sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dua opsi Menkes atasi krisis tempat tidur pasien Covid-19

Menkes Budi Gunadi instruksikan jajaran rumah sakit tambah bed.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Selasa, 12 Jan 2021 12:36 WIB
Dua opsi Menkes atasi krisis tempat tidur pasien Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin tengah menyiapkan dua opsi untuk menanggulangi penuhnya keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19. Cara pertama yang dianggap paling cepat adalah dengan mengonversi tempat tidur yang ada saat ini.

"Jadi, ini contoh di rumah sakit vertikal di bawah Kemenkes, kita punya 14.000 tempat tidur, tapi yang dipakai untuk Covid hanya 2.700, enggak sampai 20%. Sehingga jika kalau dilihat BOR-nya (Bed Occupancy Rate) masih relatif terpenuhi, tapi orang Covid sudah tidak bisa masuk," kata Budi, saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, yang disiarkan secara virtual, Selasa (12/1).

Budi mengaku, telah menginstruksikan jajaran rumah sakit di bawah naungan Kemenkes untuk dapat menambah porsi tempat tidur untuk oasien Covid-19. Idealnya, kata dia, kuota tempat tidur bagi pasien Covid-19 sekitar 30% hingga 40% dari total kapasitas rumah sakit.

"Hitungan kami itu bisa menambah sekitar 1.400 tempat tidur, tanpa terlalu banyak membangun fasilitas baru, tanpa terlalu banyak merekrut dokter perawat baru, hanya merealokasikan resources yang ada sekarang untuk bisa melayanai Covid, menerima nasabah pasien covid, dan mengibati mereka," terang Budi.

Pihaknya juga akan menghimbau rumah sakit di daerah dan swasta untuk memberikan porsi tempat tidur lebih untuk pasien Covid-19.

"Saya rasa, saya akan segera juga sudah berbicara dengan asosiasi rumah sakit swasta, asosiasi rumah sakit daerah, agar bisa melakukan hal sama, agar bisa menampung pasien-pasien yang masuk," terangnya.

Opsi kedua, kata Budi, penanganan di rumah sakit ditujukan bagi pasien yang memikiki gejala berat atau sedang. Menurutnya, pasien yang memikiki gejala tingan atau tidak bergejala dapat melakukan isolasi mandiri.

"Untuk yang mampu bisa dilakukan di tempat isolasi mandiri, karena mungkin punya kamar khusus yang bisa dilakukan. Tapi untuk yang tidak mampu atau terlalu padat rumahnya, memang perlu dibuatkan isolasi yang tersentralisasi," terang Budi.

Sponsored

"Jakarta sudah ada Wisma Atlet, di Surabaya juga sudah ada Wisma Haji. Soalnya banyak tempat-tempat lain yang bisa dipakai untuk isolasi mandiri. Nah, kami juga sudah berkoordinasi dengan teman-teman di daerah agar itu bisa dilakukan," pungkas Budi.

Berita Lainnya