close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Rasminto
icon caption
Rasminto
Kolom
Rabu, 15 Februari 2023 13:31

Membentuk kader pemimpin futuristik

Pribadi kepemimpinan adaptif yang terampil akan tetap menjadi yang terpenting bagi para pemimpin generasi muda di abad ke-21.
swipe

Ada seorang penulis dan futurolog yang dikenal karena karya-karyanya membahas mengenai revolusi digital, dan revolusi komunikasi bernama Alvin Toffler, yang mengatakan bahwa “buta huruf di abad 21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca atau menulis, melainkan mereka yang tidak belajar (learn) hal-hal baru yang penting untuk dikuasai, mereka yang membuang apa-apa yang sudah tidak relevan dengan perubahan zaman (unlearn), dan belajar kembali hal-hal yang pernah dikuasai sebelumnya, namun sekarang telah berubah (relearn).”

Apa yang disampaikan Alvin Toffler saat ini sangat relevan dalam membahas kepemimpinan adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan. Dengan demikian, kita harapkan Indonesia dapat melahirkan profil generasi muda masa depan yang berjiwa kepemimpinan adaptif yang dapat meraih momentum dari segala tantangan zaman. Tentunya hal itu harus diraih dengan sungguh-sungguh secara aktif untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan tantangan zaman dalam menghadapi kondisi dinamika yang ada terutama pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi di masa depan.

Dinamika dan tantangan masa depan
Di masa depan, kompetisi dan dinamika gaya hidup akan lebih kompleks, tidak stabil, dan penuh ketidakpastian dibanding era sebelumnya. Tantangan hari esok tentunya akan sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dengan arus informasi yang sangat cepat dan semakin detail. Di sisi lain, kondisi global telah mengurangi gesekan dan ketidakpastian di area kompetisi itu sendiri, di mana sistem jaringan memungkinkan manusia bekerja dengan manuver pencarian informasi pada segala kondisi medan yang kompleks namun dapat mengetahui informasi  lebih cepat dan akurat terlepas dari cuaca dan medan.

Hal itulah, dinamika dan kompetisi apapun akan dibutuhkan kompetensi yang bersifat intelektual, karena setiap generasi di masa yang akan datang harus memiliki kemampuan mengubah data menjadi informasi, dan harus dilakukan dengan cepat. Selain itu, Future Of Jobs Report pada World Economic Forum 2020 merilis data bahwa pelatihan tentang peningkatan kompetensi para pekerja sangat dibutuhkan untuk 2025 yang akan datang, di mana sebanyak 40% skill inti dari pekerja diperkirakan akan berubah pada lima tahun yang akan datang. Sehingga, juga akan diperlukan daya juang 
(ketahanan mental) dan komponen intelektual bangsa ini untuk dapat bersaing di kancah dinamika global yang semakin bergantung tentang manfaat multidisiplin ilmu. 

Jika kita perhatikan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kondisi nasional kita telah diuji oleh guncangan dari unprecendented global crisis, yakni pandemi Covid-19 yang telah merebak di Indonesia sejak awal 2020. Akan tetapi, puncak pandemi akibat Covid-19 tersebut telah kita lewati. Namun, dampak turunannya hingga saat ini masih menjadi tantangan bagi Indonesia untuk dapat memulihkannya, seperti pemulihan kesehatan baik jasmani maupun psikologis (panic buying), dampak terhadap ekonomi, sosial-budaya, dan lain sebagainya.

Belum selesainya dampak akibat dari pandemi Covid-19 tersebut, yang perlu kita perhatikan untuk ke depan ialah tantangan atas percikan-percikan ketegangan politik domestik, dimana Indonesia akan mengadakan perhelatan politik besar pada 2024, yakni pemilu serentak pertama kali, dengan pelaksanaan secara bersamaan dari pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, DPRD provinsi/kabupaten dan kota, serta juga pilkada secara serentak.

Sedangkan tantangan secara global ialah perang dagang yang lebih mengarah ke politik ekonomi daripada ekonomi murni. Kemudian soal krisis perubahan iklim dunia terkait semakin terbatasnya sumberdaya alam yang utamanya mengenai urusan kebutuhan hajat orang banyak. Dan juga, di sisi lain akibat dari bonus demografi yang mengakibatkan ledakan jumlah penduduk, sehingga kebutuhan konsumsi domestik lebih tinggi, peningkatan kebutuhan bahan bakar akibat penurunan produksi BBM dan mineral karena sumber daya alam yang terbatas (tidak bisa diperbaharui) serta belum efektifnya pengelolaan energi baru terbarukan yang dianggap mampu menggantikan energi fosil tersebut. 

