Suriah, ajang pertarungan merebut hegemoni di Timur Tengah

Minyak bumi, tampaknya menjadi alasan utama negara-negara besar sedemikian memperhatikan Negara-negara di Timur Tengah.

Floribertus Rahardi

Floribertus Rahardi

Rahardi lahir di Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, 10 Juni 1950

* Kolumnis

Partai yang berkuasa di Amerika Serikat (AS) saat ini, Partai Republik didukung pengusaha besar. Presiden AS sekarang, yakni Donald Trump, berasal dari Partai Republik, dan juga seorang pengusaha. Bagi pengusaha AS, Suriah bersama Iran adalah 'ganjalan' untuk menguasai perekonomian TimurTengah. 

Upaya telah dilakukan sejak George HW Bush menjabat sebagai Presiden AS untuk periode1989 –1993. George HW Bush yang juga berasal dari Partai Republik, sangat bernafsu melenyapkan Presiden Suriah Hafez al-Assad untuk periode1971 –2000. Tetapi Bush gagal melenyapkan Assad dengan berbagai cara. 

Setelah wafat pada 2000, Hafez al-Assad digantikan oleh puteranya, Bashar al-Assad. Awalnya AS berharap Bashar bisa lebih menjaga jarak dengan Rusia, dan memperbaiki hubungan dengan AS. Tetapi ternyata anak ini sama kerasnya dengan bapaknya. Maka AS, dengan sekutunya Israel dan Turki, secara diam-diam membantu pemberontak Suriah, untuk menggulingkan Bashar. 

Upaya ini tak mudah, sebab ternyata posisi Bashar di dalam negeri cukup kuat. Sementara dari luar, Bashar mendapat dukungan penuh dari Iran, dan tentu saja Rusia.

Gagal menggusur Bashar lewat pemberontakan, AS dan sekutunya, terutama bersama Israel dan Turki, membentuk NIIS, Negara Islam di Irak dan Surian (Islamic State of Iraq and Syria, ISIS). 

Mereka yang mengaku pejuang Islam di Indonesia banyak yang terkecoh, menganggap ISIS murni gerakan Islam yang dimotori oleh Wahabi di Arab Saudi. Secara yuridis formal, memang tak pernah ada bukti otentik, bahwa AS dan sekutunya memprakarsai, sekaligus mendanai ISIS. 

Dengan adanya ISIS, peta pergolakan di Suriah berubah. Para pemberontak yang dulu disponsori oleh AS dan Turki, berbalik mendukung tentara pemerintah Suriah, untuk melawan ISIS. 

Melalui ISIS, AS tak hanya bermaksud menggusur Bashar, melainkan juga menjaga, agar radikalisme Islam mendapat tempat di Timur Tengah. Hingga tak akan pernah sempat mendekat, apalagi masuk ke dalam negeri AS.

Putin Marah

Dampak langsung dari keberadaan ISIS, dunia modern yang didominasi peran media sosial tercekam. ISIS identik dengan kekejaman yang tiada tara. Mereka yang tertangkap dan tersandera ISIS, jarang bisa kembali selamat. Sebagian besar akan dieksekusi dengan cara dipancung. 

Foto eksekusi ini dengan cepat menyebar melalui media sosial, dan menjadi teror tersendiri bagi masyarakat modern.

Inilah hebatnya AS. Negeri ini bersama Turki, mampu menciptakan kesan, bahwa ISIS justru didukung oleh Iran dan Rusia. Maka AS dan Eropa, termasuk Turki, gencar sekali membasmi ISIS. Anehnya, meski dikeroyok oleh AS dan Uni Eropa; ISIS justru makin berjaya. 

Pada 2015, pemerintahan Bashar al-Assad semakin terancam. Para relawan dari Indonesia, banyak yang tergoda berangkat ke Suriah, untuk bergabung dengan ISIS.

Merasa dijadikan 'kambing hitam ISIS', Presiden Rusia Vladimir Putin marah. Bersama sekutunya, Presiden Iran Hassan Rouhani, Putin mengerahkan pasukan untuk mengejar dan membasmi ISIS. AS, Uni Eropa (termasuk Turki), dan Israel lepas tangan. Mereka biarkan ISIS dibantai tentara Rusia dan Iran dari garis belakang dan tentara Suriah serta Irak di garis depan. 

