sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mayoritas teroris yang diringkus masih muda berpendidikan tinggi

BNPT mencatat, pelaku teroris yang ditangkap Densus 88 sebagian besar berusia muda dengan tingkat pendidikan yang tinggi.

Khaerul Anwar
Khaerul Anwar Senin, 28 Okt 2019 17:46 WIB
Mayoritas teroris yang diringkus masih muda berpendidikan tinggi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.314.634
Dirawat 157.705
Meninggal 35.518
Sembuh 1.121.411

Pemuda merupakan sasaran rawan faham radikalisme dan terorisme. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), jumlah pemuda yang terpapar kedua faham tersebut tidaklah sedikit.

Data BNPT menyebutkan, pelaku teroris terbesar berpendidikan SMU yakni 63,3%, kemudian disusul perguruan tinggi 16,4%, SMP 10,9%, tidak lulus perguruan tinggi 5,5%, dan SD 3,6%.

Kemudian berdasarkan umur, pelaku teroris terbanyak usia 21-30 tahun yakni 47,3%, disusul usia 31-40 tahun 29,1%. Sedangkan usia di atas 40 tahun dan di bawah 21 tahun masing-masing 11,8%.

Dalam acara deklarasi dalam momentum Hari Sumpah Pemuda di Banten, Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir mengatakan mereka yang ditangkap Polri dalam kasus terorisme rata-rata berusia muda hingga 52%.

"Kita mengajak kepada pemuda mulai dari BEM, organisasi lain untuk bisa memahami akar permasalahannya bagaimana radikalisme ini masuk terhadap generasi milenial ini sehingga dengan begitu kita bisa mewaspadai masuknya radikalisme," kata Kapolda di Pendopo Gubernur Banten, Senin (28/10).

Menurutnya, dulu radikalisme ini  dikembangkan melalui kelompok mulai dari keluarga terdekat. Sekarang ini, sudah mulai bergeser berkembang melalui media sosial sehingga paham ini sangat mudah menyebar.

"Kita menyarankan generasi muda bisa melihat konten ajakan medsos maupun ajakan tadi. Lalu bandingkan dengan literatur yang lain, sehingga benar tidak (ajaran tersebut)," katanya.

Untuk menanggulangi hal tersebut, pemuda di Banten yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Banten, dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Banten menggelar deklarasi anti radikalisme dan terorisme.

Sponsored

"Insiden penusukan Pak Wiranto mencoreng nama baik Banten. Untuk itu kami tergerak untuk berbuat sesuatu untuk Banten. Kami mencoba menghalau faham tersebut masuk ke kalangan pelajar dan mahasiswa dan pemuda pada umumnya," kata Ketua DPD KNPI Banten Ali Hanafiah.

Terpisah Ketua BEM Serang Fakhrur Khafidzi menyatakan bahwa deradikalisasi perlu dilakukan. Upaya pencerahan terhadap pemuda di Banten menjadi pekerjaan bersama. "Kami akan ke sekolah-sekolah untuk memberikan pencerahan kepada kalangan pelajar."

Di sisi lain, nilai-nilai nasionalisme dan Pancasila perlu terus dibumikan. "Pancasila disusun oleh para ulama kita sebagai falsafah bernegara," ujarnya.

Berita Lainnya