Sedangkan kondisi geopolitik global saat ini luar biasa penuh ketidakpastiannya. Kondisi geopolitik yang penuh kompetisi dan potensi perang membuat semua negara semakin berhati-hati. Tiap negara sekarang mencari hal-hal yang bisa meningkatkan ketahanan nasionalnya. Oleh karena itu, proteksionisme setiap negara kemungkinan akan semakin besar, polarisasi global akan semakin menguat. Begitupun ketegangan-ketegangan yang ada saat ini, misalnya, antara Taiwan dan China. Atau konflik perang antara Ukraina dan Rusia yang efek dominonya terasa sekali pengaruhnya bagi negara lain di penjuru dunia dengan dampaknya di sektor pangan, energi, ekonomi secara global.

Bahkan dari persoalan global tersebut, dunia akan mengalami krisis global, di mana laporan bulan September 2022 Amerika Serikat mengalami inflasi yang tinggi yakni sebesar 8,2%, juga negara-negara eropa lainnya seperti Turkiye mengalami hiperinflasi hingga mencapai lebih 80%, belum lagi dampak gempa bumi awal Februari 2023 yang menewaskan lebih dari 35,000 jiwa dan ratusan bangunan hancur belum teridentifikasi total kerugian dan dampak yang ditimbulkan secara ekonomi negara, tentunya hal ini semakin membuat suram kondisi global.

Oleh karena itu, kita harus menguatkan keyakinan, bahwa bangsa ini dan kita semua memiliki kapasitas yang tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Dengan keyakinan yang kuat, kita bersama-sama akan mampu membawa tujuan bangsa untuk terus tumbuh lebih baik dalam mengisi kemerdekaan, demi mewujudkan Indonesia yang aman serta maju dan sejahtera. Terlebih, kini Indonesia masuk dalam perhitungan di kancah global. Mengingat Indonesia merupakan negara yang besar baik dari sisi populasi dan potensi ekonominya. Bahkan telah menjadi bagian dari anggota G20. Artinya, Indonesia masuk dalam 20 besar negara ekonomi terbesar di dunia. Maka, Indonesia harus membuka cakrawala terhadap kondisi global yang terjadi saat ini, dan kita tidak boleh tidak, harus paham terhadap konteks geopolitik yang begitu dinamis.

Menjadi pemimpin di masa depan itu sangat berat dan memiliki resiko yang tinggi sehingga membutuhkan kemampuan leadership yang mumpuni. Untuk menjadi pemimpin adaptif harus bisa memahami nilai-nilai yang membentuk karakter seorang pemimpin, seperti loyalitas yang kuat, menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan sepenuh jiwa dan raga, adanya rasa hormat atau kepatuhan atas posisi yang diembannya, serta memiliki atribut mental profesionalisme, fisik yang sehat dan kecerdasan emosional yang diperlukan untuk mendukung nilai-nilai dalam mencapai misi yang besar, yakni mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Pribadi kepemimpinan adaptif yang terampil akan tetap menjadi yang terpenting bagi para pemimpin generasi muda di abad ke-21. Keterampilan itu dilandasi oleh cara berpikir secara strategis, dapat menyampaikan tujuan atau misi yang akan dicapai, mendorong kohesi kelompok, menegakkan kedisiplinan, dan membuat keputusan cepat dalam situasi yang tidak menentu. Dan, pribadi pemimpin adaptif juga harus mampu menguasai berbagai bidang pengetahuan, dimulai dari yang sangat umum hingga bidang keahlian dan keterampilan yang sangat spesifik diberbagai disiplin ilmu atau dalam kata lain memiliki multi talenta. Kemudian, tindakan yang harus dilakukan oleh pemimpin adaptif itu ialah membuat misi atau tugas serta fungsi organisasinya yang dapat menyelesaikannya secara efektif, mempengaruhi misi, dan sedapat mungkin meningkatkan unit dan sistem yang ada di bawah kendali pimpinan tersebut. Hal itu harus ditunjang dengan kemampuan tugas operasional khusus, memiliki kemampuan intelektual dan kognitif yang baik, dan keluasan pengetahuan maupun multiperspektif.

Keterampilan Operasional Khusus baru-baru ini atau yang sedang berlangsung dalam bidang keterampilan khusus membutuhkan lebih banyak penekanan karena telah menjadi lebih penting, dan lebih kompleks. Keterampilan itu termasuk diantaranya tentang penyediaan sarana dan fasilitas dalam kerja-kerja kolaboratif, melibatkan diri dengan berbagai kelompok latar belakang, intuisi kedaruratan, kemampuan operasional di daerah perkotaan atau terbatas, memahami situasi dinamika persoalan, dapat menggunakan teknologi untuk kesadaran situasional, mengintegrasikan kekuatan kolaboratif, dan berinteraksi dengan media massa.

Sedangkan tuntutan kemampuan intelektual dan kognitif di era kontemporer saat ini menempatkan nilai tawar yang lebih tinggi dalam membuat keputusan dengan cepat, dalam kondisi yang tidak biasa di tengah situasi yang lebih besar ambiguitas dan ketidakpastian yang tidak dialami oleh pemimpin di masa lalu. Maka, pengambilan keputusan dalam kondisi darurat sekalipun membutuhkan beberapa kompetensi intelektual yang mendukung situasi dan kondisi zamannya, yaitu; Penguasaan pola, kemampuan untuk mendapatkan pemahaman situasional, mengelola mental sebaik mungkin, berpikir kritis, dan tentunya kemampuan beradaptasi. Dan, pemimpin juga perlu memiliki pemikiran yang multi perspektif dan pengetahuan global untuk menambah informasi dalam mengambil keputusan, terutama dalam ruang lingkup yang tidak dikenalnya. Sehingga Kita harus senantiasa "learning by doing" dan "transfer of knowledge" bagi para pemimpin masa depan, juga berikan keteladanan tentang “cara berpikir kritis, dan bukan apa yang harus dipikirkan”.

Adaptasi skill kepemimpinan
Kondisi perkembangan global yang sangat dinamis, sehingga sangat diperlukan adaptasi skill kepemimpinan dalam menghadapi lingkungan kerja yang kontemporer, yakni dengan dihadapkan pada tuntutan kemampuan intelektual dan kognitif. Para pemimpin masa depan dituntut untuk senantiasa belajar sepanjang hayat agar memiliki kemampuan strategis dua tingkat di atas dan memiliki kemampuan teknis serta taktis dua tingkat di bawah para staf maupun anggota. Senantiasa menjaga dan meningkatkan keterampilan operasional khusus sesuai jenjang kesejahteraan dan karir (Jahrir) dan passion pemimpin masa depan. Misal keterampilan operasional khusus sebagai aktivis, politisi, birokrat, pengusaha dan lainnya, tentunya para sangat dibutuhkan sebuah roadmap karir masing-masing dari sekarang yang akan membawa kemana karir generasi muda saat ini di masa depan.

Selain itu, diharapkan dapat membangun multiperspektif dan pengetahuan global. Sebab, kita lihat saja apa yang terjadi dalam dinamika global katakan konflik perang Rusia dan Ukraina, Indonesia sudah mulai merasakan dampaknya. Begitu juga pandemi Covid-19 ini, dahulu saat kita menonton adegan-adegan film produksi Hollywood tentang virus Mers, Zica dan virus-virus berbahaya dan mematikan lainnya, seakan hal tersebut seperti adegan fiksi dan imajinatif belaka. Namun, setelah kita rasakan langsung, luar biasa sangat diperlukan multiperspektif dan pengetahuan global dalam penanganannya. Tidak cukup hanya pendekatan medis umum, namun diperlukan multidisiplin ilmu lainnya dan hal tersebut dapat dilakukan dengan memperkuat kerjasama-kerjasama dengan multi lembaga seperti perguruan tinggi, peneliti, dan aparatur lainnya.

Bercermin pada kondisi politik dalam negeri yang dihadapkan pada pesta demokrasi pemilu serentak 2024. Perhelatan politik yang dapat menguras energi dan konsentrasi super ekstra atas dinamika yang akan terjadi. Sebab penyelenggaraan pesta demokrasi di masing-masing wilayah akan membutuhkan dinamisator dan stabilisator tokoh-tokoh lokal dalam mengkanalisasi konflik yang akan terjadi guna meminimalisasi jadi sebuah ancaman nasional.

Sehingga, sangat diperlukan pemahaman komprehensif dan holistik kondisi daerah masing-masing oleh generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan, agar tidak terjadi guncangan politik yang merugikan kepentingan nasional.

Sebab, berdasarkan dampak pada kondisi ekonomi dan politik yang ada, tentunya ini akan berimplikasi pula pada kondisi sosial masyarakat. Ekonomi sulit dan situasi politik yang memanas akan mempengaruhi kondisi psikologis maupun kehidupan masyarakat, dan kondisi semua ini menjadi indikator kewaspadaan nasional bahwa kita dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Kader pemimpin futuristik
Pada identifikasi problematika yang akan dihadapi, sangat dibutuhkan profil pemimpin dari generasi muda di masa yang akan datang dengan karakteristik sebagai pemimpin futuristik. Bukan hanya sekedar memahami kepemimpinan berdasarkan teori-teori kepemimpinan yang sederhana dengan kemampuan dasar seperti planning, controlling dan evaluation saja, namun harus dimaknai lebih dalam konsep dasar teori kepemimpinan tersebut. Sebab, dinamika yang begitu kompleks membawa pada tuntutan pembentukan kepemimpinan yang akan datang harus dapat membaca dinamika kemarin dan saat ini sebagai pedoman untuk terus adaptif dimasa yang akan datang. Sehingga, diperlukan kader pemimpin futuristik dalam menggapai harapan bangsa Indonesia maju di masa depan.

Menurut Berliana Kartakusumah dalam buku Pemimpin Adiluhung: Genealogi Kepemimpinan Kontemporer (2006), kader-kader adalah sekelompok orang yang terorganisasi secara terus-menerus dan menjadi tulang punggung bagi kesatuan kelompok yang lebih besar. Oleh karena itu, ciri seorang kader pemimpin futuristik harus didasari oleh tujuan inti yang jelas dan memiliki daya imajinasi jauh ke depan dengan melihat dinamika yang telah terjadi. Hal ini akan dapat menilai kesuksesan kepemimpinannya dilihat dari dampak dan warisan yang ia tinggalkan.

Pemimpin seperti itu akan berdampak positif tidak hanya kepada organisasi, tetapi juga kepada tim yang dipimpinnya. Maka, ia harus memberikan tujuan yang jelas di dalam misi yang sedang dilakukan dengan menjelaskan tentang apa alasan dibalik tugas atau misi yang dilakukan oleh anggota atau komunitasnya dengan mengkomunikasikan berbagai hal kepada para bawahannya dan menentukan prioritas.

Berikutnya dengan mampu membangun sebuah tim yang solid melalui rasa saling percaya. Kepercayaan yang dimiliki pemimpin harus terlebih dahulu mencontohkan bahwa ia memiliki kepribadian yang layak untuk diikuti oleh anggota yang lain. Melalui contoh dan perbuatan yang dilakukan, maka itu akan menumbuhkan iklim kepercayaan. Karena Tim yang solid dan kompak akan menciptakan lingkungan yang positif untuk bisa mendorong kerja tim. Maka, lingkungan yang seperti itulah yang dibutuhkan dan diperlukan agar bisa menghasilkan kinerja yang lebih baik di dalam sebuah organisasi.

Pemimpin futuristik akan sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan atau interaksi dengan anggota lainnya untuk memastikan komitmen, kepatuhan, dan tujuan bersama. Menciptakan sebuah pemahaman bersama artinya memastikan setiap anggota telah memahami apa yang perlu dilakukan. Sehingga, setelah terbangunnya keyakinan untuk suatu pemahaman bersama, seluruh anggota tim yang mahir dalam hal kedisiplinan yang dibangun dan dilatih secara terus-menerus akan mempengaruhi anggota tim lainnya untuk mengambil inisiatif sebagai bentuk kreatifitasnya.

Kemudian, berani mengambil risiko dengan bijaksana dengan menilai dan mengelola resiko serta membuat keputusan yang baik tentang pengalokasian sumber daya dan memastikan bahwa peluang berhasil lebih besar daripada resiko yang bisa terjadi di masa depan. Hal itu sebagai cerminan kekuatan pemimpin dalam kejujuran, ketauladanan dan ketegasan untuk manajerial dan controling, dimana merupakan sebuah perpaduan antara kekuatan dan kemampuan pemimpin dalam pengendalian diri yang penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik atau kepada setiap anggota organisasinya.

img
Rasminto
Kolomnis
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan