sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Setelah 1 tahun Jokowi, resesi ekonomi dan gagal meroket 7%

Berbagai cara telah dilakukan untuk pencapaian ekonomi.

Firda Junita
Firda Junita Jumat, 13 Nov 2020 21:31 WIB
Setelah 1 tahun Jokowi, resesi ekonomi dan gagal meroket 7%

Perekonomian Indonesia setelah satu tahun pertama pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin jauh dari janji yang diiming-imingkan pada masa kampanye Pilpres 2019. Alih-alih mencapai pertumbuhan 7%, namun malah masuk jurang resesi ekonomi.  

Bahkan, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2020 masih menyentuh zona negatif, yaitu -2%. 

Berbagai cara telah dilakukan untuk pencapaian ekonomi, Jokowi telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 59 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Pencapaian Pembangunan Berkelanjutan (17 Tujuan Pencapaian Ekonomi, Sosial, dan Ekologi).

"Isinya ada 17, salah satunya no one left behind terkait dengan penuntasan kemiskinan menjadi zero dalam pemerintahan Presiden Jokowi periode kedua," kata Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arif Budimanta dalam seminar virtual yang diselenggarakan oleh Greenpeace dan Indef, Jumat (13/11).

Arif mengungkapkan, Perpres Nomor 59 Tahun 2019 dikhususkan untuk kemiskinan kronis atau sangat miskin agar dapat diselesaikan menjadi zero pada akhir pemerintahan Jokowi  2024. 

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kenaikan dari kuartal II-2020. Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 tumbuh positif sebesar 5,05% menjadi sebesar minus 3,49% (year on year/yoy).

"Walaupun (yoy) kuartal II-2020 dibandingkan dengan tahun 2019 masih negatif ataupun kontraksi 3,49%, tetapi trendnya mengarah kepada positif dan membaik," ucap Budi.

Budi mengklaim, Indonesia sudah melewati kondisi terburuk dari kontraksi perekonomian. 

Sponsored

Dalam kesempatan yang sama, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Poppy Ismalina mengungkapkan, ada empat hal yang menjadi catatan prestasi di era pemerintahan Jokowi.

"Kami mesti anggap ini prestasi sekalipun ada kontroversial, tetapi saya setuju bahwa ini adalah prestasi yang tidak mudah diraih," ujar Poppy.

Pertama, Juli 2020 Indonesia naik status menjadi negara upper-middle income ekonomi. Hal ini, tentu saja menjadi angin segar di tengah pandemi Covid-19. 

Kedua, berdasarkan data dari World Bank, para investor global meyakini berbisnis di Indonesia semakin mudah dan cepat.

Ketiga, menurut data dari Kementerian Keuangan pengelolaan utang luar negeri Indonesia hanya digunakan untuk hal-hal yang produktif. 

Terakhir, Indonesia mendapat peringkat ketiga terbaik di Asia Tenggara dalam peningkatan infrastruktur setelah Singapura dan Malaysia.

Disisi lain, Poppy menilai, rendahnya aktivitas perdagangan internasional hanya 20% dari dinamika Indonesia, ini akibat lemahnya penetrasi produk dalam negeri di pasar global. 

Akhirnya, menurut dia, Indonesia kalah bersaing dalam perdagangan dunia. Selain itu, persentase total ekspor Indonesia hanya 0,8% dari transaksi global. Sementara, ekspor produk manufaktur yang merupakan andalan hanya 0,5% merupakan jumlah yang sangat rendah.

Seperti diketahui, Indonesia dipastikan resesi setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, bahwa ekonomi kuartal III minus 3%. Dengan demikian, Indonesia dua kali berturut-turut mengalami pertumbuhan ekonomi minus setelah ekonomi kuartal II minus 5.32%. "Perkiraan kita di minus 3% naik sedikit," Jokowi.

Meski demikian, kata Jokowi, minusnya tidak sebesar pada kuartal II-2020 yang sebesar 5,32%.

"Kami tahu kemarin di triwulan II pertumbuhan ekonomi kita di angka minus 5,32%. Di kuartal ketiga ini, kita juga mungkin sehari, dua hari, tiga hari ini akan diumumkan oleh BPS juga masih berada di angka minus," tuturnya.

Berita Lainnya