sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pengamat: Jokowi jangan reaktif dan emosional

Penyataan reaktif Jokowi berpotensi menurunkan elektabilitas Jokowi.

Robi Ardianto
Robi Ardianto Selasa, 27 Nov 2018 14:41 WIB
Pengamat: Jokowi jangan reaktif dan emosional

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Sarwi Chaniago, menyayangkan sikap calon presiden petahana, Joko Widodo, yang kerap terpancing merespons isu-isu murahan. Menurutnya, hal ini membuat Jokowi memberikan respon reaktif yang justru menuai kontroversi.

"Semestinya petahana yang menciptakan arus sendiri, bukan malah sebaliknya ikut arus sang penantang," jelas Pangi melalui siaran pers yang diterima Alinea.id, Selasa (27/11).

Menurutnya, respons yang reaktif menunjukkan kekecewaan Jokowi, karena masih ada masyarakat yang percaya terhadap isu yang dihembuskan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Salah satunya isu yang dihembuskan untuk menyerang Jokowi, adalah isu yang menyebut Jokowi sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Pangi menilai, Jokowi meresponsnya terlalu berlebihan. 

"Dengan emosional Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya ingin mencari dan menabok pihak-pihak yang masih memainkan isu ini," jelas Pangi.  

Pangi berpendapat, respon itu memiliki korelasi dengan pernyataan Jokowi sebelumnya, yang juga emosional menanggapi isu tersebut. Merespons isu kebangkitan PKI, Jokowi pernah mengeluarkan penyataan bahwa dia akan "menggebuk" PKI, jika memang ada. Sebab presiden menilai, PKI sebagai organisasi yang jelas-jelas bertentangan dengan ideologi negara.

Justru, menurut Pangi, pernyataan reaktif seperti itu malah memberikan sentimen negatif kepada Jokowi, dan secara tidak langsung menurunkan elektabilitasnya sebagai petahana. Apalagi dengan posisinya sebagai presiden, sangat tidak layak mengeluarkan diksi emosional semacam itu. 

"Karena dikhawatirkan  diterjemahkan secara keliru oleh perangkat negara yang berada di bawah kendali presiden, untuk menggebuk dan menabok pihak-pihak yang menurut mereka sebagaimana dimaksud presiden," ujarnya. 

Sponsored

Selain itu, pernyataan tersebut dikhawatirkan direspons berlebihan oleh para loyalis Jokowi. Jika ini terjadi, berpotensi menimbulkan api gesekan di tengah masyarakat, dan mempertajam konflik karena capres yang mereka dukung terus dizalimi dan difitnah.

"Sebagai capres petahana, semestinya Jokowi harus percaya diri dan bijak menyusun diksi atau frasa dalam menghadapi Pilpres 2019. Fokus pada tagline "kerja-kerja-kerja" tanpa harus terpancing reaksioner, bersikap emosional merespon isu, dan peristiwa politik yang dituduhkan belakangan ini," ucap Pangi menjelaskan. 

Dengan fokus mempromosikan kinerja, capaian, prestasi yang sukses, Pangi menilai, lawan politik Jokowi akan secara otomatis mengalami kesulitan melawan petahana. Sebaliknya, jika terpancing untuk merespon isu politik murahan, sentimen publik akan cenderung negatif dan tentu akan merugikan Jokowi secara elektoral. 

"Dalam situasi ini, petahana justru kena jebakan batman, terjebak ke dalam arus yang dimainkan pihak lain. Dengan kata lain petahana "menari" di atas tabuh gendang orang lain," katanya. 

Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Irma Suryani Chaniago, mengatakan, pernyataan yang dilontarkan oleh Jokowi merupakan upaya klarifikasi kepada masyarakat. 

"Iya lah, bagaimana seorang presiden yang dulunya Walikota Solo, menjadi walikota pasti sudah di screening dong, kemudian dituduh PKI. Ini kan hal yang sangat mustahil, jelas pembunuhan karakter yang dilakukan oleh oknum orang yang menuduh Jokowi PKI," katanya.

Politisi Partai Nasdem itu melihat tudingan tersebut berbahaya, karena PKI merupakan organisasi terlarang. 

"Zaman Pak Jokowi masih mending "saya tabok", di zaman Pak Soeharto ilang, bukan sekadar tabok," jelasnya. 

Menurutnya, di kalangan partai koalisi pendukung Jokowi, isu PKI dianggap sudah basi. Hanya saja, kata dia, masih ada 9 juta masyarakat yang percaya terhadap isu itu. 

"Maka harus diklarifikasi, harus dijernihkan, tidak boleh dibiarkan," ucapnya menegaskan.