close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi boneka objektum seksual./Foto JACLOU-DL/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi boneka objektum seksual./Foto JACLOU-DL/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Senin, 29 Januari 2024 16:55

Objectophilia: Anomali cinta terhadap benda mati

Objectophilia adalah orientasi seksual yang melibatkan ketertarikan emosional, romantis, atau seksual terhadap objek tertentu.
swipe

Seorang perempuan di Brasil, Meirivone Rocha Moraes, mengaku telah memiliki tiga anak dari pernikahannya dengan boneka kain bernama Marcelo. Moraes mengklaim, punya anak bernama Marcelinho dan sepasang anak kembar bernama Marcela dan Emilia. Foto-foto Moraes bersama Marcelo dan tiga anak mereka viral di media sosial.

Moraes bukan satu-satunya orang yang mengaku mencintai benda mati. Daily Mail pernah mengangkat kisah beberapa orang lainnya.

Misalnya, perempuan di Jerman bernama Sarah Rodo yang mengaku punya hubungan dengan pesawat terbang Boeing-737. Ia mengatakan, sudah bepergian lebih dari 30 kali dalam setahun untuk menghabiskan waktu bersama “kekasihnya”. Aakash Majumdar dari India mengaku sudah melamar seikat balon. Ia merasa iba dengan balon-balon itu karena terlalu rapuh dari benda tajam dan perubahan suhu, sehingga ia punya hasrat untuk melindunginya.

Kisah-kisah menjalin hubungan tak biasa tadi dikenal dengan objectophilia atau objektum seksual. Menurut profesor filsafat dan Direktur Lab Brogaard untuk penelitian multisensori di University of Miami, Berit Brogaard, objectophilia adalah orientasi seksual yang melibatkan ketertarikan emosional, romantis, atau seksual yang bertahan lama terhadap objek tertentu.

Objectophilia mendapat perhatian media pertama kali pada 1979, ketika Eija-Riitta Eklof menikah dengan Tembok Berlin,” tulis Brogaard dalam Psychology Today.

Brogaard memandang, walau cenderung mirip, objectophilia sebenarnya bukan fetish. Fetish biasanya diasosiasikan dengan bagian tubuh atau benda yang bisa dipakai—seperti sarung tangan kulit. Namun, objectophilia melibatkan pembentukan hubungan emosional, romantis, atau seksual dengan seluruh atau beberapa objek.

“Hubungan yang dibentuk penderita objectophilia dengan objeknya mirip hubungan seksual yang terbentuk dari kaum non-objectophilia terhadap pasangan manusianya,” tulis Brogaard.

Menurut psikolog Shivani Misri Sadhoo dan konselor hubungan Sudha Anantharam dalam Hindustan Times, ada lima alasan mengapa seseorang bisa menderita objectophilia. Pertama, isolasi sosial.

“Orang yang sangat pemalu dan kesepian mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan normal,” kata Sadhoo dan Anantharam.

“Mereka mempunyai kekosongan dalam hidupnya, yang mereka isi dengan menjalin hubungan dengan benda-benda mati, seperti boneka, telepon, dan perhiasan.”

Kedua, hubungan sepihak. Menurut Sadhoo dan Anantharam, beberapa orang lebih menyukai hubungan sepihak karena mereka tak pandai menerima masukan dan punya ego yang sangat rapuh.

“Untuk menghindari perdebatan atau perselisihan, orang-orang seperti itu lebih memilih hubungan dengan suatu objek daripada dengan manusia,” ujar Sadhoo dan Anantharam.

Ketiga, punya masa kecil yang tak menyenangkan. Sebut Sadhoo dan Anantharam, seseorang yang tak punya masa kecil yang menyenangkan memengaruhi kemampuan mereka untuk menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain. Akhirnya, mereka merasa hubungan dengan objek lebih mudah karena objek tak bakal menyakiti perasaan.

Keempat, punya preferensi yang sangat spesifik atau aneh terhadap atribut fisik suatu struktur. Kelima, kepercayaan animisme. “Menurut para ahli, animisme adalah salah satu alasan paling aneh mengapa seseorang bisa menderita objectophilia,” tutur Sadhoo dan Anantharam.

Terlepas dari lima alasan yang dibeberkan Sadhoo dan Anantharam, Brogaard memandang, objectophilia paling erat kaitannya dengan autisme (autism spectrum disorder/ASD). Menurut Brogaard, selain pola perilaku sosial dan komunikasi yang tidak biasa, salah satu ciri utama autisme adalah ketertarikan dan obsesi yang tak biasa terhadap objek dan latar belakang non-manusia.

“Bukti empiris saat ini menunjukkan, objectophilia memiliki sifat autis yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol pada setiap faktor autism spectrum quotient, terutama pada faktor keterampilan sosial,” tutur Brogaard.

Lanjut Brogaard, ciri umum autisme yang tetap konstan adalah ketertarikan seseorang terhadap objek. Preferensi untuk berinteraksi dengan objek, serta kecenderungan mengarahkan perhatian pada benda mati bisa menjadi penyebab khas hubungan cinta-benci terhadap objek.

“Menariknya, para (penderita) objectophilia juga cenderung memiliki hubungan cinta-benci terhadap objek,” kata Brogaard.

Dalam jurnal Scientific Reports (Desember, 2019) yang diterbitkan di situs Nature, para peneliti dari University of Sussex dan Brunel University, antara lain Julia Simmer, James E. A. Hughes, dan Noam Sagiv menemukan, ada beberapa hubungan signifikan antara objechtophilia dan sinestesia.

Sinestesia ialah proses perubahan makna yang terjadi sebagai akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berbeda. Contohnya, seseorang yang bisa melihat atau merasakan warna tertentu saat mendengarkan musik.

“Kami menemukan, ketertarikan seksual individu objechtophilia terhadap objek tampaknya didorong, setidaknya sebagian oleh sinestesia personifikasi objek,” tulis para peneliti.

“Hal ini terungkap dari fakta, individu objechtophilia cenderung merasakan ciri-ciri kepribadian pada pasangan objeknya, dan ini menunjukkan ciri konsistensi sinestesia dari waktu ke waktu.”

Akhirnya, menurut para peneliti, individu objechtophilia juga dikaitkan dengan fenotipe sinestetik yang lebih luas dalam menunjukkan tingkat perkembangan signifikan dari dua jenis sinestesia lainnya, yakni sinestesia personifikasi grafem dan sinestesia warna grafem.

Simmer dkk pun menemukan, tingkat diagnosis autisme 30 kali lebih tinggi pada individu objektum seksual dibandingkan yang diperkirakan terhadap responden yang diikutkan dalam penelitian. Perbedaan paling banyak dikaitkan dengan sub-skala keterampilan sosial dari autism spectrum quotient—menemukan situasi sosial yang sulit atau tak menyenangkan, dengan lebih memilih objek dibandingkan manusia.

“Relasi antarmanusia yang buruk mungkin relevan dengan alasan mengapa individu objektum seksual mengembangkan hubungan dengan objek, meski tak jelas apakah keterampilan sosial yang buruk menjadi faktor yang berkontribusi terhadap objektum seksual atau konsekuensi dari itu,” kata para peneliti.

“Misalnya, kaum objektum seksual mengalami stigma sosial yang cukup besar, yang melekat pada orientasi mereka, yang bisa memengaruhi keterampilan sosial lewat penghindaran interaksi dengan orang lain.”

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan