close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi gorengan./Foto Ashish_Choudhary/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi gorengan./Foto Ashish_Choudhary/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 20 Maret 2024 21:00

Tak dianjurkan makan gorengan setelah berpuasa

Makan gorengan berlebihan bakal menyebabkan terjadinya penumpukan minyak dan lemak, biasanya dibarengi dengan tingginya natrium atau garam.
swipe

Aneka makanan ringan yang digoreng—dikenal dengan gorengan, seperti pisang, tahu, tempe, bakwan, risoles, dan sebagainya memang menggoda orang-orang untuk menyantapnya ketika buka puasa tiba. Selain murah, gorengan bisa menjadi takjil setelah seharian berpuasa, sebelum menyantap makanan berat seperti nasi.

Padahal, menurut dokter gizi di RSUD Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Nur Aliah, memakan gorengan sehabis berpuasa tak dianjurkan. Nur mengatakan, makan gorengan berlebihan bakal menyebabkan terjadinya penumpukan minyak dan lemak, biasanya dibarengi dengan tingginya natrium atau garam, yang mengarah pada obesitas, penyumbatan pembuluh darah oleh lemak, dan gangguan jantung.

“Itu semua merupakan akibat dari jangka panjang,” kata Nur kepada Alinea.id, Kamis (20/3).

Risiko bakal lebih besar jika seseorang sudah memiliki riwayat penyakit, seperti darah tinggi, diabetes, jantung, dan kolesterol. “Itu tentunya akan berpengaruh besar ya, seperti (penyakitnya) akan kambuh (lagi),” kata dia.

Menurut Nur, penyakit hipertensi dan diabetes paling sering terjadi ketika banyak mengonsumsi makanan mengandung minyak. Penyumbatan pembuuh darah bakal mengarah pula pada kinerja jantung.

“Sebaiknya, untuk makanan goreng-goreng itu dikurangi,” tutur Nur.

Merujuk Health Digest, makanan yang digoreng mengandung zat beracun yang disebut akrilamida. Menurut penelitian yang diterbitkan International Journal of Cancer (2015), zat itu terkait dengan kanker ginjal, endometrium, dan ovarium.

“Makanan yang digoreng tinggi kalori, dilapisi adonan dan tepung, serta dimasak dengan minyak lemak. Minyak ini diserap ke dalam makanan yang dimasak, sehingga meningkatkan kandungan lemak dan kolesterol, serta jumlah kalorinya,” tulis Health Digest.

Sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Heart (2021), sebut Health Digest, menemukan bahwa mengonsumsi makanan ini meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

“Riset tersebut mengungkapkan, orang yang paling banyak mengonsumsi gorengan dalam pola makannya memiliki risiko 28% lebih besar mengalami penyakit kardiovaskular berat dan 37% lebih tinggi mengalami gagal jantung,” tulis Health Digest.

Bukan hanya buruk bagi kesehatan, makanan yang digoreng ternyata juga berdampak bagi otak. Health Digest menulis, peradangan yang timbul akibat mengonsumsi makanan ini dapat berdampak pada pembuluh darah ke otak dan berpengaruh pada kemampuan berpikir. Bahkan, sebuah penelitian yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Science (2023), sebut Heath Digest, menemukan kebanyakan makan gorengan dikaitkan dengan peningkatan kecemasan dan depresi.

“Penelitian tersebut menemukan, orang yang mengonsumsi satu porsi gorengan setiap hari memiliki risiko kecemasan 12% lebih tinggi dan risiko depresi 7% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak makan gorengan,” tulis Health Digest.

Sementara itu, Nur menganjurkan berbuka puasa dengan kudapan yang manis, tetapi juga tidak berlebihan. Misalnya, mengonsumsi buah-buahan, kurma, atau sedikit teh manis. Lebih lanjut, Nur mengatakan, makanan yang baik untuk takjil biasanya untuk memenuhi 10% kebutuhan dari tubuh kita, yang bisa didapat dari tiga buah kurma, teh manis, dan air putih.

“Itu sebenarnya juga sudah sangat cukup untuk menjadi takjil atau makanan pembuka puasa karena ini hanya makanan pembuka, yang sebenarnya tidak terlalu banyak,” kata dia.

“Jadi, tidak perlu lagi memakan gorengan.”

Nur menambahkan, untuk mengembalikan energi lagi setelah lebih dari 12 jam berpuasa, kita membutuhkan kudapan manis yang dapat langsung dicerna oleh tubuh. Selain itu, tidak dianjurkan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang asam atau terlalu pedas.

“Karena kalau mereka (makanan asam atau terlalu pedas) langsung masuk (ke pencernaan), maka lambung itu bisa kaget lantaran sudah kosong selama lebih dari 12 jam,” ucap Nur.

Selanjutnya, mengonsumsi makanan dengan karbohidrat kompleks, yang diperbanyak sayuran, lau hewani, dan nabati. “Jadi, misalkan ayamnya sudah digoreng, tempe juga digoreng, sayurannya jangan lagi ditumis. Bisa cari alternatif lain ke sayur bening dan pepes,” ujar Nur.

Intinya, kata Nur, kita harus menjaga keseimbangan untuk pemasukan di dalam tubuh kita, seperti mengonsumsi buah-buahan. Maka, kebutuhan seperti vitamin dan lainnya juga ikut terpenuhi.

“Tidak lupa juga air putih yang minimal sehari itu kita konsumsi sebanyak tiga gelas dari buka hingga sahur,” ujar dia.

“Semakin banyak itu (minum air putih) semakin bagus juga tentunya.”

img
Stephanus Aria
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan