sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Duka ganda keluarga "korban" Covid-19 di tengah menipisnya stok liang lahad

TPU khusus pemakaman jenazah orang yang meninggal karena Covid-19 mulai kehabisan lahan.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 01 Feb 2021 12:19 WIB
Duka ganda keluarga

Air mata Maria menetes tatkala jenazah mertuanya, Phong Kong Bui diturunkan ke salah satu liang lahad di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Jakarta Barat, Minggu (31/1) petang itu. Dimakamkan sesuai protokol Covid-19, Maria hanya bisa menyaksikan jenazah sang mertua dari jauh. 

Tak hanya menyakitkan, perpisahan itu juga mengagetkan bagi perempuan berusia 47 tahun tersebut. Pagi tadi, ia dan sang mertua sempat berbincang melalui telepon. Maria berjanji bakal menjenguk ke rumah sakit tempat sang mertua dirawat. 

"Saya tidak sangka mertua pergi. Kami baru ngobrol tadi (pagi). Dia (Phong) angkat telepon, tapi suaranya udah enggak kedengeran jelas," ujar Maria saat ditemui Alinea.id di area pemakaman.

Phong dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Barat, Jumat (29/1) lalu. Pria berusia 74 tahun itu dibawa ke rumah sakit lantaran sesak nafas. Selain karena batu ginjal dan diabetes yang telah lama diderita, menurut dokter, Phong juga diduga kena Covid-19. 

Sehari setelah dirawat, Phong sempat mengabarkan bahwa ia mulai membaik. Namun, kondisi kesehatan Phong memburuk pada hari kedua. "Dokter hanya bilang ke saya tadi kalau ayah mertua sempat sesak nafas," ujar Maria. 

Saat mengembuskan nafas terakhir, hasil tes Covid-19 milik Phong belum dikeluarkan pihak rumah sakit. Di depan dokter, Maria meminta agar mertuanya itu dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Maria ingin mertuanya itu berbaring di samping makam suaminya. 

"Kebetulan suami saya (putra sulung Phong) di (TPU) Pondok Ranggon dikuburnya. Tapi, menurut dokter, di sana sudah penuh. Akhirnya (jenazah Phong) dibawa ke sini," kata Maria.

Di area pemakaman khusus Muslim TPU Tegal Alur, Syaiful--bukan nama sebenarnya--juga berbagi cerita serupa, sore itu. Ketika ditemui Alinea.id, Syaiful tengah nyekar ke makam sang kakak. 

Sponsored

"Kakak saya baru seminggu (dimakamkan) di sini," kata Syaiful yang saat menabur bunga ditemani kakak ipar dan tiga keponakan. 

Menurut Syaiful, sang kakak meninggal bukan karena Covid-19. Ia meyakini kakaknya meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya sejak sekolah menengah atas (SMA). "Dia masuk (rumah sakit) kan karena sakit jantung," kata dia.

Kakak Syaiful dirawat Rumah Sakit Hermina, Jatinegara, Jakarta Timur. Saat sang kakak meninggal, Syaiful menuntut pihak rumah sakit memperbolehkan keluarga membawa pulang jenazah ke rumah. 

Namun, permintaan itu ditolak RS Hermina. Usulan agar jenazah dikuburkan di TPU terdekat juga tidak diloloskan. "Kami meminta agar dimakamkan di Pondok Rangon juga ditolak, katanya sudah penuh," jelas dia.

Sempat adu ngotot dengan pihak rumah sakit, Syaiful dan keluarga akhirnya mengalah setelah mendekar kabar makam keluarga di Jakarta Timur terendam banjir akibat hujan. 

"Alhamdulillah, masih ada tempat untuk kakak saya. Kalau tidak, mungkin dilempar ke mana-mana. Itu yang bikin keluarga sedih sebenarnya," tutur dia. 

Selain di TPU Tegal Alur, Pemprov DKI telah menetapkan agar jenazah orang yang meninggal karena Covid-19 dimakamkan di TPU Pondok Ranggon. Namun, kedua TPU itu kini hampir tak punya lahan baru untuk pemakaman. Di Tegal Alur, sejumlah "korban" Covid-19 bahkan dikubur dengan sistem tumpang tindih. 

Berdasarkan data Dinas Tata Kelola Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, blok makam Covid-19 di TPU Pondok Ranggon untuk jenazah Muslim sudah penuh per 8 November 2020. Area pemakaman jenazah Covid-19 non-Muslim sudah penuh sejak 20 Desember 2020.

Deretan nisan tanpa nama berjejer rapi di areal pemakaman khusus jenazah Covid-19 di TPU Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Jumat (29/1). Alinea.id/Marselinus Gual

TPU baru pun mulai kewalahan

Untuk mengatasi keterbatasan lahan, Pemprov DKI telah menetapkan TPU Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, sebagai lokasi baru pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19. Luasnya sekitar 1,3 hektare dan diperkirakan bisa menampung sekitar 1.000 makam. 

Saat Alinea.id berkunjung ke TPU Srengseng Sawah, Jumat (29/1) lalu, nisan-nisan kayu telah berdiri tegak di area yang khusus jenazah Covid-19. Ada 39 liang lahad yang baru digali. Sebuah kendaraan penggali tanah (beko) diparkir di area TPU. 

"Cukup sudah, tolong patuhi protokol kesehatan. Sedih saya melihat ini semua," ujar Budi, salah satu operator TPU Srengseng Sawah, saat berbincang dengan Alinea.id di area pemakaman baru. 

Sehari-hari, Budi bertugas mendata petak makam dan menerima surat penyerahan jenazah pasien Covid-19 yang dimakamkam di TPU Srengseng Sawah. Pada periode 12-23 Januari, Budi mengaku sudah mendata 560 jenazah yang masuk ke TPU itu. 

"Makam (utama) sudah penuh. Ini lahan baru yang dipersiapkan. Kapasitasnya berapa, saya kurang tahu," ujar pria berusia 37 tahun tersebut. 

Lokasi pemakaman baru terletak di sebuah lahan kosong bekas empang, sekitar 500 meter dari area pemakaman utama. Menurut Budi, saat diputuskan jadi area pemakaman jenazah Covid-19, warga setempat sempat menyuarakan penolakan. 

Aksi protes warga baru surut setelah sosialisasi panjang Pemprov DKI dan mediasi oleh Komisi A DPRD DKI Jakarta. "Sempat benturan dengan warga di sini. Tadinya, mereka mau untuk TPU saja, bukan Covid," kata Budi.

Meski baru dibuka, TPU langsung banjir "orderan". Pada hari pertama TPU itu resmi jadi area pemakaman Covid-19, Budi menuturkan, ada 67 jenazah pasien Covid-19 yang diangkut ke TPU Srengseng Sawah. Selain dari DKI Jakarta, mobil ambulans pembawa jenazah juga datang dari dari Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cikarang, dan Serang. 

"Malamnya ditelepon, sekitar jam tujuh, bahwa TPU Srengseng Sawah akan terima jenazah Covid. Besoknya, tenaga PJLP (penyedia jasa lainnya perorangan) kami hanya mampu gali sepuluh lubang. Karena banyak jenazah, akhirnya kami minta bantuan alat berat beko," ujar Budi.

Di TPU Srengseng Sawah, ketika itu, ada 48 penggali makam yang bertugas. Para penggali makam dikerahkan dari sejumlah TPU yang dikelola Suku Dinas Tata Kelola Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Selatan. 

Saat bekerja, mereka bergantian memikul dan menurunkan jenazah ke liang lahad. Mereka terpaksa membobong peti dari pinggir jalan menuju liang lahad lantaran akses masuk mobil ke area pemakaman sama sekali belum disiapkan. 

"Alhamdulillah, hingga saat ini tenaga (penggali lahad) kami belum ada yang jatuh sakit. Capek sih, iya. Tetapi, ini risiko kerja. Kami tetap bersyukur sedikit bisa membantu keluarga korban dengan cara ini," tutur Budi.

Sebuah kendaraan berat penggali tanah diparkir di area TPU Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Jumat (29/1). Alinea.id/Marselinus Gual

Tak jauh dari tempat Budi berdiri, Sayuti dan tiga penggali makam tengah memasang patok untuk dibuat jalan masuk ke area pemakaman baru. Di langit, terlihat gumpalan awan hitam pertanda hujan sebentar lagi turun.

Sembari menyeka keringat, Sayuti mengukur dengan cermat jarak antara patok. Wajahnya terlihat lelah. "Kami semua capek, tapi mau bagaimana lagi. Ini risiko kerja," ujar Sayuti kepada Alinea.id.

Sayuti menuturkan, ia dan puluhan penggali makam lainnya bekerja kurang lebih 12 jam tiap hari dalam dua pekan terakhir ini. Setiap hari, mereka bisa mengubur hingga sekitar empat puluh sampai lima puluh jenazah.

"Kalau jenazahnya lagi banyak, kami baringkan dulu di pinggir makam. Baru nanti sekalian diturunkan. Begitu setiap hari. Kami biasanya baru bisa tidur itu jam 10 malam," jelas Sayuti.

Selama bekerja, Sayuti mengaku kerap mendapati keluarga pasien mengikuti prosesi pemakaman dari kejauhan. Lantaran keluarga tak diizinkan mendekat selama penguburan, Sayuti mengaku ia juga ikut sedih. 

"Saya sudah tujuh tahun bekerja beginian, menggali (liang lahad) dan mengubur jenazah. Tapi, dengan kondisi seperti ini, rasanya gimana ya, sesak sekali. Saya tidak tahu bagaimana perasaan keluarga," kata pria berusia 42 tahun itu. 

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Selatan Winarto mengatakan area pemakaman baru di TPU Srengseng Sawah sebenarnya baru bakal menerima jenazah orang yang meninggal karena Covid-19, awal pekan ini. 

"Saya belum tahu nanti area baru ini bisa nampung berapa (jenazah)," kata Winarto saat ditemui Alinea.id di TPU Srengseng Sawah, Jumat (29/1)

Selama 11 hari, Winarto menghitung sudah ada 560 jenazah yang masuk ke TPU tersebut. Ia membenarkan petugas pemakaman sempat kewalahan. Sebagian jenazah bahkan mesti dialihkan ke TPU Bambu Apus, Jakarta Timur.

"Pernah terima 63 jenazah (pada minggu pertama). Kami sangat kewalahan. Tapi, setelahnya (jumlah jenazah yang diangkut ke TPU) mulai menurun," ujar Winarto.

Berbeda dengan TPU khusus jenazah Covid-19 lainnya, Winarto mengatakan, sistem tumpang tindih tidak akan diberlakukan di area pemakaman di TPU Srengseng Sawah. Setiap jenazah bakal dikuburkan di liang lahad yang berbeda dengan jarak sekitar satu meter antarliang. 

"Karena ini makam baru juga ya dari TPU yang sudah penuh selama ini. Sesuai kuota, ada 560 lubang yang digali. Jadi, tidak ada yang tumpang tindih," jelas Winarto. 

Berita Lainnya