sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mengenang pemikiran Aristides Katoppo di era jurnalisme digital

Media tak akan mati bila jurnalis menghasilkan karya jurnalisme yang berdasarkan nalar, naluri, nurani, dan nyali.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Sabtu, 09 Nov 2019 20:30 WIB
Mengenang pemikiran Aristides Katoppo di era jurnalisme digital
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 116871
Dirawat 37530
Meninggal 5452
Sembuh 73889

Empat puluh hari setelah meninggalnya wartawan senior Aristides Katoppo, sejumlah sahabat mendiang mengadakan acara peringatan, Jumat lalu (8/11).

Ketua AJI Abdul Manan yang hadir dalam acara tersebut mengenang sosok Aristides atau Tidies sebagai wartawan dengan peranan yang panjang bagi jurnalisme Indonesia.

“Dengan mendirikan AJI, Tides ada dalam barisan wartawan yang peduli dan sangat panjang karyanya,” kata Abdul.

Tak hanya sebagai salah satu pendiri AJI, Tides dinilai mengembangkan akar jurnalisme yang berkualitas dalam zaman yang berubah.

Memasuki era jurnalisme digital, Abdul mencermati tantangan para jurnalis bergulat dalam tren clickbait. Hal itu dinilai sebagai kondisi tak bersahabat yang rentan menurunkan mutu pemberitaan.

“Itu problem yang cukup serius sekarang,” kata Abdul. 

Lebih jauh, dia mengingatkan prinsip yang harus menjadi pegangan bagi jurnalis sebagaimana dicetuskan Aristides. Gagasan itu ialah wartawan mesti melandaskan kerja jurnalisme pada 4 N, yaitu Nalar, Naluri, Nurani, dan Nyali.

Pandangan Aristides juga turut menjawab kegelisahan yang kerap dialamatkan kepada wartawan sebagai ujung tombak produksi berita yang tidak bermutu.

Sponsored

Abdul menyebutkan,Tides kerap menilai era digital mesti disikapi dengan mempertahankan nilai-nilai utama jurnalisme.

“Bukan sekadar perubahan cara penyajian, atau teknik pemberitaan. Media tak akan mati bila jurnalis menghasilkan karya jurnalisme yang berdasarkan Nalar, Naluri, Nurani, dan Nyali,” ucap Abdul.

Di sisi lain, pengamat media Ignatius Haryanto mengungkapkan, tugas jurnalis bukan lagi sebatas pelapor informasi kepada publik, bahkan juga verifikator.

“Isi informasi sekarang sudah sangat cepat beredar di media sosial. Maka tugas jurnalis mengecek kebenaran dan menunjukkan kejernihan, mana yang sesungguhnya benar dan dapat  jadi pegangan bagi publik. Agar pilihan masyarakat dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ignatius.

Salah satu upaya yang perlu dipertahankan untuk mempertahankan mutu jurnalisme, menurut Ignatius, ialah penyampaian isi berita yang utuh, lengkap, dan menyeluruh sebagaimana dijalankan oleh jurnalisme media cetak.

Meningkatnya jurnalisme media daring belakangan ini, kata dia, semestinya merujuk pada pola serupa dalam media cetak.

 

Berita Lainnya