sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dunia buku 'digebuk' pagebluk: Toko-toko berjatuhan, penerbit berguguran

Minimnya minat membeli buku selama pandemi membuat sebagian besar penerbit merugi dan toko buku gulung tikar.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Selasa, 16 Feb 2021 17:08 WIB
Dunia buku 'digebuk' pagebluk: Toko-toko berjatuhan, penerbit berguguran
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Di depan lapak kecilnya, Acho Syareeves sigap mengawasi lalu lalang pengunjung pasar buku Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (12/2) petang itu. Sesekali, ia menghampiri pengunjung yang lewat sembari menanyakan buku yang tengah mereka buru. 

"Soalnya lagi musim (banyak pembeli). Bulan dua (Februari) sampai bulan empat (April) itu banyak mahasiswa cari buku materi kuliah. Momen ini waktunya kita nambah omzet," ujar Acho saat berbincang dengan Alinea.id di depan toko bukunya. 

Meskipun tak seramai saat kondisi normal, menurut Acho, jumlah pengunjung ke pasar buku Kwitang sedang naik. Ia menduga kenaikan itu sejalan dengan bakal dimulainya perkuliahan semester di sejumlah kampus di Jakarta.

"Abis ini, biasanya turun lagi kayak kemarin pas PSBB (pembatasan sosial berskala besar) lokal di DKI Jakarta. Nanti naik lagi sekitar bulan delapan (Agustus) dan bulan sembilan (September)," terang pria berusia 45 tahun itu. 

Dunia perbukuan di Kwitang, kata Acho, terpukul keras oleh pandemi Covid-19. Saat PSBB diberlakukan pada April 2020, ia mengatakan, omzet hariannya turun hingga 80%. Jika normalnya Acho bisa membawa pulang Rp500 per hari, omzet lapak Acho sempat turun hingga kisaran Rp80-100 ribu per hari saat pandemi. 

"Satu buku saja susah sekali (dijual). Bahkan, pernah sehari saya enggak ada yang beli sama sekali. Alhamdulillah, sekarang bisa mencapai lima sampai sepuluh buku dalam sehari. Kalau akhir pekan, saya bisa dapat untung Rp300-400 ribu sehari," terang dia. 

Pukulan telak paling terasa pada jenis buku pelajaran sekolah. Menurut Acho, penurunan drastis jumlah pembelian itu terjadi saat metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) diberlakukan dan banyak orang tua yang lebih mengandalkan buku digital. "Buku sekolah enggak laku sama sekali sekarang," kata dia. 

Hingga kini, Acho mengatakan masih setia berjualan langsung di lapak kecilnya. Ia mengatakan belum berani memindahkan lapaknya ke market place. "Soalnya di persaingan di online itu sangat ketat. (Penjual) pada banting-bantingan harga. Jadi, enggak sehat," ujarnya.

Sponsored

Tak hanya toko buku kecil, usaha penerbitan juga terpukul pandemi. Lesunya minat membeli buku setidaknya dirasakan oleh rumah penerbit Anagram yang dikelola Doni Ahmadi. Supaya tidak gulung tikar, Doni bahkan sempat meminjam uang ke salah satu rekannya.

"Kami pinjam uang ke teman supaya tetap bisa nerbitin dan produksi buku. Soalnya kalau berhenti sama sekali, ya, enggak ada pemasukan. Ketika buku rilis, otomatis ada pemasukan supaya bisa berputar lagi dan bayar utang setelah jalan," ujarnya kepada Alinea.id, Senin (8/2).

Anagram baru berusia dua tahun. Biasanya, Anagram menerbitkan dan menjual buku fiksi, puisi, dan sastra. Selain eceran, buku-buku terbitan Anagram juga bisa dipesan secara gelondongan untuk dijual kembali oleh reseller. 

Sejak Mei 2020, menurut Doni, buku yang dipesan reseller jumlahnya turun drastis. Karena pesanan minim, Anagram pun hanya berani menerbitkan sekitar 200 eksemplar dalam dua bulan. "Angka itu pun sudah sangat maksimal. Kalau normal, kita bisa cetak 500 eksemplar," ujar Doni.

