close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden Cina Xi Jinping (kiri), Foto Reuters
icon caption
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden Cina Xi Jinping (kiri), Foto Reuters
Peristiwa
Rabu, 20 Mei 2026 16:02

Putin kunjungi Xi Jinping beberapa hari setelah Trump tinggalkan China

Putin mengunjungi China beberapa hari usai lawatan Trump, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
swipe

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke China hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyelesaikan lawatan resminya. Kunjungan tersebut berlangsung di tengah memanasnya situasi geopolitik global, termasuk perang di Iran dan Ukraina serta meningkatnya rivalitas kekuatan besar dunia.

Melansir Anadolu Ajansi, Selasa (20/5), Putin tiba di Beijing pada Senin malam untuk menjalani kunjungan singkat selama dua hari. Kedatangannya disambut langsung Menteri Luar Negeri China Wang Yi di bandara.

Pemimpin Rusia itu dijadwalkan mengikuti upacara kenegaraan di Lapangan Tiananmen sebelum menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping. Selain pembicaraan empat mata, kedua negara juga akan mengadakan pertemuan delegasi untuk membahas berbagai isu strategis.

Kunjungan Putin menarik perhatian karena dilakukan hanya beberapa hari setelah Trump berkunjung ke China pada 13-15 Mei lalu. Dalam lawatan tersebut, Trump dan Xi Jinping membahas stabilitas strategis, kerja sama ekonomi, hingga hubungan bilateral kedua negara yang tengah mengalami ketegangan.

Berbeda dengan kunjungan Trump yang diwarnai agenda seremonial dan kunjungan budaya, agenda Putin di Beijing dinilai lebih fokus pada pembahasan strategis dan kerja sama konkret antara Rusia dan China.

Ini menjadi kunjungan ke-25 Putin ke China sejak menjabat sebagai pemimpin Rusia. Terakhir kali ia mengunjungi Beijing pada September 2025 untuk menghadiri parade militer peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

Dalam pesan video sebelum keberangkatannya, Putin menegaskan hubungan strategis Rusia dan China kini berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kami tidak membangun aliansi melawan siapa pun, sebaliknya kami bekerja untuk perdamaian dan kesejahteraan universal,” ujar Putin.

Ia juga menyebut hubungan kedua negara berkembang pesat sejak penandatanganan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Rusia-China 25 tahun lalu.

Pertemuan Putin dan Xi diperkirakan akan menghasilkan sekitar 40 dokumen kerja sama baru, terutama di bidang energi, perdagangan, dan koordinasi strategis.

Hubungan Rusia dan China memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan China dengan Amerika Serikat serta tekanan Barat terhadap Rusia akibat perang Ukraina membuat kedua negara semakin mendekat secara ekonomi maupun geopolitik.

China juga menjadi mitra penting bagi Rusia setelah sanksi Barat diberlakukan terhadap Moskow. Volume perdagangan kedua negara bahkan melampaui 240 miliar dolar AS sepanjang 2023 dan 2024.

Selain itu, konflik di Iran dan terganggunya distribusi energi melalui Selat Hormuz membuat posisi Rusia semakin penting bagi China sebagai pemasok minyak mentah dan gas alam.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan