Presiden AS, Donald Trump, secara tegas menolak proposal terbaru dari Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Trump menilai tawaran tersebut diajukan hanya karena Teheran berada dalam posisi terdesak di tengah gejolak ekonomi dan tekanan militer yang berkepanjangan.
Dalam keterangan Associated Press (27/9/2026), Trump menegaskan tidak akan terburu-buru menerima kesepakatan yang dinilainya tidak menguntungkan posisi Amerika Serikat. Ia mengklaim pihak Iran menginginkan kesepakatan secara cepat akibat kekalahan dan dampak sanksi yang makin mengimpit keuangan mereka.
Penolakan tersebut menjadi respons langsung atas inisiatif diplomatik yang disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di sela-sela Sidang Majelis Umum di PBB. Sebelumnya, Iran mengusulkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat AS menghentikan blokade laut pelabuhan, mencabut sanksi ekspor minyak, serta menyepakati gencatan senjata.
Langkah penolakan Trump ini memicu perhatian domestik menjelang pemilu sela AS. Para pengamat politik menilai konflik yang berkepanjangan dan penutupan jalur maritim vital tersebut telah menaikkan harga energi global, yang turut memberi tekanan ekonomi pada pemilih di dalam negeri (AP News, 27/9/2026).
Meskipun demikian, Amerika Serikat tetap mempertahankan posisi bahwa AS tidak akan memburu kesepakatan kompromi tanpa adanya konsesi yang signifikan dari Iran terkait program nuklir dan aktivitas militer regionalnya.