sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ekspresi Jokowi dan apesnya Sripeni

Sripeni baru dua hari menjabat Plt Dirut PLN saat disambangi Jokowi di kantornya.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Selasa, 06 Agst 2019 21:19 WIB
Ekspresi Jokowi dan apesnya Sripeni

Baru dua hari menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN), Sripeni Inten Cahyani mendapat 'kehormatan' dikunjungi Presiden Joko Widodo di kantornya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Pusat, Senin (6/8) lalu. 

Sayangnya, Jokowi tak hendak memberikan selamat kepada Sripeni. Orang nomor 1 RI itu datang ke kantor PLN guna menyuarakan kemarahan jutaan warga atas pemutusan aliran listrik selama kurang lebih 8 jam di DKI Jakarta dan Jawa Barat, sehari sebelumnya. 

Tanpa basa-basi, Jokowi langsung menuntut penjelasan dari jajaran direksi PLN. "Yang simple-simple saja. Kemudian, kalau masih ada yang kurang, blak-blakan saja sehingga bisa diselesaikan masalahnya supaya tidak terulang lagi," ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, pemadaman listrik secara masif hingga berjam-jam menunjukkan buruknya kinerja PLN. "Bapak, Ibu, semuanya kan orang pintar-pintar. Apalagi, urusan listrik dan sudah bertahun-tahun. Apakah tidak dihitung? Apakah tidak dikalkulasi kalau akan ada kejadian-kejadian sehingga kita tahu sebelumnya? Kok tahu-tahu drop?” tanya Jokowi. 

Selama Jokowi bicara, Sripeni terlihat mengangguk-anggukan kepala. Sesekali, perempuan kelahiran di Pati, Jawa Tengah pada 7 Oktober 1968, itu mengamini perkataan Jokowi. "Iya, Pak," ujar Sripeni. 

Saat diberi waktu untuk menjelaskan oleh Jokowi, Sripeni langsung nyerocos. Istilah-istilah teknis keluar dari mulutnya. Ketika itu, ia berkilah tim berkilah masih menyelidiki gangguan di infrastruktur PLN yang menyebabkan terputusnya aliran listrik secara masif. 

Kepada Jokowi, Sripeni mengaku, jajarannya memang teledor. "Kami memang mohon maaf, Pak. Prosesnya (pemulihan listrik) lambat. Kami akui, Pak," kata dia. 

Sripeni bisa dikata sedang apes. Pasalnya, peristiwa pemadaman listrik masif itu terjadi saat ia baru sekitar 48 jam menduduki kursi empuk Dirut PLN. Sripeni ditunjuk sebagai Plt menggantikan Djoko R Abumanan dalam rapat umum pemegang saham PLN 2019, Jumat (2/8) lalu. 

Sponsored

Di PLN, karier Sripeni sebenarnya tergolong moncer. Dia masuk ke jajaran direksi PLN pada 29 Mei 2019 saat Djoko ditunjuk jadi Plt. Artinya, ia hanya membutuhkan waktu tiga bulan di jajaran direksi sebelum menguasai kursi PLN I. 

Sebelum berada di jajaran direksi, Sripeni juga pernah menduduki beragam jabatan strategis di PLN, antara lain sebagai Direktur Keuangan Indonesia Power, Eksekutif Utama Bidang Keuangan Indonesia Power, dan Kepala Divisi Pendanaan dan Asuransi Indonesia Power.

Makna gestur Jokowi

Pengamat komunikasi dan bahasa tubuh Monica Kumalasari mengatakan ada banyak simbol yang bisa dimaknai dalam peristiwa inspeksi mendadak Jokowi ke kantor PLN. Salah satunya ialah makna di balik ketusnya Jokowi di depan jajaran direksi PLN. 

"Dari intonasi suara Jokowi yang rendah, Jokowi tampak menyampaikan kemarahan secara sangat elegan. Ini ditujukan agar pihak PLN sadar dan mengakui kesalahannya,” kata Monica kepada Alinea.id, Selasa (6/8). 

Tak hanya itu. Menurut Monica, langkah Jokowi menyambangi langsung gedung PLN menunjukkan bahwa Jokowi geram dengan kinerja PLN. Apalagi, Dirut PLN nonaktif Sofyan Basyir baru saja ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh KPK, belum lama ini.

“Publik dan Jokowi sudah tahu apa yang terjadi di PLN. Bahasa tubuh Jokowi yang datang ke PLN menunjukkan kemarahan besar, tetapi disampaikan dengan emosi tertahan dan ekspresi nonverbal yang lebih dalam,” ujar Monica. 

Dari segi mimik, Monica mengamati, Jokowi sempat memperlihatkan ekpresi sekilas yang menandakan kecewa dan prihatin. "Ada sekilas tampak alisnya mengerut. Ini mencerminkan sedih atau keprihatinan mendalam,” kata Monica. 

Selebihnya, lanjut Moncia, gaya komunikasi Jokowi yang dingin ketika sidak ke kantor PLN menunjukkan kemarahan yang terkontrol. “Namun cara itu justru lebih kena. Hingga membuat direksi PLN jadi merasa bersalah,” ujar dia.