sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Prabowo minta maaf, Ratna Sarumpaet dipecat

Calon presiden Prabowo Subianto meminta maaf kepada masyarakat terkait hoax pemukulan terhadap tim suksesnya Ratna Sarumpaet.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Rabu, 03 Okt 2018 22:43 WIB
Prabowo minta maaf, Ratna Sarumpaet dipecat

Calon presiden Prabowo Subianto meminta maaf kepada masyarakat terkait hoax pemukulan terhadap tim suksesnya Ratna Sarumpaet.

Prabowo menggelar jumpa pers pada Rabu (3/10) malam menyusul pengakuan anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Ratna Sarumpaet, atas kasus penganiayaan. 

Konferensi pers dilakukan di lokasi yang sama seperti hari sebelumnya saat Prabowo marah atas dugaan kejadian yang menimpa tim suksesnya itu. Kini, Prabowo didampingi oleh Cawapres Sandiaga Uno.

Prabowo-Sandi menyatakan permintaan maaf kepada seluruh pihak atas kebohongan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet. Ratna mengaku dianiaya oleh tiga orang tak dikenal di Bandung, Jawa Barat, hingga babak belur.

Belakangan, Ratna mengaku bahwa dirinya tidak dianiaya. Namun, dia melakukan operasi bedah plastik di wajahnya. Prabowo pun meminta maaf kepada semua pihak lantaran dirinya turut menyebarkan berita bohong tersebut. 

"Jadi, saya di sini atas nama pribadi dan sebagai pimpinan tim kami, saya meminta maaf pada publik bahwa saya telah ikut menyuarakan sesuatu yang belum diyakini kebenarannya," ungkapnya di kediamannya di Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/9).

Dia mengaku telah terburu-buru mengambil kesimpulan. Dia beralasan, atas dasar tak terima dengan apa yang telah diceritakan oleh Ratna terkait isu penyaniayaan terhadap dirinya.

"Kemarin kenapa saya melakukan Konpers, karena saya merasa terusik. Karena saya dekat dengan dia, dan kami sangat khawatir. Saya akui saya sradak-sruduk, saya minta maaf," paparnya.

Sponsored

Mantan Danjen Kopassus tersebut justru menyebut kebohongan yang dilakukan Ratna diakibatkan karena adanya depresi di dalam diri Ratna atas aktivitas politiknya selama ini.

"Ada kemungkinan beliau ada tekanan jiwa yang sangat berat. Ada indikasi ini depresi, dia mengatakan malah dia tak tahu kenapa berbohong. Tapi itu urusan pribadi, saya tak mau masuk ke situ," ungkapnya.

Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Ratna Sarumpaet memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu (3/10). Dalam konfrensi pers tersebut Ratna Sarumpaet mengaku telah merekayasa kabar terjadi penganiyaan terhadap dirinya pada 21 September 2018 di Bandung, namun sesungguhnya dirinya menemui dokter ahli bedah plastik di Jakarta untuk menyedot lemak di pipi sehingga menimbulkan muka lebam.  (Antara Foto).

Ratna dipecat

Atas dasar perbuatannya itu, Prabowo memecat Ratna Sarumpaet dari barusan Badan Pemenangan Nasional Paslon Prabowo-Sandi. Hal itu merupakan konsekuensi logis atas perbuatannya tersebut. 

"Dengan ini saya telah meminta Ratna Sarumpaet mengundurkan diri dari Badan Pemenangan Nasional dan beliau sudah melakukan itu," paparnya.

Langkah tersebut dianggap hal yang tepat oleh Pengamat Politik Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo. Dia menilai, hal tersebut sudah benar. Sebab, jika tidak dipecat, maka akan menjadi bumerang bagi Prabowo-Sandi.

"Jika tidak dikeluarkan itu akan merusak citra Prabawo-Sandi, ini memiliki kecenderungan negatif yang amat tinggi," ujarnya kepada Alinea.id.

Sementara itu, terkait persoalan hukum yang dapat membelit Ratna, Prabowo meminta kepada pihak Kepolisian untuk memprosesnya.

"Karena kita tak mentolerir kalau ada tim kita yang menyebarkan hoaks, kami persilahkan kalau ada proses hukum. Dia harus bertanggung jawab," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Juru Bicara BPN Prabawo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyatakan akan melaporkan Ratna ke pihak berwajib, dan sedang proses oleh tim hukum Prabawo-Sandi.

"Itu nanti yang urus pak Sufmi Dasco dan Habiburokhman," paparnya.

Lebih lanjut, Dahnil mengatakan akan segara melakukan evaluasi di dalam timnya, dengan melakuan screening ke para anggota BPN Prabawo-Sandi. "Itu untuk memastikan ada tidak penyusup di dalam tim kita, selama ini kita tidak tahu ada atau tidak penyusup di dalam tim kita," pungkasnya.

Gelora dan politik kanibal pemecah PKS

Gelora dan politik kanibal pemecah PKS

Rabu, 20 Nov 2019 19:35 WIB
Sepak terjang militer di pucuk pimpinan PSSI

Sepak terjang militer di pucuk pimpinan PSSI

Selasa, 19 Nov 2019 21:07 WIB