Gelombang panas yang melanda Spanyol sepanjang Juni menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Sedikitnya 1.028 orang meninggal akibat suhu ekstrem. Negara itu juga mencatat enam bulan pertama 2026 sebagai periode terpanas sejak pencatatan cuaca dimulai.
Laporan lembaga kesehatan Carlos III Health Institute menunjukkan jumlah korban jiwa selama gelombang panas Juni tahun ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Juni 2025, kematian akibat suhu panas tercatat sebanyak 407 orang. Angka tahun ini juga menjadi yang tertinggi untuk bulan Juni sejak 2015.
Seperti dikutip dari Deutsche Welle, Jumat (3/7) Dampak suhu ekstrem mencapai puncaknya pada 23 Juni. Saat itu sekitar 35,7 juta orang, atau hampir tiga perempat penduduk Spanyol, berada dalam wilayah yang berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat panas.
Badan Meteorologi Spanyol, Aemet, melaporkan Juni 2026 menjadi Juni terpanas kedua dalam sejarah Spanyol dengan Suhu rata-rata tercatat 3,2 derajat Celsius di atas kondisi normal.
Tidak hanya itu, periode Januari hingga Juni 2026 juga menjadi semester pertama terpanas yang pernah dialami Spanyol. Selama enam bulan pertama tahun ini, suhu rata-rata berada 1,6 derajat Celsius di atas rata-rata klimatologis.
Gelombang panas juga melanda sebagian besar wilayah Eropa. Suhu udara menembus 40 derajat Celsius di sejumlah negara, termasuk Prancis dan Jerman. Rekor suhu tertinggi juga tercatat di Polandia, Republik Ceko, Slovakia, serta Hungaria. Sementara itu, Prancis mengalami suhu malam hari terpanas sejak pencatatan dilakukan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan gelombang panas tersebut telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian tambahan di berbagai negara Eropa. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring proses pendataan yang masih berlangsung.
Menurut para meteorolog, fenomena ini dipicu oleh massa udara panas dari Gurun Sahara yang bergerak ke Eropa. Kondisi tersebut diperkuat oleh sistem tekanan tinggi yang dikenal sebagai African anticyclone, membentuk fenomena heat dome yang memerangkap udara panas di Eropa Barat dan Eropa Tengah.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia memperparah gelombang panas kali ini. Mereka memperkirakan suhu selama peristiwa tersebut menjadi hingga 4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi tanpa pengaruh pemanasan global.