sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mengonsumsi sup bukan solusi ajaib untuk diet

Walau terlihat sehat, ternyata ada sisi negatif diet hanya dengan mengonsumsi sup.

Stephanus Aria
Stephanus Aria Minggu, 07 Apr 2024 06:51 WIB
Mengonsumsi sup bukan solusi ajaib untuk diet

Banyak metode orang melakukan diet untuk menurunkan berat badan. Salah satunya dengan diet sup atau dikenal dengan souping. Dilansir dari New York Post, pada 1980-an, diet sup kubis menjadi populer saat banyak orang yang ingin menurunkan berat badan, menghabiskan semangkuk demi semangkuk hidangan rendah kalori dengan harapan dapat memangkas lingkar pinggang mereka secepatnya.

Saat ini, diet sup kembali menjadi pilihan orang. Bahkan, dengan variasi pilihan.

“Sup sering kali dilihat sebagai metode makan bersih dan penurun berat badan, melibatkan kepatuhan terhadap pola makan yang hanya terdiri dari sup sayuran untuk jangka waktu tertentu, biasanya tujuh hari,” kata konsultan nutrisi dari Diabetes Strong, Inc., Kelsey Costa kepada Parade Magazine.

Dikutip dari Everlywell pernah ada penelitian tahun 2007 tentang efek mengonsumsi berbagai macam sup sebelum makan, termasuk sup yang terbuat dari kaldu dengan sayuran, sup sayuran kental, dan sup sayuran yang dihaluskan. Ketika partisipan mengonsumsi sup sebelum makan, mereka makan lebih sedikit dibandingkan partisipan yang tak mengonsumsi sup.

“Tingkat rasa lapar lebih rendah pada peserta yang makan sup sebelum makan dibandingkan yang tidak makan sup,” tulis Everlywell.

Penelitian lainnya yang terbit pada 2014, menemukan, dari survei tahun 2003-2008 sebanyak 1.291 peserta melaporkan mengonsumsi sup dan 9.307 peserta tak mengonsumsi sup apa pun. Hasilnya, peserta yang mengonsumsi sup punya berat badan lebih rendah dan lingkar pinggang lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tak mengonsumsi sup.

“Penelitian tersebut juga menemukan, konsumsi sup dikaitkan dengan penurunan asupan lemak total dan peningkatan asupan protein, karbohidrat, serat, serta beberapa vitamin dan mineral,” tulis Everlywell.

Penelitian lain yang terbit pada 2013 melakukan survei dari 2003-2006 untuk mengamati konsumsi sup dan obesitas di Amerika Serikat. Riset itu menemukan, konsumsi sup dikaitkan dengan indeks berat tubuh dan lingkar pinggang yang lebih kecil, serta risiko obesitas dan kelebihan berat badan pada orang dewasa.

Sponsored

Kepada Parade Magazine, ahli diet Edwina Clark mengatakan, manfaat sup antara lain mengurangi asupan kalori, potensial menurunkan berat badan, meningkatkan asupan sayuran dan serat, membuat kualitas makanan lebih baik, dan hidrasi.

Meski banyak penelitian dan ahli mengatakan, mengonsumsi sup baik untuk diet. Akan tetapi, sebagian ahli sepakat mengonsumsi sup hanya selama tujuh hingga 10 hari bukanlah ide yang baik.

“Sup tidak boleh menjadi satu-satunya makanan yang Anda makan, jika Anda ingin menurunkan berat badan dan mempertahankannya,” ujar ahli diet Erin Palinski-Wade kepada Live Strong.

Diet sup dipercaya bisa membantu menurunkan berat badan sebanyak 20 pon. Namun, Palinski-Wade mengingatkan, berat badan mungkin akan turun sedikit, tetapi kembali lagi setelah diet selesai.

Sebabnya, tulis Live Strong, sebagian besar berat badan yang turun melalui diet sup bukanlah lemak tubuh, melainkan berat air. Sup berbahan dasar kaldu misalnya, punya kandungan air yang tinggi, sehingga rendah kalori. Mengonsumsi makanan rendah kalori selama tujuh hingga 10 hari akan menyebabkan tubuh memecah simpanan energi atau gilkogen di otot.

“Tubuh akan menggunakan glikogen sebagai energi karena tidak mendapatkan cukup energi dari makanan untuk memenuhi kebutuhan energi Anda. Karena glikogen disimpan dengan air, ketika diakses, air mengembun dan menyebabkan penurunan berat air,” ujar ahli diet Martha Lawder dalam Live Strong.

“Hasilnya, timbangan mungkin terlihat lebih ringan beberapa pon, tetapi angka yang lebih rendah tidak akan bertahan lama. Setelah menghentikan diet sup dan kembali mengonsumsi kalori seperti biasa, Anda akan mendapatkan kembali cairan dan berat badan yang hilang dalam satu atau dua hari.”

Terlebih, ahli diet dari Memorial Hermann di Houston, Isabel Vazquez mengatakan kepada Parade Magazine, tak ada solusi ajaib untuk menurunkan berat badan secara keseluruhan. Katanya, mengandalkan sup sayuran saja dapat menghilangkan nutrisi penting yang ditemukan dalam makanan yang beragam.

Apalagi, beberapa orang dengan kondisi tertentu mesti menghindari bahan-bahan dalam sup sebelum mencoba diet ini. “Orang dengan penyakit celiac atau sensitif terhadap gluten harus menghindari sup yang mengandung gandum, sedangkan mereka yang memiliki intoleransi laktosa harus menghindari sup krim berbahan dasar susu,” kata Vazquez.

Sedangkan orang yang perlu memantau asupan natriumnya, harus berhat-hati dengan sup yang tinggi natrium. Demikian pula, kata Vazquez, dengan orang yang tengah berjuan mengendalikan gula darah, harus waspada terhadap sup yang tinggi karbohidrat. Penderita ginjal, menurut Vazquez, juga perlu berhati-hati terhadap natrium dan kalium.

Di dalam Live Strong, Martha Lawder mengingatkan, membuat tubuh defisit kalori yang ekstrem merupakan hal yang tak sehat. Memotong kalori terlalu rendah akan memaksa tubuh membakar jaringan otot, tanpa lemak untuk menghasilkan energi.

“Hal itu akan memperlambat metabolisme Anda dan mempersulit penurunan berat badan lebih lanjut,” ujar Palinski-Wade, dikutip dari Live Strong.

Celakanya lagi, mengonsumsi makanan yang sangat terbatas bisa membuat tubuh kehilangan vitamin dan mineral penting yang ditemukan dalam makanan lain. Akhirnya, bisa menyebabkan kekurangan nutrisi. Demi menghindari segala sesuatu yang justru buruk bagi tubuh, kuncinya adalah menikmati sup sebagai bagian dari diet seimbang, ketimbang hanya makan sup.

“Cobalah mengganti satu atau dua kali makan sehari dengan sup dan melengkapi sisa hari dengan buah-buahan, sayuran, dan protein tanpa lemak. Itu masih akan membantu Anda menurunkan berat badan dan memberi Anda lebih banyak variasi,” kata Palinski-Wade kepada Live Strong.

Berita Lainnya
×
tekid