sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perdana, CN 235 uji terbang dengan bahan bakar campuran minyak inti sawit

Penelitian dan pengembangan akan terus dilakukan nantinya hingga dapat menghasilkan produk J100.

Asyifa Putri
Asyifa Putri Rabu, 06 Okt 2021 12:44 WIB
Perdana,  CN 235 uji terbang dengan bahan bakar campuran minyak inti sawit

Pesawat CN235-200 FTB milik PT Dirgantara Indonesia, Rabu (6/10) melakukan uji terbang dengan menggunakan campuran bahan bakar yang terdiri dari campuran 2,4% minyak inti sawit, bioavtur J2.4. Ini merupakan hasil kerja sama antara Institut Teknologi Bandung dan Riset Teknologi dan Inovasi PT Pertamina Persero dengan menggunakan katalis merah putih.

Bioavtur ini merupakan salah satu produk bahan bakar nabati yang saat ini masuk dalam PSN (Program Strategis Nasional) Bahan Bakar Hijau. Keberhasilan Uji Terbang ini menjadi langkah awal dalam mendukung pengembangan Bioavtur sebagai bahan bakar rendah emisi untuk transportasi udara serta sebagai salah satu upaya mencapai ketahanan, keamanan dan kemandirian energi nasional.

Sebagai informasi, uji coba Bioavtur pertama di dunia, dilakukan maskapai Virgin Atlantik pada 2008 dengan campuran 25% bahan bakar nabati dari minyak kelapa. Sejak Juni 2011, penggunaan Bioavtur dengan campuran hingga 50% telah digunakan secara komersial. Untuk di Indonesia sendiri, baru memulai upaya produksi Bioavtur sejak 2015 dengan penerbitan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015, yang mana memasukkan transportasi udara dalam daftar wajib pencampuran bahan bakar nabati hingga 5% pada tahun 2025. Pada 2020, Pertamina dan ITB berhasil memproduksi green diesel D-100 yang 100% berasal dari bahan baku nabati.

Uji terbang pesawat CN235-200 FTB yang dilakukan pada 8-10 September 2021, mulai terbang dari Bandung-Jakarta-Bandung. Pesawat berangkat dari Bandara Husein Sastranegara menuju Bandara Soekarno Hatta dan pesawat akan kembali ke Bandara Husein Sastranegara.

"Hari ini, kita telah melihat sejarah baru, yaitu penerbangan perdana yang menggunakan bahan bakar nabati, yang memang kita tunggu selama ini dan pagi ini telah dicoba jarak Bandung-Jakarta dengan menggunakan bahan bakar nabati Pesawat CN235-200 FTB," ujar Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam Seremoni Keberhasilan Uji Terbang Pesawat CN235 Menggunakan Campuran Bahan Bakar Bioavtur 2,4 Persen, Rabu (6/10), yang disiarkan pada kanal YouTube Kementerian ESDM.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan upaya dalam mendorong percepatan energi baru terbarukan (EBT) dan pengurangan emisi gas rumah kaca pada transportasi udara. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2015, pencampuran Bahan Bakar Nabati pada avtur di 2020 ditargetkan mencapai persentase 3%, dan ditingkatkan lagi menjadi 5% pada 2025.

"Namun implementasi pencampuran bioavtur belum berjalan. Karena adanya berbagai kendala diantaranya terkait ketersediaan produk bioavtur, proses teknologi dan keekonomiannya," lanjutnya.

Perjalanan panjang telah dilalui hingga tahap ini dengan melibatkan banyak pihak. Co-processing bioavtur skala laboratorium, dimulai di Pusat Rekayasa Katalis ITB, dengan menggunakan bahan refined bleached degummed palm kernel oil (RBDPKO) dengan menggunakan katalis merah putih.

Sponsored

Selain itu, proses pengembangan bioavtur juga dilakukan di unit treated distillate hydro treating (TDHT) refinergy unit (RU) IV Cilacap PT Pertamina (Persero), yang mana menghasilkan J2.0 pada tahun 2020 dan J2.4 pada awal 2021.

Dengan berhasilnya uji terbang bioavtur ini merupakan keberhasilan tahap awal bioavtur. Penelitian dan pengembangan akan terus dilakukan nantinya hingga dapat menghasilkan produk J100.

"Keberhasilan ini akan menjadi tahap awal dalam peningkatan kontribusi bioavtur, di sektor transportasi udara dalam rangka meningkatkan ketahanan dan keamanan energi nasional. Tentunya kita tidak akan berhenti dan berpuas diri pada tahapan ini, penelitian dan pengembangan, harus dilakukan untuk nantinya bisa dihasilkan produk J100 dan penggunaan bioavtur dapat diterapkan pada seluruh maskapai RI dan maskapai penerbangan mancanegara. Maka dari itu, kami berharap dukungan semua pihak untuk tahapan-tahapan uji coba selanjutnya, termasuk menyusun roadmap untuk komersialisasinya," ujarnya dalam daring.

Berita Lainnya