sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mendikbud: Peran orang tua krusial dalam PJJ

Metode Pembelajaran Jarak Jauh banyak dikeluhkan siswa dan orang tua.

Andi Adam Faturahman
Andi Adam Faturahman Jumat, 22 Jan 2021 16:18 WIB
Mendikbud: Peran orang tua krusial dalam PJJ
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah pandemi banyak dikeluhkan siswa atau orang tua. Merespons hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim menyampaikan bahwa partisipasi dan peran orang tua dalam mendukung-mendampingi anak saat PJJ sangat krusial dan menentukan efektivitas belajar.

Peryataan tersebut ia perkuat dengan hasil dari observasi dan risetnya, bahwa peran orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan sukses-efektif atau tidaknya metode PJJ.

“Berdasarkan observasi dan riset yang saya lakukan, yang membedakan PJJ sukses atau tidak itu sebenarnya ada di peran orang tua. Hanya tinggal bagaimana para orang tua tersebut mau telaten, mau mendampingi anaknya untuk belajar. Jadi kuncinya itu sebenarnya di orang tuanya,” kata Nadiem dalam teleconference (22/1).

Meski untuk meningkatkan kesadaran para orang tua agar mau telaten dalam mendampingi anaknya di masa seperti ini, Nadiem mengungkapkan bahwa itu semua akan tercapai dengan dilibatkannya guru-guru untuk mempersuasi sekaligus mensosialisasikan pentingnya peran para orang tua dalam mensukseskan Pembelajaran Jarak Jauh.

“Saya anjurkan kepada semua guru untuk melakukan sosialisasi dengan para orang tua, bahwa mereka (orang tua) adalah kuncinya. Karena kalau anda (orang tua) tidak mendampingi anaknya dalam belajar, menurut saya itu gak bisa, karena guru itu tidak bisa memonitor semuanya,” ujarnya.

Kepada guru, Nadiem meminta untuk melakukan sosialisasi hingga menggelar webinar dengan orang tua.

"Beri penjelasan, bahwa menurut Mas Menteri pelaksanaan PJJ ini gak mungkin sukses tanpa perang orang tua" katanya.

Menurutnya, siswa tidak harus selalu menguasai materi, tetapi cukup didukung secara emosional saja. Misalnya, ditanyakan belajar apa saja hari ini, sulit atau tidak, perbanyak interaksinya. Kemudian, dampingi dan pastikan bahwa penggunaan atau konsumsi gadgetnya itu terkontrol dengan baik.

Sponsored

“Jadi kalau kita mau fokus dan memastikan bahwa pelaksanaan PJJ itu optimal, kita harus rame-rame, gotong royong untuk mewujudkan itu terjadi. Jadi saya menganjurkan dua hal, untuk orang tua sekali lagi saya tegaskan, tolong dampingi anaknya dalam belajar. Dan bagi para guru atau Kepala Sekolah, saya mohon untuk bisa mempersuasikan kepada para orang tua, bahwa pendampingan anak dalam belajar itu perlu dilakukan,” jelasnya.

Kemudian, Nadiem juga meminta kepada para guru untuk berani berinisiatif dan bergerak lebih awal dalam menentukan langkah-langkah atau formulasi pembelajaran yang lebih baik.

Ia akan memberikan lampu hijau kepada para guru untuk melakukan eksperimen sendiri di masa pandemi ini, apabila dinilai kerangka pembelajaran Kemendikbud tidak cocok untuk digunakan. Karena menurutnya, guru itu lebih mengetahui mana yang terbaik dan mana yang harus diambil, karena itulah yang dinamakan merdeka belajar.

Selain itu, ia juga meminta pemerintah daerah (Pemda) untuk kembali meninjau dan melaporkan daerah-daerah atau sekolah-sekolah yang keadaannya sulit atau berkebutuhan dalam pelaksanaan PJJ.

“PJJ itu bukanlah suatu opsi, tolong pikirkan seberapa besar dan permanennya mereka kehilangan. Atau sejauh mana mereka tertinggal dalam pelajaran kalau Pemdanya tidak bersikap untuk mengambil posisi melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara bertahap," pungkasnya.

Berita Lainnya