Judul buku yang diterbitkan pun terbatas. Sejak Agustus 2020 hingga Februari 2021, kata Doni, Anagram hanya menerbitkan tiga judul buku. Strategi tersebut diambil supaya Anagram tidak merugi terlalu besar seandainya buku yang diterbitkan tak laku di pasaran. 

"Padahal, kalau dalam keadaan normal bisa enam sampai tujuh terbitan. Kita harus memilih mana buku yang harus dicetak sebab daya beli masyarakat lagi menurun. Ketika pandemi, rilis buku itu, penjualannya enggak terlalu signifikan. Itu yang jadi masalah," ujar dia. 

Meskipun kepayahan karena pandemi, Anagram tak sampai memecat pegawai. Langkah efisiensi, kata Doni, tidak perlu diambil lantaran tim Anagram tergolong ramping. "Jadi, kami cuma siasati dari jumlah oplah aja supaya pengeluaran bisa diukur," imbuh dia.

 Acho Syareeves, 45 tahun, tengah duduk di depan lapaknya di pasar buku Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (12/2). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Penerbit megap-megap

Nasib serupa juga dialami Basabasi, penerbit kecil asal Yogyakarta. Pemimpin redaksi Basabasi Reza Nufa mengatakan imbas pandemi mulai dirasakan Basabasi sejak Juni 2020. Ketika itu, pameran buku sudah dilarang pemerintah dan jumlah pesanan buku terbitan Basabasi mulai berkurang.
 
"Awal pandemi sebenarnya masih bagus. Itu karena mungkin orang menganggap pandemi ini hanya sebentar. Jadi, banyak orang masih berani ngeluarin duit. Nah, begitu Juni-Juli, bener-bener daya beli masyarakat langsung menurun," ujarnya kepada Alinea.id, Selasa (9/2).

Menurut Reza, omzet Basabasi turun hingga sekitar 30% karena pandemi. Jika pada masa normal Basabasi bisa memproduksi 8-10 judul buku atau sekitar 6.000-8.000 eksemplar per bulan, kini Basabasi hanya mampu menerbitkan 6 judul per bulan atau kisaran 3.000 eksemplar.  

"Itu (pembatasan judul buku yang diterbitkan) juga mungkin salah satu yang menyebabkan omzet turun. Jadi, lumayan dampaknya. Kami harus nerbitin (buku) yang benar-benar dibeli orang supaya enggak jeblok di pasaran," jelas Reza. 

Saat ini, kata Reza, Basabasi lebih mengandalkan penjualan secara daring. Pasalnya, kebanyakan toko buku reseller yang mengambil buku dari Basabasi gulung tikar karena tak kuat menghadapi pandemi. 

"Sebelum pandemi, bisa dibilang antara online dan offline itu 60% banding 40%. Tapi, yang sekarang bisa dibilang 90% atau 95% ke online semua," tutur dia. 

Untuk memastikan perputaran uang tetap lancar, Reza menuturkan, Basabasi pun kian ketat mengawasi reseller yang diajak kerja sama. Menurut dia, ada reseller nakal kerap memanipulasi angka penjualan.

"Beberapa penerbit itu kan pakai sistem pinjem. Jadi, reseller pinjam buku. Jadi, laporannya sedikit dikurangi-kurangi dan segala macam. Itu kami perketat supaya enggak rugi," ucap Reza.

Terpuruknya dunia penerbitan dibenarkan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Arys Hilman. Tak hanya toko buku, menurut dia, banyak penerbit yang tamat riwayatnya karena kehilangan pendapatan selama pandemi. 

"Ada (penerbit) yang sudah tidak lagi menerbitkan buku. Ada juga yang memang email dan nomor teleponnya sudah tidak aktif lagi," jelas Hilman saat dihubungi Alinea.id di Jakarta, Senin (12/2).

Kenyataan pahit itu, kata Hilman, sudah terpetakan lewat survei yang digelar Ikapi pada April 2020. Menurut hasil survei terhadap 100 penerbit di berbagai daerah itu, Ikapi menemukan sebanyak 58,2% penerbit menurun penjualannya hingga lebih dari 50%. 

