close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi panel surya. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi panel surya. Foto Pixabay.
Peristiwa
Rabu, 13 Mei 2026 15:47

Uni Eropa batasi Panel Surya China karena risiko siber

Uni Eropa membatasi inverter surya China karena khawatir risiko siber dan ancaman gangguan listrik besar di Eropa.
swipe

Uni Eropa mulai memperketat penggunaan teknologi panel surya asal China dalam proyek energi yang didanai blok tersebut karena dinilai berpotensi menimbulkan ancaman keamanan siber hingga risiko pemadaman listrik besar-besaran di Eropa.

Komisi Eropa pada 4 Mei lalu mengonfirmasi pembatasan pendanaan untuk inverter surya buatan China. Langkah itu diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran Brussel terhadap ketergantungan Eropa pada teknologi hijau asal China.

Inverter surya sendiri dikenal sebagai otak dari sistem tenaga surya karena berfungsi mengubah energi matahari menjadi listrik yang dapat digunakan. Perangkat tersebut juga terhubung ke internet dan dapat diakses dari jarak jauh untuk pembaruan perangkat lunak maupun pemeliharaan.

Sekretaris Jenderal European Solar Manufacturing Council, Christoph Podewils, mengatakan seluruh perusahaan inverter memiliki fitur semacam “kill switch” atau sistem pemutus jarak jauh.

“Semua perusahaan inverter, mereka pasti punya semacam saklar pemutus daya,” kata Podewils dilansir dari DW, Rabu (13/5).

Menurutnya, fitur tersebut memang biasa digunakan untuk keamanan dan stabilisasi jaringan listrik. Namun para ahli keamanan siber khawatir akses jarak jauh itu dapat dimanfaatkan peretas atau negara tertentu untuk mengganggu pasokan listrik Eropa.

Data lembaga riset Loom menunjukkan sekitar 61% inverter yang diimpor Eropa sepanjang 2024 berasal dari China. Dua perusahaan China, yakni Huawei dan Sungrow, saat ini mendominasi pasar inverter global maupun Eropa.

Sejumlah produsen China disebut telah memasok perangkat untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas tenaga surya terpasang di Eropa.

“Mengendalikan sekitar 10 gigawatt saja sudah cukup untuk memicu gangguan besar pada jaringan listrik Eropa,” ujar Podewils.

Kekhawatiran Uni Eropa semakin meningkat setelah laporan Reuters pada 2025 menyebut pejabat energi Amerika Serikat menemukan perangkat komunikasi misterius di beberapa inverter buatan China. 

Selain inverter, Loom mencatat China juga menguasai sekitar 98% impor panel surya dan 88% baterai lithium-ion yang masuk ke Eropa. 

Pada Maret lalu, Komisi Eropa meluncurkan Industrial Accelerator Act untuk mendorong pendanaan teknologi hijau buatan Eropa, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Uni Eropa juga merevisiCybersecurity Act guna memperbesar kewenangan Uni Eropa membatasi perusahaan China dalam infrastruktur penting seperti komunikasi dan pasokan energi.

Berdasarkan aturan terbaru, dana Uni Eropa yang dikelola langsung Komisi Eropa maupun lembaga seperti European Bank for Reconstruction and Development tidak lagi dapat digunakan membeli inverter surya buatan China.

Namun pembatasan itu belum berlaku untuk pembelian langsung oleh negara anggota Uni Eropa, sementara inverter China yang sudah terpasang masih tetap diizinkan beroperasi.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan