logo alinea.id logo alinea.id

Korban meninggal akibat banjir bandang di Gowa 46 orang

Selain menyebabkan korban meninggal dunia, bencana tersebut juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Senin, 28 Jan 2019 10:21 WIB
Korban meninggal akibat banjir bandang di Gowa 46 orang

Jumlah korban jiwa akibat bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, bertambah menjadi 46 orang. Data tersebut tercatat berdasarkan informasi pemerintah daerah setempat.

“Sesuai data yang masuk per tanggal 27 Januari pukul 22.00 WITA, jumlah korban meninggal ditemukan sudah 46 orang,” kata Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan di Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (28/1). 

Adnan mengatakan, pada hari keenam pencarian tim SAR hanya menemukan jenazah satu warga di Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong. Selanjutnya, pada hari sebelumnya, Sabtu (26/1), tim berhasil mengevakuasi jenazah 12 orang. 
Sebelumnyan, kata Bupati, pada hari pertama pencarian tim menemukan 6 jenazah, lalu disusul penemuan 6 jenazah pada hari kedua, 17 jenazah warga pada hari ketiga, dan 4 jenazah pada hari keempat.

Adnan menambahkan selain menyebabkan korban meninggal dunia, bencana tersebut juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur. Salah satunya jembatan penghubung. Tercatat ada 4 jembatan yang ambruk termasuk jembatan Bongaya.

Saat ini, pemerintah daerah setempat masih memfokuskan diri untuk pemulihan pascabencana banjir dan longsor. Selain bantuan makanan, obat-obatan dan pakaian, pemerintah daerah juga tengah memulihkan trauma (trauma healing) bagi anak-anak yang terkena dampak bencana banjir bandang dan longsor.

“Semua OPD terlibat karena bencana banjir dan longsor melibatkan semua aspek. Makanya, pemulihan trauma adalah salah satu prioritas agar anak-anak yang menjadi korban bisa ceria kembali,” kata Adnan.

Ia mengatakan, pemberian pendampingan untuk pemulihan trauma dilakukan oleh dua dinas terkait, yakni Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial dengan mendatangkan psikolog. 

Menurutnya, musibah banjir bandang dan longsor menimbulkan trauma mendalam kepada para korbannya, bukan hanya bagi anak-anak tetapi orang dewasa juga mengalaminya. Meski begitu, dirinya lebih menitikberatkan kepada anak-anak, apalagi banyak warga yang meninggal dan luka-luka terjadi di depan mata anak-anak.

Sponsored

“Anak-anak adalah tumpuan kami, harapan kami di Kabupaten Gowa. Kita tidak ingin ada trauma yang membekas, makanya cara ini kami tempuh,” katanya.

Pada pemulihan trauma yang dilakukan di tempat-tempat pengungsian, Minggu (27/1), terdapat 230 anak yang mengikuti program tersebut dan tersebar di tiga titik yakni di SD Mangasa (150 anak), RPH Tamarunang sekitar (30 anak), dan BTN Bumi Batara Mawang sekitar (50 anak).

Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Anak Dinas Sosia Kabupaten Gowa, Asrianty, menyatakan trauma healing dilakukan untuk menghilangkan trauma pada anak-anak. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga untuk menanamkan kepercayaan diri yang sempat hilang.

“Setelah bencana pasti anak-anak trauma untuk balik ke rumah, apalagi dengar hujan sedikit pasti ketakutan. Makanya kita adakan ini supaya anak-anak bisa menghilangkan traumanya. Apalagi kita ada pembelajaran Parenting atau mengajarkan anak tanggap bencana,” kata Asrianty.

Lebih jauh, Asrianty mengatakan, pihaknya juga bekerja sama dengan Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI) 'Sikamaseang' Kabupaten Gowa, Psikolog UNM, Lembaga Indonesia Mengabdi, Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) dari Kemensos RI untuk memberikan pembelajaran mengenai pemeulihan trauma pada anak.

"Jadi inilah yang membawa materi terhadap anak-anak, mulai dari berdongeng, bercerita, mewarnai bahkan ada reward yang diberikan supaya anak bisa lebih semnagat lagi mengikuti trauma healing," ucap Asrianty.

Asrianty berharap, dengan adanya trauma healing tersebut para anak bisa memulihkan psikologinya, kepercayaan dirinya, dan tanggap bencana. (Ant)