Tanpa dukungan AS, Uni Eropa (terutama Turki), dan Israel, ISIS tak ada apa-apanya. November 2017, ISIS yang dideklarasikan 29 Juni 2014 ini, tamat di tangan Putin dan Hassan Rouhani. Dunia, dan terutama publik Indonesia heran.

AS dan Uni Eropa yang memerangi ISIS sejak 2015 tak pernah berhasil, tetapi dalam waktu singkat Rusia dan Iran berhasil membersihkan dataran Irak dan Suriah dari cengkeraman ISIS? Tapi sebagian kecil publik, sudah mengetahui ISIS merupakan bentukan AS dan sekutunya, untuk menggusur Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Negara adidaya Amerika Serikat, sebenarnya tidak 100% diperintah presiden, para menteri dan dikontrol parlemen. Mereka yang berkuasa di dalam maupun di luar negeri, sebenarnya pengusaha besar, yang memberikan donasi ke partai politik. 

Sebagian besar pengusaha besar itu, memberikan dukungan finansial mereka ke Partai Rebuplik. Maka perang besar dan berkepanjangan yang melibatkan AS, sebagian besar terjadi ketika negeri ini diperintah presiden yang berasal dari Partai Republik. 

Itulah sebabnya perang di luar negeri, bertujuan ganda. Pertama, agar kekerasan itu terjadi jauh dari dalam negeri AS. Kedua, selama perang AS akan berkesempatan untuk mengujicoba persenjataan terbaru mereka. Ketiga, pascaperang mereka bisa masuk menawarkan bantuan rehabilitasi sarana fisik yang rusak selama perang.

Senjata Kimia

Setelah ISIS terkalahkan, AS dan sekutunya kembali mendekati kaum pemberontak. Kalau sebelumnya pemberontak bekerjasama dengan tentara Suriah memerangi ISIS, sekarang mereka kembali berseteru. Pada 7 April 2018, serangan senjata kimia di Douma telah menewaskan sedikitnya 70 orang. AS menuduh tentara Suriah, yang dibantu Rusia telah menggunakan senjata kimia untuk melawan pemberontak. 

Sebaliknya, pemerintah Suriah menuduh para pemberontak yang menggunakan senjata kimia. Rusia juga mengatakan bahwa tayangan penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah adalah kebohongan AS. Keterangan pemerintah Suriah dan Rusia ini dikuatkan oleh tim penyelidik PBB, yang mengatakan bahwa pemberontaklah yang justru menggunakan senjata kimia.

Tampaknya Trump sudah benar-benar kebelet perang. Sebelum PBB memberikan kesimpulan atas penyelidikan yang mereka lakukan, pada14 April 2018 AS, Inggris dan Prancis menyerang Suriah. Trump menyatakan, serangan itu diarahkan ke lokasi-lokasi yang diduga merupakan tempat untuk memroduksi senjata kimia. Orang takut, serangan AS, Inggris dan Prancis ke Suriah ini akan berkembang menjadi Perang Dunia III. 

Tapi para pengamat politik dunia menepis kekhawatiran itu. Reaksi Putin atas serangan AS terhadap Suriah yang tak terlalu keras menjadi alasan para pengamat politik tersebut.

Tampaknya AS juga tak bermaksud untuk benar-benar masuk ke Suriah. Terlebih Rusia juga segera mengerahkan kapal-kapal perang mereka yang diparkir di Laut Hitam ke lepas pantai Suriah di Laut Tengah. 

Senjata kimia memang pernah dijadikan dalih oleh AS untuk menyerang, bahkan menangkap presiden sah di sebuah negara. Pada 2003, Presiden AS George W Bush memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Irak. Ia benar-benar menaruh dendam kepada Presiden Irak Saddam Hussein. Dulu, sang ayah George HW Bush, saat menjadi Presiden AS 1989 – 1993, gagal melengserkan Saddam Hussein.

Yang menjadi alasan George W Bush menyerbu Irak pada 2003, juga senjata kimia. Setelah Sadam Husein berhasil dilengserkan, kemudian ditangkap dan dieksekusi dengan cara digantung; senjata kimia yang dituduhkan AS itu tak kunjung bisa dibuktikan keberadaannya. 

Itulah sebabnya, minyak bumi, tampaknya menjadi alasan utama AS sedemikian memperhatikan negara-negara di Timur Tengah.


Kolom

Infografis