close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pixabay
Nasional
Rabu, 18 November 2020 13:53

Jumlah pelajar yang meninggal karena depresi PJJ bertambah

Orang tua menduga ST depresi sebab banyaknya tumpukan tugas PJJ.
swipe

Siswi SMAN kelas 12 di Kabupaten Tangerang diduga meninggal dunia karena depresi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pelajar berinisial ST ini sempat dirawat di rumah sakit swasta sebelum dirujuk ke RSJ Grogol, Jakarta Barat. Orang tua menduga ST depresi sebab banyaknya tumpukan tugas PJJ. Ayah ST mengaku menyaksikan putrinya disibukkan dengan tugas-tugas PJJ daring.

“Jika keterangan yang diberikan orang tua terkait Depresi sang anak karena PJJ daring valid dan benar, maka kematian anak selama PJJ di masa pandemi sudah mencapai empat anak, yaitu siswi SDN (8 tahun) yang tewas karena kerap dianiaya orang tuanya karena sulit diajarkan PJJ daring, siswi SMAN di Gowa (Sulsel) dan siswa MTs di Tarakan (Kalimantan Utara) yang bunuh diri karena diduga depresi akibat PJJ, meski faktor bunuh diri seorang anak tidak pernah tunggal,” kata Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis, Rabu (18/11).

Dari hasil pemantauan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap pelaksanaan PJJ fase pertama dari Maret-Juni 2020, peserta didik cenderung mampu mengatasi tekanan psikologis, karena pembelajaran tatap muka sempat dilakukan selama sembilan bulan. Di sisi lain, guru mata pelajaran, wali kelas, dan teman-teman sekelasnya sama dan masih aktif berkomunikasi.

Namun, hasil pemantauan PJJ fase kedua, anak-anak lebih sulit mengatasi permasalahan psikologis, sehingga berpengaruh pada kesehatan mentalnya. PJJ fase kedua juga dihadapkan dengan kenyataan kenaikan kelas dengan situasi telah berubah. Wali kelas, guru mata pelajaran, dan kemungkinan besar kawan sekelasnya sudah berganti.

Retno menjelaskan, pergantian kelas dengan suasana baru tanpa pernah dilakukan pembelajaran tatap muka, berpotensi membuat anak sulit memiliki teman dekat untuk saling berbagi dan bertanya. Imbasnya, kesulitan pembelajaran bakal turut membebani anak sendiri jika tidak berani bertanya kepada gurunya.

Selain itu, masalah ketimpangan akses terhadap fasilitas pendukung PJJ juga berdampak pada pengaturan waktu belajar dan kesulitan memahami instruksi guru.

“Tidak dapat dipungkiri, pandemi ini juga dapat berdampak kepada aspek psikososial dari anak dan remaja di antaranya adalah perasaan bosan karena harus tinggal di rumah, khawatir tertinggal pelajaran, timbul perasaan tidak aman, merasa takut karena terkena penyakit, merindukan teman-teman, dan khawatir tentang penghasilan orangtua,” tutur Retno.

img
Manda Firmansyah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan