sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Riset BMKG-UGM: Cuaca dan iklim pengaruhi penyebaran Covid-19

Kajian yang disusun berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis, dan studi literatur.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Sabtu, 04 Apr 2020 18:47 WIB
Riset BMKG-UGM: Cuaca dan iklim pengaruhi penyebaran Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26940
Dirawat 17552
Meninggal 1641
Sembuh 7637

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkaji pengaruh cuaca dan iklim terhadap penyebaran coronavirus baru (Covid-19). Riset melibatkan 11 doktor bidang meteorologi, klimatologi, dan matematika serta didukung guru besar dan doktor bidang mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Hasil kajian, terang Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran virus SARS-CoV-2. Ini seperti dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al. (2020), Sajadi et. al. (2020), Tyrrell et. al. (2020), serta Wang et. al. (2020). 

"Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) juga menunjukkan, sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temperate," ucapnya melalui keterangan tertulis, Sabtu (4/4).

Dari hasil penelitian tersebut, tambah dia, dapat disimpulkan sementara, bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Sementara, riset Chen dkk dan Sajadi dkk menyatakan, kondisi udara ideal untuk coronavirus adalah temperatur 8-10 deraja celcius (°C) dan kelembapan 60-90%. Artinya, penyebaran Covid-19 kurang ideal dalam lingkungan terbuka dengan suhu dan kelembaban tinggi.

"Para peneliti itu menyimpulkan, bahwa kombinasi dari temperatur-kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi Covid-19," kata Dwikorita.

Kajian Bannister bersama Tyrrell dkk juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur di atas 1 °C dengan jumlah dugaan kasus Covid-19 per hari. Yaitu, penyebaran virus optimum saat suhu sangat rendah (1-9 °C). "Artinya, semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus Covid-19 harian akan semakin rendah," jelasnya.

Wang dkk juga menjelaskan, bahwa coronavirus seperti virus influenza. Cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering. Kondisi tersebut dapat juga melemahkan host immunity seseorang dan mengakibatkan orang itu lebih rentan terpapar.

Sponsored

"Demikian pula Araujo dan Naimi (2020). (Keduanya) memprediksi dengan model matematis yang memasukkan kondisi demografi manusia dan mobilitasnya. Mereka menyimpulkan, bahwa iklim tropis dapat membantu menghambat penyebaran virus tersebut," paparnya.

"Mereka," sambung Dwikorita, "Juga menjelaskan lebih lanjut, bahwa terhambatnya penyebaran virus dikarenakan kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil, sehingga penularan virus corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat dan akhirnya kapasitas peningkatan kasus terinfeksi untuk menjadi pandemik juga akan terhambat."

Sedangkan kajian tim gabungan BMKG-UGM, menjelaskan analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelilitian tersebut. Hasilnya  mengindikasikan, cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung kasus pandemi Covid-19 ini berkembang pada kejadian luar biasa (KLB) atau outbreak pertama di negara atau wilayah dengan lintang tinggi, tetapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah KLB gelombang kedua.

Berdasarkan hasil penelitian BMKG-UGM, ungkap Dwikorita, faktor meningkatnya kasus pada gelombang kedua saat ini di Indonesia tampaknya lebih kuat oleh pengaruh pergerakan (mobilitas) manusia dan interaksi sosial.

Alasannya, kondisi cuaca/iklim dan kondisi geografi kepulauan di Indonesia―rerata suhu berkisar 27-30 °C dan kelembapan udara 70-95%―relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya coronavirus. Faktanya menunjukkan, lonjakan kasus di Tanah Air terjadi sejak awal Maret 2020.

Kajian yang disusun BMKG bersama sejumlah pakar itu berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis, dan studi literatur. Hasilnya telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kementerian terkait, 26 Maret 2020.

Dalam riset juga terdapat beberapa rekomendasi berdasarkan fakta dan kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya. Salah satunya, mendorong pembatasan mobilitas penduduk dan interaksi sosial dengan intervensi kesehatan masyarakat (Luo dkk 2020 dan Poirier dkk 2020). Pasalnya, suhu dan kelembapan udara menjadi faktor pendukung dalam mitigasi penyebaran Covid-19.

Kemudian, meminta mewaspadai pergantian musim di sebagian besar wilayah pada April-Mei 2020. Apalagi, sering ditandai dengan merebaknya wabah demam berdarah.

Ketiga, mendorong masyarakat meningkatkan imunitas tubuh dengan memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat. Terutama pada April hingga puncak kemarau (diprediksi Agustus), di mana suhu rata-rata berkisar 28-32 °C dan kadar kelembapan udara 60-80%.

"Cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini, tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif," tutup Dwikorita.

Berita Lainnya