sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pengakuan Setya Novanto soal bilik asmara di Lapas Sukamiskin

Setya Novanto mengaku tak menggunakan bilik asmara di Lapas Sukamiskin.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Selasa, 18 Des 2018 17:08 WIB
Pengakuan Setya Novanto soal bilik asmara di Lapas Sukamiskin

Mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto, mengaku tak pernah menggunakan bilik asmara Fahmi Darmawansyah di Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Sukamiskin, Bandung. Ia bahkan menampik pernah mendatangi tempat memuaskan hasrat biologis yang dibangun Fahmi tersebut.

"Tidak ada saya ke sana (bilik asmara)," kata Setya Novanto di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (18/12).

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu juga mengaku tak pernah ditawari untuk menggunakan bilik asmara. Padahal dalam dakwaan mantan Kepala Lapas Sukamiskin, Wahid Husein, disebutkan bahwa bilik asmara tersebut disewakan Fahmi pada narapidana lain untuk melakukan hubungan badan.

Wahid mengizinkan Fahmi membangun sendiri ruangan berukuran 2x3 meter persegi itu sebagaimana keinginan Fahmi. Di tempat tersebut, Fahmi melakukan hubungan badan saat istrinya, Inneke Koesherawati mengunjunginya.

Adapun pada narapidana lain, Fahmi mematok harga Rp650 ribu untuk menggunakan tempat tersebut.

"Tidak pernah ditawari. Saya tidak pernah tahu kalau dulu bagaimana," ucap Novanto.

Setya Novanto menjadi penghuni Lapas Sukamiskin sejak 4 Mei 2018. Ia terbukti  melakukan korupsi pengadaan KTP elektronik tahun anggaran 2011-2012, dengan hukuman 15 tahun penjara.

Irvanto Pambudi

Sponsored

Novanto juga mengaku belum pernah bertemu dengan keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo di Lapas Sukamiskin. Mantan Direktur Operasional PT Murakabi Sejahtera itu divonis 10 tahun penjara dalam kasus korupsi KTP-el.

"Wah enggak sempet, dia (Irvanto) di keong. Kalau di keong susah. Ikut aja semuanya, semua dilakukan secara ketat sekarang, tapi kasihan dia ya, berat, karena dia sebagai pengantar. Saya sangat prihatin sekali apa yang sudah diputuskan, tapi kita tetap menghormati apa pun putusannya," ujarnya.

Keprihatinan Novanto, disebabkan pandangannya bahwa Irvanto hanya diperalat oleh Andi Narogong, terpidana lain dalam kasus tersebut. Terlebih Irvanto mendapat hukuman lebih berat dari Andi yang hanya dihukum 8 tahun penjara. 

Namun Novanto menekankan, setelah masuk lapas semua orang memang menjadi prihatin. Karenanya segala kegiatan lapas harus diikuti. Novanto mengibaratkan masuk lapas seperti menjalani hidup di pesantren.

"Sudah masuk sana ya sudah masuk pesantren, sudah belajar doa. Semua doa saya sudah ikuti semua. Belajar berdoa, bangun pagi 02.30 doa ke masjid, ya sudah ikuti saja. Namanya pesantren kan, belajar betul-betul, berdoa supaya yang dizalimi dimaafin, yang dizalimi kita maafkan seikhlasnya," kata Novanto sambil tertawa. (Ant)

Berita Lainnya