Selain itu, sebanyak 29,6% penerbit mengaku mengalami penurunan penjualan antara 31%-50% dan sebanyak 8,2% penerbit lainnya turun penjualannya di kisaran 10% sampai 30%. Hanya 4,1% yang melaporkan kondisi penjualan relatif sama seperti hari-hari biasa. 

Daya tahan perusahaan juga direkam dalam survei itu. Hasilnya, 60,2% penerbit menyatakan hanya sanggup menggaji karyawan mereka selama 3 bulan, 25,5% menyatakan bisa bertahan selama 3-6 bulan dan sebanyak 9,2% penerbit menyatakan bisa bertahan selama 6-9 bulan. Sisanya atau 5,1% menyatakan bisa bertahan antara 9 bulan sampai 1 tahun.

"Intinya butuh insentif yang menunjang penjualan buku. Sebenernya yang penting penerbit bisa jualan. Persoalannya, begitu mau jualan, kami berhadapan dengan pembajakan. Pembajakan itu sangat besar soalnya dan sangat serius sekali," ujar Hilman. 

Penurunan minat masyarakat membeli buku terasa hampir di semua "genre". Namun demikian, menurut Hilman, buku pelajaran yang paling sepi pembeli. "Kasus tidak jauh berbeda juga dialami buku fiksi sebenarnya," kata dia. 

Karena pembajakan marak, Hilman mengatakan, penerbit juga tak bisa berharap banyak saat menjual bukunya secara online. "Banyak praktik penjualan buku bajakan di market place yang menjatuhkan harga buku ori," ujar Hilman.

Ilustrasi toko buku tua. /Foto Pixabay

Pemerintah siapkan program dan insentif

Kepada Alinea.id, Direktur Industri Kreatif Musik, Seni Pertunjukan, dan Penerbitan  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Mohammad Amin mengatakan pihaknya sedang merancang sejumlah upaya untuk meringankan beban penerbitan dan penulis buku. 

Salah satunya ialah lewat gelaran Nulis Dari Rumah Jilid 2. Dalam program ini, menurut Amin, penulis bakal diberikan stimulus untuk tetap menghasilkan karya selama pandemi, semisal membantu mencetak buku yang lolos seleksi ke penerbit. 

"Tahun kemarin, itu pernah kita lakukan. Tapi, kami lihat perkembangan. Kemungkinan yang akan menjadi jenis produk (yang dilombakan), ya, komik dan travel writing," ujarnya saat dihubungi, Jumat (12/2).

Langkah kecil lainnya, kata Amin, ialah menjadikan buku yang relevan sebagai salah satu suvenir dalam seminar kit yang dibagikan kepada peserta acara-acara yang digelar Kemenparekraf. Sayangnya, langkah semacam itu belum dijalankan di kementerian lain.

"Misalnya, kalau membicarakan musik, ya, buku-buku mengenai musik. Dengan demikian, bila ini diikuti banyak orang, diikuti direktorat-direktorat lain, (cara) itu mungkin bisa membantu mereka (penulis dan penerbit)," ujarnya.

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo

Lebih jauh, Amin mengungkapkan Kemenparekraf juga sudah punya rencana untuk memberikan jenis-jenis insentif lainnya buat dunia penerbitan agar tidak kian terpuruk. Saat ini, regulasinya tengah digodok.

"Salah satu bentuknya kami mendorong terjemahan buku-buku yang dianggap potensial untuk dijual ke luar negeri," ujarnya.

Soal insentif pemerintah, Hilman mengakui Kemenparekraf memang tergolong yang paling aktif membantu dunia perbukuan dan penerbitan. Namun demikian, ia berharap buku-buku pelajaran yang tak laku saat pandemi jadi perhatian khusus pemerintah. 

"Buku pendidikan itu tidak terlalu pengaruh dengan adanya pameran. Program Nulis Dari Rumah juga kurang berdampak bagi buku pendidikan. Ya, mereka (penerbit) minta ada pembelian saja dari pemerintah. Nah, ini sebenarnya ranah Kemendikbud," kata dia. 

Berita Lainnya