Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan menunda rencana serangan baru terhadap Iran. Keputusan itu diambil untuk memberi kesempatan bagi upaya diplomasi kesepakatan program nuklir Iran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Trump mengatakan sejumlah negara di Timur Tengah meminta Washington menahan operasi militer agar perundingan dapat segera dirampungkan. Permintaan tersebut, kata Trump, disampaikan menjelang pembicaraannya dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
"Berdasarkan permintaan itu, saya sepakat membatalkan serangan demi kepentingan dunia dan kelangsungan Iran yang sukses dan makmur, dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai," tulis Trump di Truth Social, dikutip dari CNA, Senin (3/8).
Trump juga menyebut Israel ikut mendukung keputusan tersebut. Namun, hingga kini pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Presiden AS itu.
Di Riyadh, Putra Mahkota Mohammed bin Salman menegaskan pentingnya mengutamakan dialog untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Kantor Berita Arab Saudi melaporkan pesan itu disampaikan langsung kepada Trump dalam percakapan telepon keduanya.
Sementara itu, Iran membantah telah meminta Amerika Serikat menghentikan serangan. Mengutip pejabat militer Iran, kantor berita semi-resmi Iran Mehr menyebut pernyataan Trump sebagai kebohongan baru yang bertujuan menekan negara-negara Teluk. Iran juga menegaskan seluruh kekuatan militernya tetap dalam kondisi siaga dan siap merespons setiap eskalasi dari Washington.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengatakan negaranya akan membalas setiap bentuk agresi. Dalam pembicaraan terpisah dengan pejabat Turkiye, Pakistan, dan Arab Saudi, Araghchi menegaskan setiap serangan dari AS maupun Israel akan dibalas secara proporsional.