 November 2023 20:05

Mengintervensi risiko kematian akibat kesepian

Risiko kematian akibat kesepian dan isolasi sosial sebanding dengan merokok, konsumsi alkohol, ketidakaktifan fisik, dan obesitas.
swipe

Baru-baru ini, World Health Organization (WHO) menyatakan kesepian sebagai ancaman kesehatan dunia yang mendesak. Organisasi kesehatan dunia itu sudah membentuk komisi internasional untuk mengatasi masalah ini, dipimpin ahli bedah umum Amerika Serikat, Vivek Murthy dan utusan pemuda Uni Afrika, Chido Mpemba. Komisi tersebut akan berjalan selama tiga tahun.

Problem kesepian terjadi usai pandemi Covid-19 yang menghentikan aktivitas sosial dan ekonomi. Dampak kematian akibat kesepian, disebut setara dengan merokok 15 batang sehari.

Dikutip dari The Guardian, Murthy mengatakan, walau kesepian kerap dianggap sebagai masalah di negara-negara maju, namun satu dari empat lansia yang mengalami isolasi sosial sebanding di seluruh dunia.

Pada orang dewasa yang lebih tua, kesepian dihubungkan meningkatnya risiko demensia sebesar 50% dan risiko penyakit arteri koroner atau stroke sebesar 30%. Hal ini juga dapat merusak kehidupan generasi muda. Disebutkan, antara 5% dan 15% remaja mengalami kesepian.

Fakta dan intervensi kesepian

Apa yang disampaikan WHO tampaknya sejalan dengan penelitian Harry Owen Taylor dari University of Toronto, Thomas K.M. Cudjoe dari Johns Hopkins University, Feifei Bu dari University College London, dan Michelle H. Lim dari The University of Sydney bertajuk “The state of loneliness and social isolation research: Current knowledge and future directions”. Riset itu terbit di Jurnal BMC Public Health pada Juni 2023.

Dalam penelitian itu, mereka membedakan antara kesepian dan isolasi sosial. Menurut Taylor dkk, kesepian adalah kondisi yang dirasakan seseorang saat tak puas dengan kualitas dan kuantitas hubungan sosial mereka. Sedangkan isolasi sosial adalah kondisi objektif yang ditandai kurangnya kontak dengan orang lain dan terputus dari kelompok sosial.

“Temuan dari studi empiris menunjukkan, peningkatan kesepian dan/atau isolasi sosial terkait dengan kesehatan yang lebih buruk. Risiko kematian akibat kesepian dan isolasi sosial sebanding dengan merokok, konsumsi alkohol, ketidakaktifan fisik, dan obesitas,” tulis Taylor dkk.

Dampak lainnya berpengaruh pada kesehatan, meliputi penyakit kardiovaskular, demensia dan penurunan kognitif, serta gejala kecemasan dan depresi. Angka kesepian dan isolasi sosial bervariasi di seluruh dunia. Menurut para peneliti, kesepian pada remaja paling rendah di negara-negara Asia Tenggara dan paling tinggi di negara-negara Timur Tengah.

“Di Eropa, kesepian paling tinggi di negara-negara Eropa Timur dan paling rendah di negara-negara Eropa Utara,” ujar Taylor dkk.

Berpijak dari penelitian sebelumnya, para periset menulis, 34% orang dewasa di Australia merasa kesepian. Di Amerika Serikat, 43% orang dewasa merasa kekurangan kebersamaan, 43% merasa hubungan mereka tak bermakna, 43% merasa terisolasi, dan 39% tak lagi merasa dekat dengan siapa pun. Para peneliti melanjutkan, di Australia ada 17% dari populasi umum masuk dalam kategori terisolasi sosial.

“Pandemi Covid-19 juga telah menghadirkan masalah kesepian dan isolasi, terutama dengan diberlakukannya kebijakan jarak sosial,” tulis Taylor dkk.

“Bukti tentang tingkat prevalensi kesepian dan isolasi selama pandemi Covid-19 bervariasi, dengan beberapa temuan yang menunjukkan peningkatan, yang lain tak menemukan perbedaan dibandingkan sebelum pandemi.”

Dalam riset lainnya bertajuk “Loneliness matters: A theoretical and empirical review of consequences and mechanisms”, terbit di Jurnal Annals of Behavioral Medicine (Oktober, 2010) dua peneliti asal University of Chicago, yakni Louise C. Hawkley dan John T. Cacioppo menyebut, sebanyak 80% dari mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan 40% dari orang dewasa yang berusia di atas 65 tahun merasa kesepian.

“Tingkat kesepian itu perlahan berkurang selama masa dewasa pertengahan, dan meningkat pada usia tua, lebih dari 70 tahun,” tulis Hawkley dan Cacioppo.

Kepada CBC, dosen di Harvard Medical School Jeremy Nobel mengatakan, ada tiga jenis utama kesepian, yang semuanya bisa dialami setiap orang dalam tingkat yang berbeda-beda, antara lain kesepian psikologis, sosial, dan eksistensial atau spiritual.

“Memahami akar penyebab kesepian seseorang adalah penting, sehingga intervensi dapat disesuaikan untuk mengatasinya,” ujar Nobel.

Sementara itu, dalam riset bertajuk “The complexity of loneliness” yang terbit di Jurnal Acta Biomedica (2018), tiga peneliti dari Spanyol, yakni Javier Yanguas, Sacramento Pinazo-Henandis, dan Francisco Jose Tarazona-Santabilnina menulis, intervensi paling efektif pada kesepian yang dialami orang yang sudah tua adalah intervensi kelompok.

“Intervensi ini menyediakan dukungan dan kegiatan edukasi, diarahkan pada kelompok tertentu, didukung sumber daya komunitas yang ada, melibatkan pelatihan dari fasilitator,” tulis para peneliti.

Taylor dkk menulis, di banyak negara, terdapat intervensi dalam hal kebijakan untuk mengurangi rasa kesepian dan isolasi sosial. Gerakan yang terkenal, misalnya Campaign to End Loneliness di Inggris dan Ending Loneliness Together di Australia. Kendati begitu, kesepian dan isolasi sosial bukan cuma masalah terbatas di negara-negara maju.

“Dalam studi prevalensi, masalah ini terjadi di seluruh dunia. Oleh karena itu, kebijakan dan advokasi global sangat diperlukan,” tulis Taylor dkk.

Namun, menurut Yanguas dkk, sayangnya efektivitas intervensi untuk meningkatkan kesehatan belum terbukti. Yanguas dkk mengingatkan, intervensi kesepian yang efektif harus diadaptasi secara kultural dan mempertimbangkan keunikan setiap individu.

Problem yang tak kalah penting, menurut Taylor dkk, ada riset yang jauh lebih sedikit tentang kesepian dan isolasi sosial pada kelompok etnis tertentu, komunitas imigran, identitas gender dan orientasi seksual, populasi dengan disabilitas dan neurodivergent, populasi dengan gangguan mental berat, orang miskin, dan kelompok sosial-budaya lainnya.

“Mereka berada pada kerugian sosial dan marginalisasi terbesar, yang mungkin memiliki tingkat kesepian dan isolasi tertinggi, dan juga mungkin punya risiko lebih tinggi terkait kesepian dan terisolasi,” tulis Taylor dkk.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan