sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pendidikan jurnalistik FSPMI Bekasi: Hilang dari peradaban jika tidak menulis

Para peserta merupakan utusan dari empat SPA FSPMI se-Bekasi. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir acara.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Sabtu, 09 Apr 2022 15:00 WIB
Pendidikan jurnalistik FSPMI Bekasi: Hilang dari peradaban jika tidak menulis

Media Perdjoeangan Bekasi bekerja sama dengan Bidang Infokom (Informasi dan Komunikasi) SPA (Serikat Pekerja Anggota) FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia) Bekasi telah menggelar pendidikan dasar jurnalistik dan fotografi, Senin, (28/3). Pelatihan ini diadakan di sekretariat KC (Konsulat Cabang) FSPMI Bekasi dan diikuti 70 peserta.

"Karena banyak waiting list (daftar tunggu), kalau kita gabung semua ini, ada 190 peserta. Tapi akhirnya kita batasi hanya 60, itupun lebih sebenarnya, jadi total ada 70 peserta," kata Wiwik Aswanti, SH, Korlipda (Koordinator Liputan Daerah) Media Perdjoeangan Bekasi.

Para peserta merupakan utusan dari empat SPA FSPMI se-Bekasi. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir acara.

"Kita punya pilar banyak, salah satunya adalah media. Kemudian ada lagi, Lembaga Bantuan Hukum. Intinya di Bekasi kita akan dukung minimal tiga pilar yang sekarang sudah eksis, Garda Metal, Jamkes Watch, dan juga media. Sudah disampaikan di mana-mana bahwa media, kalau buat saya, itu kan jadi provokator, jadi propaganda, (untuk) menyemangati," sambut Sukamto, Ketua KC FSPMI Bekasi.

Menurut Sukamto, sampai hari ini KC FSPMI Bekasi belum melihat greget (media), kendati yang meningkat itu sudah banyak. "Jadi (untuk) pemberitaan, kalau saya, masih cuma kenal kalau di Bekasi hanya beberapa orang saja yang aktif. Jadi harapannya pasca-pendidikan ini, yakin nanti, teman-teman media yang senior-senior itu akan membuat program bagaimana kelanjutannya," cetusnya.

Sementara itu, Vice President Bidang Infokom dan Propaganda DPP FSPMI Kahar S. Cahyono, mengutip ucapan pengarang Pramoedya Ananta Toer. Ia mengatakan bahwa setinggi-tingginya ilmu, sepandai-pandainya orang, kalau dia tidak menulis, maka dia akan hilang dari peradaban. Dan kata Pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

"Kalau dia menulis, kalau seseorang tidak ditulis kisahnya, kalau perjuangan tidak ditulis kisahnya, kalau apa yang kita kerjakan tidak diabadikan, tidak didokumentasikan, maka semua jejak kita, semua apa yang kita lakukan, semua apa yang pernah kita pikirkan, itu akan hilang dari peradaban. Pram mengatakan itu," tegas Kahar dalam tayangan daring, Kamis (31/3).

Sambungnya, jadi orang boleh pintar, kita melakukan banyak hal di dunia ini, tapi kalau kemudian kita tidak pernah menuliskan, tidak pernah mendokumentasi, tidak pernah mengabadikan apa yang kita kerjakan, apa yang pernah kita lakukan, maka kita akan hilang dari peradaban. Dan Pram menegaskan, menulis, mengabadikan kisah, itu adalah upaya untuk memperpanjang kisah perjuangan.

"Untuk mengabadikan kenangan, untuk mengabadikan apa-apa yang pernah kita lakukan. Aktivitas menulis, merangkai kata, itu hanya satu bagian dari sebuah proses penulisan. Tapi yang paling penting dari semua apa yang akan kita tulis, yang paling penting dari apa isi dari sebuah tulisan, itu adalah tentang apa yang mau ditulis. Kita mau menulis apa," serunya.

Menurut Kahar, proses tentang mau menulis apa, itu adalah proses yang panjang. Seorang wartawan bahkan harus turun ke lapangan, keluar-masuk hutan, ikut memburu pelaku narkoba misalnya.

Sedangkan materi seni fotografi disoroti oleh Iwan Budi Santoso, Korlipnas (Koordinator Liputan Nasional) Media Perdjoeangan. "Bagaimana kita memulai alat propaganda kita, tentunya bagaimana kita mempunyai estetika dan fungsi sebagaimana yang kita inginkan atau tidak. Dalam dunia fotografi yang paling penting adalah cahaya," katanya.

Berita Lainnya