sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pasangan muda, ini kiat mengatur keuangan rumah tangga

Perlu dipahami, salah satu faktor pemicu keributan dalam rumah tangga adalah masalah ekonomi.

Silvia Ng
Silvia Ng Rabu, 15 Sep 2021 16:57 WIB
Pasangan muda, ini kiat mengatur keuangan rumah tangga

Ketika beranjak masuk ke fase kehidupan berumah tangga, maka akan sangat berbeda rasanya dengan saat masih sendiri. Perlu dipahami, salah satu faktor pemicu keributan dalam rumah tangga adalah masalah ekonomi.

Perencana Keuangan Rista Zwetika mengatakan, sebelum memutuskan untuk menikah, pasangan muda perlu memiliki keterbukaan keuangan sedari awal. Jangan hanya bermodalkan cinta, kemudian telat untuk membahas keuangan rumah tangganya.

“Sebaiknya dibahas sebelum memutuskan untuk menikah. Ketika kita udah dalam tahap serius akan menikah dengan pasangan kita, coba dibahas tentang keuangan. Artinya, harus ada keterbukaan keuangan dari awal,” katanya dalam siaran virtual, Rabu (15/9).

Faktor ekonomi merupakan pemicu keributan dalam rumah tangga. Karena itu, pasangan perlu memiliki persiapan keuangan, yaitu mandiri secara finansial atau memiliki keterbukaan secara finansial.

Keterbukaan finansial ini perlu diterapkan sejak belum menikah. Karena jika tidak ada keterbukaan keuangan dari awal, maka kedepannya akan sulit membahas tentang keuangan secara terbuka.

Apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah?
1. Persiapkan mental. Pasangan muda baik suami ataupun istri, perlu mempersiapkan mental diri sendiri. Hal ini dikarenakan kehidupan berumah tangga akan sangat berbeda dengan pada saat belum menikah.

2. Pahami tujuan menikah. Karena, kalau tidak memahami tujuan menikah untuk apa, kedepannya akan menjadi sumber masalah baru di dalam rumah tangga.

3. Pahami bahwa ekonomi adalah pemicu terbesar keributan dalam rumah tangga. Artinya, mau tidak mau, pasangan harus memiliki persiapan keuangan dan memiliki keterbukaan keuangan sejak dini.

Sponsored

“Jadi mau tidak mau, paling tidak kita harus ada persiapan secara keuangan, paling okenya adalah mandiri secara finansial. Atau ketika sebelum menikah, sudah membahas tentang keuangan, artinya ada keterbukaan. Kalau tidak ada keterbukaan dari awal, maka kedepannya akan sulit membahas tentang keuangan,” jelas Riska.

Hal-hal yang perlu diketahui sebelum menikah
Saat ini, lanjut dia, keuangan bukanlah persoalan yang tabu untuk dibicarakan. Terdapat beberapa hal yang perlu diketahui sebelum memutuskan untuk menikah, di antaranya:

Pertama, berapakah pendapatan masing-masing individu? Hal ini diperlukan untuk mengetahui total pendapatan dalam rumah tangga sebelum mengatur pengeluaran dalam rumah tangga.
Kedua, bagaimana gaya pengelolaan keuangan pada saat belum menikah? Apakah dirinya memiliki tanggungan lainnya? Ini perlu dipastikan agar dapat mengetahui bagaimana pengelolaan keuangan yang paling tepat dalam suatu rumah tangga.

“Yang paling fatal, punya utang enggak nih?” ungkapnya.

Riska mengungkapkan, banyak sekali pasangan muda yang datang berkonsultasi mengenai hutang yang tiba-tiba menimpa salah satu pihak, karena sebelumnya tidak ada keterbukaan soal keuangan.

Kemudian, perlu dibahas soal pola pengaturan keuangan bersama. Apakah dijadikan satu rekening dan siapakah yang akan berperan sebagai bendahara dalam rumah tangga. 

“Untuk menghindari hal itu (masalah ekonomi), maka harus ada keterbukaan dari awal dan itu yang harus di bahas,” ujarnya.

Menikah sebelum vs sesudah pandemi
Riska menjelaskan, perbandingan menikah sebelum dan sesudah pandemi akan sangat jauh berbeda. Karena biasanya sebelum pandemi, pasangan muda akan berpesta sesuai impian pernikahannya masing-masing.

“Mereka punya impian-impian yang ingin diwujudkan lewat sebuah pernikahan, jadi sudah pasti kalau impiannya menikah ala Cinderella atau adat-istiadat sudah pasti bujet yang harus ditabung lebih besar,” jelasnya.

Hal ini tentu berbeda dengan kondisi pandemi Covid-19, yang sebetulnya dapat mengirit bujet pernikahan, karena tidak perlu mengundang terlalu banyak orang, tidak perlu pre-wedding, tidak perlu membeli buah tangan yang heboh, dan penerapan prokes yang ketat.

Menikah saat pandemi, menurut Riska, dapat dilakukan dengan keluarga inti saja, dengan situasi yang sangat sakral, dan tidak terkontaminasi dengan kritik orang lain tentang pernikahan yang diadakan.

“Jadi memang perbandingannya beda jauh sekali sebelum dan sesudah pandemi,” pungkasnya.
 

Berita Lainnya